Bagian 21 Hati Yang Bergetar
Seminggu terasa berjalan dengan cepat. Seperti biasa, minggu pagi ku habiskan dengan lari pagi. Seminggu hampir tidak pernah keluar rumah. Hanya sesekali, itupun masih disekitar rumah. Seminggu ini aku habiskan waktuku untuk menyelesaikaan novelku. Aku sudah masuk kedalam cerita novel yang ku buat. Seakan tokoh yang aku buat menjelma dalam diriku. Aku bisa merasakan cerita ini seperti benar-benar terjadi dalam kehidupanku. Aku merasa senang bila tokoh yang kubuat baru senang, da sebaliknya ku ikut meneteskan air mata dikala tokoh yang kubuat dirundung duka.
Aku sudah mengerjakan novelku hampir 80%. Minggu ini sudah memasuki bagian akhir dari novelku Tidak sampai seminggu, novelku sudah selesai. Artinya targetku untuk menyelesaikannya dalam 3 minggu dapat tercapai. Aku merasa lega, karena aku hampir mneyelesaikanya.
Setelah satu jam berlari pagi, aku berniat pulang. Karena matahari sudah semakin naik ke atas. Ku pulang melewati pasar. Aku melihat kesibukkan pasar yang sangat khas. Rame dan padat. Karena hari minggu, keadaan pasar semakin rame. Banyak ibu-ibu yang berbelanja untuk masakan special hari minggu. Ibu-ibu ke pasar dengan diantar oleh para suaminya. Kelihatan sangat harmonis. Bapak-bapak menunggu di jalan sekitar pasar sambil ngobrol dan saling berkenalan. Mereka menunggu di atas motornya. Hanya ngobrol dengan orang-orang yang disampingnya. Ada pula ibu-ibu yang diantar oleh anaknya. Mungkin suaminya baru ada pekerjaan lain. Kebanyakan pula kalau orang-orang kampungku. Bapak-bapak pergi ke saawah pagi-pagi sekali.
Kampungku berjarak sekitar 2 km dari pasar. Untuk ke jalan raya, dari kampungku melewati hamparan sawah yang luas. Sawah-sawah di dekat kampungku, saebagian besar ditanami padi. Haya beberapa yang ditanami sayuran seperti cabe, kedelai dan tomat. Sawah-sawah disekitar kampungku tidak pernah kehabisan pasokan air. Karena ada sungai yang sumber airnya dari mata air yang tak pernah kering walau di musim kemarau.
Suasana kampungku beberapa tahun belakangan sudah berkurang ke asrianya. Banyak rumah-rumah yang dibangun. Ada beberapa warga baru yang membangun rumah di kampungku. begitu juga yang terjadi di kampung-kamung tetangga. Banyak warga pendatang yang membangun rumah. Memang letak kampungku cukup strategis. Dari kota hanya 30 menit, jadi kalau mau bekerja di kota tidak jauh. Kebanyakan warga juga bekerja di kota. Setelah seharian bekerja di kota yang padat dan panas, ketika pulang melewati sawah dan lingkungan kampung yang sejuk sudah bisa membuat pikiran fresh kembali.
Akhirnya sampai juga di rumah. Karena hari ini aku lari pagi sendiri, jadi waktuku tidak habis buat ngobrol di jalan. Ku hanya berlari sambil memkirkan sesuatu yang terlintass di seanjang pejalanan. Sesekali terbersit ide-ide yang aaknk aku masukan ke dalam certia novelku.
Aku istirahat sebentar di teras samping rumah. Ada lincak di bawah pohon mangga. Kalau pas musim mangga, buahnya sangat banyak dan diambil pakai tangan juga samapai. Ku mengeringkan keringat sambil tiduran di lincak. Angin sepoi-sepoi menambah segar suasana minggu pagi ini, terasa damai sekali di hati. Sejenak menikmati suasana dan melupakan peliknya masalah dunia.
Hari ini tidak punya rencana pergi kamana-mana. Kemarin ibu mau memasakan soto. Makanan yang sangat nikmat bila disantap siang hari. Memang banyak warung yang menjual soto, tapi soto buatan ibu sangat special. Bagiku setiap masakan yang dimasak ibu sanngat special dan tentnya nyaman dan enak di lidahku. Masakan di luar banyak yang enak tapi masakan ibu akan selalu kurindukan.
Setelah keringat sudah mengering dan bau kecut sudah tercium dari tubuhku, aku bergegas untuk mandi. Aku menimba air terlebih dahulu. Sebenarnya sudah ada pompa airnya juga namun aku sering menimba untuk mandi. Kecuali kalau memang terburu-buru. Selain menghemat pengeluaran buat bayar listrik tapi bisa juga buat olahraga. Popmpa air biasanya hanya digunakan ibu untuk mencuci.
Semenmtara itu Nana sudah bersiap diri untuk bebrangkat menuju ke rumah Dicky. Sengaja Nana tidak memberi tahu Dicky terlebih dahulu. Nana meminta Ardy mengantarnya, Nana ingin sekalian mengenalkan Ardy kepada Dicky. Meski belum pernah ke rumah Dicky Namun Nana tahu letak kampung Dicky. Teman kantor Nana ada yang rumahnya tidak jauh dari kampung Dicky. Dulu, Nana pernah dating ke rumah temanya waktu pernikahan temanya bersama teman-teman kantor lainya. Praktis Nana tahu letak kampung Dicky. Nanti kalau sudah nyampai di kampung Dicky, tinggal tanya ke warga di mana rumahnya Dicky.
Sekitar setengah jam dihabiskan Nana untuk sampai ke kamppung Dicky. Nana melihat warga yang sedang duduk di pingggir jalan menunggu anaknya yang baru bermain. Nana turun dar motor dan menghampiri ibu itu.
“Assalamualaikum, ibu numpang tanya. Rumahnya Dicky dimana ya bu?”
“Mas Dicky yang tinggi itu ya mbak? Soalnya disini yang nanmanya Dicky ada 2 mbak”jawab ibu itu sambil meberi ilustrasi denagan tangannya. Ketika menyebut Mas Dicky yang tinggi, ibu itu sambil mengangkat tanganya ke atas kepalanya. Dan kalau Dicky yang satunya hanya mengangkat tanganya di depan matanya saja.
Melihat penjelasan dari ibu itu, Nana sudah sangat paham.
“oh iya bu, yang tinggi ibu”
“oh. Yang tinggi itu. Kalau yang itu rumahnya dari sini lurus, rumahnya paling ujung dari sini kiri jalan mbak.”
Tanpa perlu berlama-lama, Nana segera menuju ke motor melanjutkan ke rumah Dicky. Tak lupa Nana mengucapkan terima kasih kepada Ibu itu.
Setibanya di halaman rumah Dicky, Nana turun da n melihat situasi lingkungan rumah Dicky. Ardy mengikutoi dibelakangnnya. Rumah Dicky tampak sepi, Namun pintu depan terbuka pertanda ad orang di dalam rumah. Belum sampai masuk dari samping Rumah muncul laki-laki setengah tua. Laki-laki itu menghampiri Nana dan Ardy. Dalam benak Nana berifikir kalau laki-laki itu adalah bapaknya Dicky. Laki-laki tua itu kelihatan habis pulang dari sawah. Pakainanya masih kotor dan memegang sabit di tanganya.
“maaf mbak dan mas, mau mencari siapa ya?” tanya laki-laki itu kepada Nana dan Ardy
“oh iya pak, apa benar ini rumahnya Dicky?”jawab Nana
“iya mbak, benar ini rumahnya Dicky. Kebetulan, saya Bapaknya Dicky. Maaf mbak dan mas tangan saya mash kotor. Silahkan masuk dulu mbak dan mas, saya akn panggila Dicky terlebih dahulu.”
Saat berjalan menuju ke teras rumah. Nana menjelaskan kalau dia temanya Dicky dan baru sekali ini dating ke rumahnya Dicky jadi masih bingung. Bapak Dicky mnyambut Nana dengan sangat ramah dan sopan. Kemudian Bapak Dicky masuk rumah untuk memanggil Dicky. Bapak Dicky mencari Dicky dikamar tapi tidak ketemu. Ternyata Dicky sedang memnunggui Ibunnya yang sedang memasak.
“Dick, itu kamu ada tamu. Seoranng wanita dan laki-laki. Katanya teman kamu. Wah, mbaknya cantik banget Dick pakai jilbab lagi Dick. Tapi sayangnya Dia datang dengan pacarnya.” Teranng Bapak Dicky sekenannya saja.
“wanita? Paki jilbab? bersama pacarnya?” Aku menduga-duga siapa yang dimaksud Bapak.
Melihat Aku yang bengong sambil berfikir, ibu menyela.
“Sudah sana ditemui dulu, nanti juga tahu siapa tanumu itu.”
Aku segera menuju ke teras rumah. Sesampainya di teras, Aku belum paham siapa yang datang. Karena aku melihat gadis itu dari samping. Namun Aku sudah pernah melihat laki-laki yang ada di depan gadis itu. Aku berusaha mengingat siapa laki-laki itu. Ardy menatapku. Ardy pun juga belum mengenal siapa aku. Waktu itu, laki-laki itu tidak sempat melihat wajahku. Melihat respon Ardy yang melihat kedatanganku, Nana menoleh ke arahku. Melihat Nana yang datang, jantungku berdebar begitu kencang, hatinya pun bergetar menyambut kedatangan Nana. Namun mulutku terkunci. Sejenak mereka terdiam. Perasaanku bercampur-campu tidak jelas. Di satu sisi sangat senang melihat Nana, disisi lain merasa penasaran maksud kedatangan Nana, apalgi bersama laki-laki yang dilihat bersama Nana waktu di Mall. Di tambah melihat Nana dengan penampilan baru dengan jilbab pemberianya waktu ulang tahun. Menjadikan wajah Nana tampak lebih cantik lagi.
Sesaat sebelum mau berkata, tiba-tiba Nana berkata.
“Maaf Dick, aku menngganggu waktumu dan aku tidak memberi tahumu kalau mau datang ke sini.”
Aku menghampiri mereka dan bersalaman dengan laki-laki itu.Aku sangat gugup untuk menjawab perkataan Nana. terus terang walau aku sakit dengan keadaan ini. Namun jujur, ku masih sangat mencintai Nana dan ku tak bisa untu marah dan membenci Nana. apalagi Nana datang bersama laki-laki itu. Sebenarnya hatiku panas bila melihat Nana dating bersama Laki-laki itu.
“eh, tidak apa-apa kok Na” jawabku ragu
“ada keperluan apa ya Na kok kamu sampai mau datang ke rumahku?” lanjutku
“aku ingin menjelaskan kejadian waktu itu. Aku memilih waktu yang tepat untuk menemuimu. Ku rasa ini saat yang tepat buatku untuk menjelaskan semuanya kepadamu” jelas Nana
Aku mendengarkan penjelasan Nana dengan menatapnya. Namun aku masih berpikir dan sesekali melihat laki-laki yang ada di depanku. Aku masih berfikir kalau laki-laki ini pacarnya Nana dan aku tidak suka denagn laki-laki ini. Apalagi dengan gayanya sedikit kurang sopan. Pakaianya juga asal-asalan saja. Jujur, hatiku kurang bisa menerima kalau laki-laki ini yang menjadi pacar Nana.
“ sebenarnya aku tidak apa-apa kok Na. kalau memang itu yang menjadi jawabanmu kepadaku, aku bisa menerimanya. Walau jujur aku masih belum bisa mempercayainya. Memang benar aku sedih, aku sakit dengan semua ini. Tapi aku rela kalau memang ini yang terbaik untukmu” terangku keada Nana
“justru itu Dick aku datang kesini. Sebenarnya bukan hanya kamu yang sakit, yang sedih. Akupun merasakan hal yang sama. Selama ini aku merasa bersalah kepadmu. Tapi saat aku ingin menjelaskan kepadmu tentang semua yang terjadi, kamu sangat susah dihubungi. Namun aku tahu kamu baru konsentrasi dengan menulismu jadi au mencari waktu yang tepat.” Aku mendengar nada suara Nana berangsur pelan dan tersirat nada kesedihan.
“maksudnya bagaimana Na?, semuanya sudah jelas buatku. Kamu tidak memberi jawaban seperti yang kamu janjikan dan waktu itu aku menelpon kamu berkali-kali namun kamu tidak mau mengangkatnya. Bagiku iti sudah merupakan sebuah jawaban yang sangat menyakitkan buatku Na” jaawabku sedikit pelan
Melihatku dan Nana ngobrol serius, laki-laki itu pamit untuk ke depan sebentar mau melihat suasana katanya. Sambil mengeluarkan sepuntung batang rokok lalu menyalakan korek api. Aku dan Nana tak menghiraukannya. Justru dalam hati ku berharap dia pergi saja.
“maaf Dick waktu itu. Sungguh aku tidak bermaksud untuk menyengaja tidak memberi jawaban dan tidak menjawab telpon darimu. Waktu itu aku ketiduran, karena sore itu aku diminta Ibu untuk menemani pergi berbelanja. Ku ketiduran di sofa sampai jam 11 malam baru dibangunkan Bapak. Waktu itu aku langsung berusaha menelpon balik kamu Dick. Tapi HP kamu sudah tidak aktif. Aku berencana pagi harinya mau ke ruahmu tapi ada kabar duka dari pakdeku. Kakekuku meninggal” Nana menjelaskan sedikit terbata.
Aku kaget mendengar berita kalau kakek Nana meninggal, karena seringkali Nana cerita kalau Nana adalah cucu kesayangan Kakeknya jadi mereka sangat dekat. Aku sedikit menyesal karena telah salah sangka kepada Nana.
“jadi kakekmu yang di kampung sudah meninggal, aku turut berduka Na. maaf Na, aku telah salah paham dengan semua ini. Memang dulu, HP ku matikan. Saat itu hatiku sakit dan sangat kecewa dengan sikapmu yang tidak memberi jawaban dan tidak mengangkat telponku. Karena memang aku sangat berharap sekali kamu menerima cintaku.”
“sebenarnya bukan kesalahnmu juga Dick, karena kesalahan awal karena aku ketiduran. Jadi aku kesini mau menjelaskan dan sekalian meminta maaf kepadamu”
“terus, laki-laki itu siapa? Apa benar pacarmu?”
“kalau menurut kamu siapa?”
“lhoh, kok balik tanya kepadakku?”
“aku rasa kamu sudah tahu, kamu kan sudah tahu banyak tentang aku.”
“tapi kan aku tidak tahu isi hatimu Na? jujur, aku tidak bisa membayangkan kalau dia adalah pacarmu.”
Nana menatapku dan senyum manis keluar dari bibirnya.
“pacarku??heheehe. kan kamu tahu aku tidak mau pacaran tapi ta’arup terus nikah. Dia itu anaknya pakdeku, namanya Ardy, tadi kan kamu sudah berkenalanmasak nyebutnya Dia. Waktu pulang ke kampung. Ardy ikut ke kota mau mencari pekerjaan karena di kampung susah cari kerja. Sudah 1 tahun nyari kerja tidak dapat.
Aku sangat lega medengar penjelasn Nana tentang siapa laki-laki itu. Namu tetap sja aku kurang suka dengan gayanya yang sedikit kurang sopan. Hatiku sedikit bergetar ketika Nana mengucapkan kata menikah.
“wah, aku merasa tersindir nih. Aku kan juga belum dapat kerja. Terus menmgenai jilbab. kamu sudah memakai setiap hari atau Cuma hari ini saja?”
“Alhamdulillah sudah satu minggu ini aku memutuskan untuk memakai jilbab”
“kamu tambah cantik lho Na kalau pakai jilbab begitu”
“halah” sela Nana petanda dia kurang nyaman kalau dipuji tentang kecantikannya
“beneran, aku kan tidak suka bohong Na”
“sudahlah, tidak usah dibahas. Erus bahgaimana dengan novelmu Dick. Sudah selesai bellum?
“ya, hamper selesai, insyAlloh tidak sampai seminggu sudah selesai. Ini sudah hampir 80%”
“wah, hebat dong. Siap-siap jadi orang terkenal nih. Hehehe” balas Nana menggodaku.
“Na, dulu kan kamu belum menjawab pertanyaanku tentang perasaanmu kepadaku?”
Belum juga Nana menjawab pertanyaanku, dari dalam Ibu muncul dengan membawa minum dan sedikit gorengan buatan ibu sendiri.
“wah, ngobrolnya serius banget. Ayo mbak ini diminum dulu. Lho tadi kan tamunya 2 oranng? Yag satunya mana?” tanya ibu penasaran
“iya bu, tadi dia ke samping rumah cari udara segar soalnya dia mau merokok juga kok bu.” Jawabku jelas
“oh. Iya bu. Kenalkan ini teman Dicky namanya Nana”
Nana berdiri dan bersalaman dengan Ibu.
“wah, mbaknya cantik sekali. Oh iya mbak silahkan dicicipi, anggap seperti di rumah saendiri. Ibu mau kedalam dulu”
“iya bu, terima kasih”
“diminum dulu Na, kamu pasti haus kan. Tadi Ardy kok lama, kemana ya?”
“ah, biarkan saja, nanti juga kesini. Paling dia sedang menghirup udara pedesaan. Pasti ingat dengan kampungnya.”
“terus bagaimana Na?” aku masih peasaran dengan jawaban yang akan diberikan Nana
“kalau mengenai perasaan, ku tidak bisa bohong kepaadamu Dick. Jujur aku juga suka kepadamu. Sejak pertama ku kenal dan ngobrol sama kamu. Aku merasa menemukan seorang teman yang pemikiranya bisa nyambung denganku. Selama ini aku tidak pernah bisa seakrab ini dengan laki-laki.”
Aku mendengar ucapan Nana membuat hatiku bergetar. Kata-katanya sangat dalam dan membuai perasaanku. Aku tidak bisa mengungkapkan perasaan yang aku rasakan ini.Aku berfikir tentang hubungan antara aku dan Nana kedepan. Yang jelas, walau kita punya perasaan yang sama namun kami tidak mungkin berpacaran. Karena bisa menimbulkan hal-hal yang melanggar peraturan agama. Aku rasa Nana juga mengerti dengan masalah ini.
“oke Na, sekarang akuk sudah tahu tentang perasaanmu kepadaku dan kaamu juga tahu tentang perasaaanku kepadamu. Aku berharap kita bisa saling menjaga perasaan kita masing-masing.adapun hubungan kita tetap seperti sebelumnya. Aku tidak mau berpacaran karena aku takut bisa melnggar aturan agama. Kita akan saling mengenal lebih dekat dengan batasan-batasan ajaran agama.”
Nana mendengar penjelasanku sambil menganggukan kepalanya pertanda setuju dengan keinginanku. Nana sangat mengerti sekali dengan keputusanku. Selamini aku juga sering mengatakan kepada Nana kalau pacaran itu tidak baik. Kalau memang sudah siap dan sama-sma sepakat maka lebih baik menikah. Berpacaran setelah menikah lebih baik dan yang jelas hukumnya halal.
Ardy datang dan gabung bersama aku dan Nana. obrolan kami jadi sedikit kami batasi. Kami tidak lagi membahas tentang hubungan kami. Aku bercerita tentang novelku sedang Nana bercerita tentang kejadian-kejadian saat pertama Dia memakai jilbab. Ardy hanya sebagai pendenngar sesekali ikut menyahut.
Tak terasa waktucepat berlalu. Sudah satu jam kita bertemu. Akhirnya Nana dan Ardy mau pulang. Kemudian aku masuk untuk memanggil Bapak dan Ibu, karena Nana hendak berpamitan dengan Bapak dan Ibu. Aku, ibu dan Bapak mengantar kepulangan Nana dan Ardy sampai di halaman depn.
Setelah mereka tidak tampak dari pandanganku. Ibu bercerita dan memberi penilaian kepada pribadi Nana. ibu menilai kalau Nana itu gadis yang baik dan sopan dan tentunya cantik. Sependapat denngan Ibu, Bapak juga memberi penilaian yang sama terhadap Nana. jujur, aku suka BApak dan Ibu menyukai dan memberi penilaian yang positif terhadap Nana. walau saepenngetahuan Bapak dan Ibu kalau Nana adalah pacarnya Ardy. Memang aku tidak membenarkan kalau Nana bukan pacar Ardy. Biarkan saja nanti waktu yang akan menjelaskan semuannya. Sementara ini kubiarkan seperti itu.
0 Response to "Bagian 21 Hati Yang Bergetar"
Post a Comment