Bagian 20 Berjilbab



       Suara adzan shubuh yang latang membangunkan Nana. Segera Nana mengambil air wudhu dan megerjakan sholat shubuh di rumah. Setelah selesai Nana menuju ke kamar mandi untuk mencuci pakaian. Ibu Nana sudah merendam sebelum Nana terbangun. Seperti biasa Ibu Nana bangun yang paling awal untuk memasak buat sarapan.
“ibu, tadi sudah berapa lama cuciannya direndam?” Tanya Nana
“wah, ibu lupa Na. tapi sudah bisa dicuci kok Na”
“kok Cuma sedikit Bu?”
“iya, soalnya celana panjang Bapak masih bersih jadi tidak usah dicuci”
“oh begitu, yasudah bu, bener tidak ada yang ketinggalan kan?” Tanya Nana memastikan

Setiap pagi, sebelum mandi Nana mencuci pakaian. Bukan pakain kotor Nana saja tapi juga punya Bapak dan Ibunya. Nana masih mencuci pakai tanga, tidak pakai mesin cuci. Sebenarnya keluarga Nana mampu untuk membeli sebuah mesin cuci, namun mereka tidak membelinya. Dulu, Bapak Nana mau membelikan mesin cuci. Agar pekerjaan Nana lebih mudah. Namun Nana sendiri menolaknya. Nana beralasan kalau belum perlu. Nanti kalau Nana memang sudah tak punya banyak waktu lagi. Selain itu, nana juga kurang puas kalau hanya dicuci pakai mesin cuci. Soalnya kadang kurang bersih.
Nana mencuci pakain sambil ngobrol sama ibunya. Letak kamar mandi berdekatan denngan dapur. Jadi bisa kerja sambil ngobrol. Seringkali ibu Nana  juga menjelaskan tentang masakan yag sedag di masak, mengenau bumbu dan cara memasaknya. Karena suatu saat nanti pasti Nana akan hidup mandiri bersama keluarganya kalau menikah nanti jadi harus bisa memasak. Terkadang kalau ada waktu luang dirumah, Nana membantu Ibunya untuk memasak. Jadi kalau hanya untuk masakan-masakan yang gampang, praktis Nana sudah bisa melakukanya.
“Na, semalem Ardi cerita kalau kamu semalam ketemu pacar kamu. Memang pacar kamu siapa? Kok ibu malah belum tahu.” Tanya ibu serius
“pacar?, ah, enggak kok bu’ Ardi sukanya ngarang saja” sahut Nana cepat
“tapi kata Ardi, katanya kemaren kamu lagi marahan sama pacar kamu”
“ya Alloh ibu, Ardi kok dipercaya” terang Nana.
“kata Ardi juga, kemari kamu mengejar-ngejar laki-laki, memangnya kenapa kok pakai kejar-kejaran?” Tanya ibu ingin tahu.
“ah, kalau itu temanku ibu, soalnya kemaren temenku aku panggil tidak dengar. Dia pergi terus aku kejar tapi dia keburu nggak kelihatan.”
“sebenarnya ibu tidak melarang kalayu kamuppunya pacar. Kamu kan sudah dewasa dan sudah bekerja. Selama ini kamu juga belum pernah punya pacar. Apa tidak ada temen laki-laki kamu yang suka sam kamu? Anak ibu ini kan cantik, masak tidak ada laki-laki yang naksir kamu.”
“ah, ibu ini bisa saja. Bukannya tidak ada yang suka sama Nana bu, tapi memang Nana tidak ingin pacaran. Lagian belum ada laki-laki yang bisa membuat Nana jatuh cinta.”
Memangnya laki-laki sert apa sih Na yang bisa membuatmu jatuh cinta?”
Entahlah bu, aku juga tidak tahu. Yang jelas Nana suka sama laki-laki yang bisa nyambung saat ngobrol sama Nana, bisa member motivasi Nana dan bisa mejadikan Nana lebih baik. Begitu saja kok bu”
“Apa selama ini, kamu belum pernh ketemu laki-laki yang kamu maksud tadi?”
Nana pura-pura mengenyitkan dahi sambil berfikir.
“sebenarnya ada sih bu, tapi…
“tapi kenapa? Laki-laki itu tidak suka sama kamu?”
:”tidak juga sih bu”
“lha kenapa”
“bahkan sebenanya dia suka sama Nana bu, dan menyatakan cinta kepada Nana bu. Laki-laki itu sangat baik, pintar dan perhatian”
“lha terus kenapa?”
“tapi dia sekarang malah jauh bud an di marah sama Nana bu”
“apa kamu menolak cintany? Kenapa bukannya tadi kamu bilang kalau kamu suka laki-laki itu”
“iya bu. Ah lain kali saja Nana ceritakan. Ini Nana sudah selesai mencucinya. Nana mau menjemur dulu.”
Kemudian Nana berjalan keluar untuk menjemur pakaian yang baru saja dicuci.
Ibu masih penasaran dengan jawaban Nana.
“apa ibu kenal dengan laki-laki itu Na?”
“tidak bu” jawab Nana sambil berjalan.
Kemudaian bapak Nana muncul, sambil bertanya.
“ada apa sih bu kok kelihatanya kok seru?”
“itu pak, Nana baru jatuh hati sama laki-laki”
“oh ya?” Tanya bapak Nana kaget
“tapi baru ada masalah itu pak dan Nana belum mau cerita sama ibu”
“oh begitu, biarkanlah saja dulu bu. Itu urusan anak muda. Oh ya bu, Ardi sudah bangun belum? Dia kan mau berangkat pagi untuk wawancaar kerja.”
“wah, belum pak. Semalam ardy tidurnya sangat malam”
Bapak Nana kemudian berjalan menuju ke kamar Ardy untu membangunkan Ardy.
       Setelah selesai menjemur pakaian, Nana mandi dan bersiap diri untuk masuk kerja kembali setelah seminggu cuti dari kantor. Di kamar, Nana sudah selesai berdandan, kemudian mengambil jilbab dan memakainya. Nana memperhatikan benar jilbabnya. Nana masih ragu keluar kamar untuk sarapan bersama Bapak,Ibu dan Ardy. Dari luar Ibu sudah memanggil Nana untuk segera sarapan karena sudah agak siang. Setelah merasa yakin dengan pnampilanya, Nana keluar dengan mengucapkan bismillah.
       Sesampaianya di meja makan, BApak, Ibu dan Ardi sejenakl melihat perubahan penampilan Nana. Mereka sedikit kaget dengan penampilan Nana yang memakai jilbab/ Nana tampak lebih cantik dan anggun. Nana memakai rock panjang serasi dengan baju dan jilbab yang dikenakan. Penampilan Nana tambah manis dengan tas di tanganya. Melihat Bapak,Ibu dan Ardy melihatnya, Nana canggung.
“kenapa sih, Bapak, Ibu dan Ardy melihatku seperti itu? Jelek ya penampilan Nana?” Tanya Nana sedikit cemberut.
“perfect” sela Ardy
“bukannya jelek Na, tapi Bapak seperti melihat bidadari. Wah pasti yang naksir kamu tambah banyak Na” ucap Bapak memuji Nana
“ah, apain sih. Ini biasa saja” jawab Nana.
“oh iya Bapak, Ibu mulai hari ini Nana akan memakai jilbab setiap hari bak ke kantor atau keluar Rumah. Nana tidak mau aurat Nana dilihat oleh laki-laki yang bukan makrom Nana.
“ini serius Na? kok Nana tidak diskusi dulu dengan Ibu” Tanya Ibu kepada Nana
“maaf bu, kali ini Nana sudah benar-benar merasa mantaf untuk memakai jilbab. Nana tidak mau menunda-nunda lagi bu”
“yah. Tidak apa-apa sih Na/ kalau memang Nana sudah merasa mantap dengan keputusan Nana, ibu tidak melarang. Tapi ingat pesan Ibu. Nana harus menjaga sikao Nana, Nana harus lebih berhati-hati dalam bersikap dan bertindak. Karena dengan keadaan Nana seperti ini, bila ada kesalahan sedikit saja, pasti akan ada suara-suara yang tidak baik dari orang-orang sekitar.”
“iya bu, insyaAlloh Nana bisa menjaga sikap dan tindakan Nana. Nana akan berusaha menjadi lebih baik lagi. Nana tidak akan melakukan hal-hal yang akan merusak citra Nana dan citra wanita yang berjilbab.”
       Kemudian Nana srapan bersama keluarganya. Mereka masih membahas tentang perubahan penampilan Nana. Bapak Nana memberi masukan kepada Nana agar selalu menjadi lebih baik dan jangan sampai karena suatu masalah, tiba-tiba Nana melepaskan jilbabnya. Bapak Nana sangat senang dengan apa yang telah menjadi keputusan Nana.
       Setelah sarapan bersama, Nana berangkngkaat kerja dengan motornya. Bapak Nana juga berangkat kerja, sedang Ardy juga berangkat menuju tempat tes wawancara kerja. Ardy memboceng BApak Nana sampai terminal. Kemudian melanjutkannya denngan naik bus transkota.
       Nana memacu motornya dengan kecepatan 60 km/jam. Dalam perjalanan Nana masih memikirkan kemungkinan reaksi teman-teman kantor Nana setelah melihat perubahan penampilan Nana.  Akhirnya, setelah menempuh perjalanan 15 menit. Nana sampai dikantornya. Di depan pintu masuk kantor Nana bertemu Bapak satpam. Seperti bisa Nana menyapa Bapak satpam. Bapak satpam menjawab sapaan Nana. Namun BApak satpam belum paham siapa yang menyapanya. Bapak satpam beusaha berfikir untuk mengetahui siapa wanita yang baru saja menyapanya.
       Keadaan kantor masih sepi, rupanya banyak yang belum datang. Ada teman kantor Nana yang sudah ada di dalam ruangan. Karena belum yakin dengan apa yang dilihatnya. Teman Nana hanya memperhatikan Nana. Lalu menghampiri Nana.
“ ini benar kamu Na?” tanyanya seakan tak percaya.
“memang siapa lagi, apa ada karyawan sini yang wajahnya mirip denganku? Tanya Nana kembali.
“ya, tidak ada. Wah, habis cuti seminggu tahu-tahu kembali dengan penampilan baru. Memangnya kemarin kamu cuti ke kampung apa ke pondok pesantren Na? tanyanya masih tak percaya.
“ya, begitulah. Untuk menjadi lebih baik tidak harus ke pondok pesantren dong mas.”
“tapi hebat Na, salut aku kepadamu, kalau aku blum nikah, pasti aku naksir berat sama kamu?
“ah mas ini bisa saja dech, yang jauh lebih baik dari Nana banyak mas. Lagian jangan bilang begitu mas. Nanti tak sampaikan ke istri mas lho?”
“aduh jangan dong Na, kita kan teman Na. hehehe”
Nana kemudian menuju ke meja kerjanya dan meletakkan tas kerjanya, Nana melihat meja kerjanya ada banyak tumpukan kerjaan yang menantinya. Nana hanya geleng-geleng saja. Dalam hati Nana berkata.
“waduh, ku harus lembur berapa hari nih kalau kerjaanny menumpuk begini”
       Kemudian Nana merapikan mejanya dan memilah-milah kerjaan yang harus lebih dahulu diselesaikanya. Diam-diam Nana mengambil cermin yang ada di tasnya, lalu melihat wajahnya dari cermin. Kemudian Nana merapikan jilbabnya yang sedikit miring.
       Beberapa saat kemudian teman-teman kantor Nana yang lain berdatangan. beberapa teman Nana terkejut dengan penamppilan Nana yang sekarang, namun ada temen juga yang menanggapinya biasa, soalnya selama ini pakaian Nana juga selalu sopan dan kebanyakn yang berlengan panjang. Nana sudh merasa nyaman dengan suasana di kantor, nanti semuanya juga akan terbiasa dengan penampilan Nana. Alhamdulillah teman kantor Nana tidak ada yang menilai negatif dengan penampilan Nana sekarang. Karena memang selama ini, Nana tidak pernah punya masalah sama teman-teman katornya baik yang cewek maupun yang cowok. Kalaupun ada masalah sedikit Nana lebih suka mengalah dan tidak mau memperpanjang masalah. Di kantor, Nana juga dikenal sebagai teman yang perduli sama teman dan sangat perhatian. Jadi hamper semua teman kantor Nana menuyukainya.
       Waktu pertama kali masuk kantor sebagai karyawan baru, ada beberapa karyawn cewek yang tidak suka dengan Nana. mungkin mereka takut tersaingi oleh Nana. beeberpa kali mereka membuat masalah dengan Nana, namun Nana tidak menaggapi dan malahan Nana mengalah. Setelah kejadian itu, justru Nana berbuat baik kepad mereka dan ketika ada yang sakit Nana pertama yang menengoknya. Akhirnya pelan-pelan, teman yang awalnya tidak suka sama Nana malah menjadi baik sama Nana dan kemudian mendekat kepada Nana. Namun ada cewek dari devisi lain yang masih satu perusahaan yang entah apa sebabnya selalu membuat masalah dengan Nana. Nana tidak mau ambil pusing dengan kelakuan cewek itu, karena juga jarang bertemu. Paling hanya sebulan sekali duduk satu meja saat meeting. Cewek itu Namanya sherly, tidak terlalu penting juga buat Nana untuk mengingat Nama itu. Nana pernah dikasih tahu sama teman kantor yang senior, kalau cewek itu sebenarnya merasa kalah saingan sama Nana. karena sebelum Nana bekerja di perusaahan ini, cewek itu sanngat popular dan banyak pria kantor yang suka padanya. Setelah Nana masuk sebagai karyawan, posisinya dia diambil oleh Nana. karena banyak pria yang dikantor ini suka dan naksir kepada Nana. walaupun banyak pria yang naksir Nana namun belum ada laki-laki yang bisa membuat Nana jatuh hati. Memang cinta tidak bisa dipaksakan dan direncanakan, lagian prinsip Nana selama di kantor yang bekerja yang sebaik-baiknya tidak untuk mencari pacar. Bukannya Nana jual mahal, tappi karena memang belum ada laki-laki yang bisa meruntuhkan prinsip Nana itu.
       Hari sudah sore, Nana semakin percaya diri dengan penampilanya setelah mendapat pujian dan dukunngan dari teman-teman kantornya. Nana minta ijin kepada atasanya untuk menyelesaikan pekerjaan kantor yang menumoouk untuk dikerjakan di rumah saja. Atasan Nanapun menyetujuinya, kemudian Nana berjalan keluar untuk pulang. Saat Nana menuju ke tempat parker motornya, Nana bertemu denngan sherly. Nana menyapa dengan senyuman. Namun balasan yang di dapat dari sherly hanyalah senyum sinis saja. Walau begitu Nana tetap melangkah dengan wajah cerianya. Senyuman sinis sherly tidak memberi arti apa-apa. Sherly pun tidak berani untuk berbuat lebih kepada Nana. sherlu tidak berani mengeluarkan kata-kata cacian kepada Nana. karena justru akn berdampak buruk pada pergaulan Sherly di kantor. Karena dulu pernah terjadi dimana sherly mengkata-katai Nana dengan kata yang negative dan melempar beberapa fitnahan tapi tanpa diminta teman-teman kantor membela Nana dan akhirnya Sherly diminta orang-orang kantor untuk mengembalikan nama baik Nana yaitut dengan memmbuat pernyataan dan diumumkan kepad semua oranng.
       Waktu itu Nana diberitakan telah menjadi orang yang telah menghancurkan hubungan cintanya dengan pacar yang juga teman kantor tapi dari devisi lain. Sherly mengatakan dihadapan teman-teman Nana kalau Nana telah menggoda pacar Sherly. Waktu itu Nana mengelak namun Sherly terus saja menyudutkan Nana. dan akhirnya menjadi gossip di kantor. Setelah mantan pacar Sherly mendengar berita itu, kemudian datang ke Nana dan meminta maaf kepada Nana di hadapan teman-teman Nana. atas inisiatif teman-teman Nana mantan pacar Sherly disuruh untuk meminta sherly membuat pernyataan kalau Sherly telah menyebarkan berita yang tidak benar. Sherly pun enggan melakukanya. Karena berita ini juga terdengar dari pimpinan perusahaan dan Sherly dan Nana juga menjadi orang yang penting di perusahaan maka perusahaan yang meminta Sherly untuk membuat pernyataan dan mengumumkanya. Untuk menjaga situasi kondusif di kantor. Denagan kejadian itu Nama Nana menjadi lebih dikenal/di lingkungan perusahaan.
       Nana pulang dengan membawa sebendel kertas yang harus segera diselesaikan. Nana hanya membawa sebagian yang memang harus diutamakan. Nana langsung pulang ke rumah. 15 menit perjalan ditempuh Nana untuk sampai di rumahnya. Seminggu ini, sepulang kerja Nana sengaja tidak membuat rencana yang lain dulu. Nana ingin segera menyelesaikan yang bertumpuk di kantor untuk di kerjakan di rumah seminggu ini. Besuk hari minggu, Nana berencana main ke rumahnya Dicky. Nana ingin menjelaskan semuanya secara langsung. Nana tidak mau menjelaskan semuanya melaui SMS atau telpon karena bisa terjadi kesalahan pemahaman. Bisa tambah tidak jelas lagi maasalahnya. Selain itu, Nana member kesempatan Dicky untuk konsentrasi dengan tulisanya.

0 Response to "Bagian 20 Berjilbab "

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel