Bagian 1 Wisuda & Perpisahan


           Siang itu suasana sekitar kampus sangat ramai sekali, banyak orang berlalu lalang dijalan depan kampus. Dibagian lain banyak mobil yang parkir mulai dari halaman sampai pinggir jalan sekitar kampus. Para mahasiswa yang biasanya mengikuti kuliah di kelasnya masing-masing tapi siang itu mereka menjajakan sekuntum bunga yang terbuat dari plastik hasil kerajinan tangan mereka. Hanya hari itu saja mereka beralih profesi, mereka memanfaatkan moment yang ada dimana banyak orang yang memakai bunga sebagai ucapan selamat. 

Padahal  hari itu bukan hari valentine yang merupakan hari kasih sayang dimana banyak orang mengapresiasikan kasih sayangnya dengan bunga. Sementara tak jauh dari orang yang ramai itu justru sebaliknya suasana di dalam kampus sangat hening, para mahasiswa dengan khidmat mengikuti upacara wisuda.

           Tampak jelas di wajah mereka aura kebahagiaan. Bagaimana tidak, setelah beberapa tahun bergelut dengan pendidikan yang menyita banyak waktu pikiran akhirnya mereka lulus dan menyandang gelar di belakang namanya. Tapi tidak hanya sekedar itu mereka tampak bahagia, karena dalam benaknya sebentar lagi mereka bisa bekerja seperti yang mereka harapkan yaitu sesuai dengan gelar yang mereka sandang.
           Setelah selesai mengikuti upacara wisuda, para mahasiswa melanjutkan berbagai acara yang mereka buat sesuai jurusanya masing-masing. Untuk jurusan teknik misalnya, mereka berlomba menceburkan temanya ke kolam. Kebetulan di kampus ada danau buatan jadi bukan hanya basah tapi juga kotor karena bercampur dengan lumpur. Anak-anak farmasi lain lagi, mereka memilih doa bersama sekaligus perpisahan. Maklum mungkin setelah hari itu mereka sudah jarang ketemu lagi. Apalagi bagi mahasiswa yang berasal dari luar daerah, kemungkina ketemu sudah kecil sekali kecuali kalau ada acara reuni. Sementara anak-anak ekonomi merayakan kebahagiaannya esok harinya karena mereka kebanyakan masih sibuk dengan acaranya sendiri bersama keluarga dan teman dekatnya.

           Seperti mahasiswa ekonomi lainnya, setelah mengikuti upacara wisuda, Aku langsung pergi bersama keluargaku untuk foto-foto. Aku adalah salah satu mahasiswa ekonomi yang cukup cerdas (begitu orang-orang menilaiku). Tapi menurutku aku biasa-biasa saja bahkan bisa dibilang kurang rajin. Hanya saja aku mempunyai semangat juang yang tinggi, apalagi kalau aku punya suatu keinginan. Pasti dengan sekuat tenaga aku akan berusaha keras untuk mewujudkan keinginanku. Mungkin itu juga yang membuat aku sering dapat nilai bagus karena kalau akan ada ujian semester sebulan sebelumnya aku berusaha untuk mengumpulkan materi dan belajar dengan serius. Sehingga akhirnya nilai akademikkupun bagus.
           Meskipun tidak lulus dengan predikat comlaude tapi nilaiku sangat memuaskan. Adapun hal lain tentang diriku yang menjadi ciriku adalah secara fisik bisa dibilang aku cukup ganteng (kata orang) dengan tinggi 175 cm, berkulit sawo matang, mempunyai wajah oval dan berambut cepak sementara bibirku sangat manis bila  tersenyum (lagi-lagi itu kata orang). Aku sih sangat bersyukur dengan apa yang dianugerahkan Tuhan kepadaku
           Setelah selesai mengabadikan momen yang indah itu Aku bersama keluargaku pulang ke Rumah. Kebetulan rumahku tidak begitu jauh letaknya dari kampus, hanya memerlukan waktu 30 menit. Semetara di rumah, annggota keluarga yang lain menyiapkan makanan dan pelengkapnya untuk acara nanti malam yaitu acara syukuran yang dubuat keluargaku atas keberhasilanku dalam meyelesaikan kuliah.
           Sebenarnya Aku sendiri tidak menyukai dengan acara pesta syukuran ini namun karena keluarga yang merencanakan untuk mengadakan pesta sebagai rasa syukur kepada Tuhan akhirnya Aku hanya bisa menuruti keinginan keluargaku. Karena memang tujuannya sangat baik yaitu untuk menrsyukuri nikmat Tuhan yang yang diberikan kepadaku. Aku sendiri sebenarnya lebih menyukai untuk merenung dan menentukan langkah untuk masa depanku dengan membuat rencana-rencana baik jangka panjang ataupun jangka pendek. Karena langkah yang ada di depan nanti banyak tantangan yang harus kuhadapi.
           Malam itu, Aku mengenakan baju biru sesuai dengan warna favoritku. Aku berusaha untuk selalu menebarkan senyum pada semua tamu yang hadir. Meski dalam hati kecil Aku tidak menyukai dan bosan dengan acara ini. Bukan tanpa alasan, dengan diadakanya acara ini sama saja mengumumkan keberhasilanku menyelesaikan kuliah. Dengan kata lain, seolah-olah seluruh kerabat dann tetangga menunggu kabar aku selanjutnya setelah lulus. Ini yang menjadi beban bagiku meskipun juga bisa memotivasiku untuk bisa sukses di dunia kerja. Tapi yang membuatku  tidak nyaman adalah menjadi sorotan warga.
           Setelah acara selesai Aku segera pergi kekamar untuk istirahat, karena paginya aku harus mengikuti acara perpisahan bersama teman-temanku yaitu pergi ke pantai sekaligus melepaskan semua penat yang ada saat kuliah dan memulai lembaran baru untuk mencari pekerjaan atau berwirausaha. Namun malam ini sulit sekali rasanya membawa anganku kea lam mimpi, pikiranku melayang tak tentu arah. Semakin Aku berusaha untuk memejamkan mata maka semakin gencar pikiranku melayang. Setelah beberapa jam berlalu, akhirnya Aku terlelap dalam tidurku dengan sendirnya.
           Tak lama Aku tidur tiba-tiba suara adzan terdengar bersahutan dari setiap sudut kamar untuk membangunkanku. Dengan mata yang masih menganttuk, Aku bergegas untuk ambil wudhu dan mengerjakan sholat shubuh. Setelah sembahyang shubuh, Aku berolahraga sebentar di halaman rumah. Kemudian kulanjutkan dengan beberapa kegiatan rutin harian lainya seperti menyapu halaman, menyiram bunga atau baca koran. Setelah semuanya selesai kukerjakan kemudian Aku berangkat ke kampus.
            Dikampus Aku berkumpul bersama teman-teman dekatku sambil menunggu bus datang. Bersama Anto, Hengky dan Dody, Kami membicarakan rencana kami masing-masing setelah lulus. Untuk membuka percakapan Aku melontarkan pertanyaan pada Iheng (Iheng adalah panggilan akrab Hengky, maklum masih ada keturunan china jadi temen-temen lebih terbiasa memanggil hengky dengan sebutan Iheng).
 “Iheng, apa kamu sudah punya hubungan dengan orang yang bisa memberimu pekerjaan di kotamu?”.  Tanyaku pada Iheng
“Sebenarnya punya sih, tapi aku nggak begitu tertarik. Pengenya ya cari sendiri dulu, nanti kalau udah menthok nggak dapat-dapat kerja baru menghubungi Om”.
 “Jadi Om kamu ya?” Enak dong, Sahut Dody.
 “Kenapa nggak langsung ikut om kamu aja? “  sahut Anto sambil mendekat.
“Nggak ah, pengin cari kerja sendiri dulu” jawab Iheng sambil menatap tajam mata Anto.
“Kalau dapat kerja karena kemampuan kita sendiri kan lebih puas”. Jawab Iheng mantap. “Lagian ditempat Om kan aku bisa diterima kapan saja”. Lanjut Iheng
“Berarti Om kamu punya perusahaan sendiri ya?” Sahutku penasaran ingin tahu.
“Nggak juga sih, lebih tepat kalau perusahaan itu milik keluarga besar. Perusahaan itu dibangun dengan susah payah oleh kakekku dan akhirnya sekarang menjadi perusahaan yang cukup besar. Karena di keluarga ibu saya anak laki-lakinya hanya om jadi usaha keluarga yang mengurusi ya Om”. Jawab Iheng serius.
“Bisa dong kita bertiga nanti kerja di tempat kamu?” Tanya Anto sambil melirik kearah Iheng.
 Sambil mengerutkan dahinya Iheng mencoba menjawab tapi terlihat jelas sekali gurat kebingungan diraut mukanya. Belum sempat bibir Iheng terbuka bus yang ditunggu sudah datang. Tanpa menunggu lama-lama kami masuk ke bus. Aku duduk bersebelahan dengan Iheng sedangkan Dody duduk dengan Anto tepat didepanku. Setelah semua sudah masuk kemudian bus berangkat. Kami berempat melupakan sejenak topik pembicaraan kami mengenai rencana apa yang akan dikerjakan setelah lulus. Aku dan Iheng hanya ngobrol mengenai pemandangan yang kami lewati sambil bercerita tentang hal-hal yang kami anggap lucu. Anto dan Dodypun searing ikut nyahut dari depan mengenai pembicaraan kami berdua. Sesekali aku turut menyanyikan lagu yang diputar pak sopir, meski suara itu terdengar begitu kencang di gendang telingaku. Kami semua terhanyut bersama teman-teman lain yang sepanjang perjalanan bernyanyi dan bercanda.
           Setelah sampai ditujuan, kami diberi kesempatan untuk menikmati pemandangan sampai waktu yang ditentukan untuk berkumpul lagi. Kami berpisah masing-masing sambil membentuk kelompok sendiri. Begitu juga dengan Aku dengan 3 sahabatku Anto, Dody dan Hengky.
           Sambil menikmati pemandangan kami melanjutkan pemmbicaraan yang sempat terputus karena kami asyik bersenang-senag bersama teman-teman sekelas didalam bus.
”Oh ya Dick, setelah ini rencana kamu apa untuk cari kerja?” Tanya Hengky kepadaku.
“Karena aku nggak punya kenalan dengan orang penting di perusahaan, ya cari dulu lewat lowongan kerja yang ada di Koran dan Internet. Mudah-mudahan saja sih tidak terlalu lama”. Belum sempat Aku menyelesaikan ucapanku Dody udah duluan memberi komentar
“Aku yakin kamu pasti cepat dapat kerja, nilai kamu kan bagus. Perusahaan  mana sih yang nggak tertarik dengan anak pintar seperti kamu”. Seolah tak mau kalah dengan Dody, Hengky ikut-ikutan memberi dukungan.
“Iya Dick, kamu pasti mudah cari kerja.”
Meskipun senang mendengar komentar kedua temanku, Aku hanya bisa berucap.
 “Amin, semoga benar apa yang kalian ucapkan”.
“Tapi perusahaan tidak mengambil karyawan hanya berdasarkan nilai saja pasti ada faktor lain yang juga menentukan.” Imbuhku.
“Memang sih Dick, tapi kamu kan juga punya banyak faktor lain. Bisa dibilang kamu itu karyawan idaman bagi perusahaan.” Tambah Dody.
“Tapi benar juga sih yang kamu bilang dic” sahut Hengky.
“Bisa saja mereka tidak melihat sepenuhnya yang ada di diri kamu seperti kami melihatnya. Karena mereka mengenal kamu hanya sekilas tidak seperti kami”.  Jelas Hengky.
Anto yang menyimak pembicaraan kami dengan serius terus manggut-manggut Anto berkata “Iya, benar juga apa yang kamu bilang Heng”. Ucap Anto tanda setuju
“Kalau kamu sendiri Dod, apa rencanamu setelah ini?” Giliran Aku bertanya ke Dody yang masih serius ikutserta dalam pembicaraan.
“Pada prinsipnya sama seperti kamu, Nyari lowongan di iklan Koran dan Internet. Tapi aku akan istirahat dulu sambil menjenguk Nenek di kampung. Sekaligus menjernihkan pikiran dulu di kampung, paling satu bulan.”.
“Kalau kamu To, gimana?” Giliran hengky yang bertanya seraya duduk di pinggir pantai bersama kami.
“Kalau aku belum kepikiran sampai situ, yang jelas aku pulang ke kampungku dulu. Karena aku satu-satunya anak laki-laki jadi kemungkinan besar aku akan melanjutkan usaha bapakku di kampung yaitu usaha penggilingan padi dan membeli padi dari petani kemudian di jual ke pedagang besar dikota.”
“Nggak sayang” tanyaku
“Sayang kenapa” jawab Anto polos
“Ya sayang dengan kuliahmu, kan udah empat tahun kamu kuliah”jelasku
“Gimana ya? Sebenarnya sayang tapi setidaknya ilmu yang kudapat dibangku kuliah masih bisa diterapin di bidang usahaku. Lagian aku ingin menjaga kedua orang tuaku dikampung” jawab Anto sedikit ragu, keraguan itu terpancar di jelas di wajahnya.
“Memang kamu nggak ingin hidup dikota dengan bekerja di perusahaan yang bonafit, masak sih kamu hanya ingin tinggal di kampung.” Sela Iheng yang terlihat meledek
“Kalau masalah menjaga kedua orang tuamu, kan ada kedua kakak perempuanmu yang masih tinggal di dekat kedua orang tuamu. Lagian bisa kan beberapa bulan sekali kamu pulang untuk menjenguk kedua orang tuamu” sahut Dody yang mencoba memberi solusi.
“Begitu ya”. Jawab Anto yang masih tersirat kepolosan diwajahnya. Setelah diam beberapa saat kemudian Anto memutuskan. “Mungkin nanti bisa saya pikirkan lagi. Tapi terima kasih dengan saran yang kalian berikan kepadaku.
           Tak terasa waktu cepat berlalu dan udara sedikit panas dan gerah. Semua teman-teman terlihat bahagia sekali hari ini. Mereka seperti anak-anak bermain dipantai yang terhampar luas dengan matahari yang semakin terik menyinari pantai. Seolah tak ingin melewatkan momen ini kami semua terhanyut dalam kegembiraan.
“Teman-teman sekarang saatnya kita bersenag-senang, kapan lagi kita punya kesempatan seperti ini” Ucap Dody sambil berteriak lalu melempar pasir ke arahku, Iheng dan Anto. Kami pun segera mengejar Dody dan terhanyut dalam kegembiraan. Seakan akan tak kan ada masalah yang sedang meunggu di hari-hari depan.
           Acara pada hari itu berlangsung sangat meriah, tapi di akhir acara justru penuh keharuan. Begitu juga dengan Aku, bersama tiga sahabatku yaitu Anto, Hengky dan Dody kami berangkulan saling mengucapkan kata maaf atas semua kesalahan yang kami buat baik sengaja maupun tidak sengaja karean meskipun kami terlihat kompak, tak jarang kami mempunyai perselisihan yang membuat kami marahan. Walaupun begitu kami berempat sudah merasa seperti saudara satu sama yang lain jadi sebesar apaun perselisihan yang terjadi bisa diakhiri dengan saling pengertian. Kamipun berjanji untuk tetap menjaga komunikasi dan jangan sampai kehilangan kabar satu sama lain. Terutama sama Anto dan Hengky, karena Dody masih satu kota denganku. Sedangkan Anto dan Hengky jauh dari luar kota.
           Karena inti acara hari ini adalah refresing sekaligus perpisahaan. Tak ketinggalan kami berempat saling berpegangan tangan dan saling meminta maaf. Kami tak kuasa menahan keharuan karena seminggu lagi kami akan berpisah dan disibukan dengan kegiatan masing-masing. Aku melihat air mata Anto memngalir dengan deras, Anto merasa kehilangan sekali. Sebenarnya aku dan Iheng juga mengeluarkan air mata tapi tidak sederas air mata Anto. Meskipun tidak mengeluarkan air mata tapi aku dapat melihat kesedihan yang dialami Dody. Kulihat Dody berusaha menahan keharuan yang dialaminya. Hanya terlihat matanya yang merah dan redup terpancar. Seakan tak ingin  menyia-nyiakan moment penting ini kamipun saling berpelukan.
           Waktu terus berlalu hingga saatnya kami bergegas untuk berkumpul dengan teman lain untuk saling meminta maaf satu lain. Acara berjalan cukup tenang dengan latar belakang pantai yang sejuk dengan angin yang lembut membelai rambut kami. Matahari yang sudah condong menambah tenang suasana. Seakan alam menyihir kami dan memaksa agar mengeluarkan ketulusan hati kami untuk mengucapkan kata maaf dan memberikan maaf. Hari itu menjadi kenangan yang indah untuk selalu diingat.
           Setelah acara selesai kami bergegas menuju bus dan duduk ditempat masing-masing sama seperti sewaktu berangkat. Kesunyianpun masih menggelayut di hati kami semua sehingga menjadikan suasana di dalam bus menjadi tenang. Kami terdiam dan termenung, yang terdengar hanya suara musik yang keluar dari speaker yang ada ditiap sudut bus.
                                 

0 Response to "Bagian 1 Wisuda & Perpisahan"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel