Bagian 23 Menikah
Hubugam dengan Nana sudah sangat serius. Walau tidak berpacaran seperti kebanyakan teman-temanku, namun aku dan Nana sudah mengetahui kalau kita sama-sama saling mencintai. Entah disebut apa hubunganku dengan Nana. yang jelas kami menghindari hal-hal yang dilarang agama. untuk membina hubungan dan mengenal lebih dekat, aku sering berkunjung ke rumah Nana/ itutpun kalau ada kedua orag tuanya di rumah. Bila kami ingin pergi keluar, kami tetap manjaga jarak kami. Kami tahu sebelum halal, seorang laki-laki tidak boleh bersentuhan jadi kami sering memakai kendaraan masing-masing atau kalau perlu kami naik bus.
Orang
tua Nana mengetahui keseriusan hubungan kami, mereka juga percaya kalau kami
berdua bisa menjaga aturan-aturan yang ada. Namun kemarin ada suara-suara
kurang enak di dengar dari tetangga. mulai berhembus gossip yang mengganggu
pikiran orang tua Nana. terutama Ibunya. Gosip bermula ketika aku pulang dari
Rumah Nana jam 11 malam. Waktu itu aku sedang membetulkan komputer Nana. computer
Nana baru eror karena virus. Jadi aku membetulkan computer Nana. Saat itu Nana
ada pekerjaan yang harus diselesaikan karena besuk paginya harus dipakai
presentasi di kantor. Padahal file-file yang diperlukan ada di dalam computer
semua. Jadi aku harus memperbaiki computer Nana dan jam 11 malam baru selesai.
Orang tua Nanapun saat itu juga ada di rumah dan melihat aku sedang memperbaiki
computer Nana.
Waktu
itu ada Tetangga Nana yang melihat aku
keluar dari rumah Nana jam 11 malam. Kemudian esok harinya gossip menyebar di
lingkungan rumah Nana. dan layaknya gossip, berita yang tersebar
ditambah-tambah dan sangat tidak mengenakan telinga keluarga Nana. Dan karena
kejadian itu, Ibu Nana menanyakan keseriusanku dengan Nana. ibu meminta untuk
segera menikahi Nana. Aku sendiri memang berencana untuk menikahi Nana tahun
depan. Saat ini aku ingin berkonsentrasi dengan pekerjaanku sambil menyiapkan
segala beberapa untuk masa depan seperti rumah. Aku tidak ingin merepotkan
orang tuaku lagi.
Aku
menjadi kepikiran dengan permintaan Ibunya Nana. aku menimbang-nimbang kalau
seandainya aku menikahi Nana dalam waktu dekat ini padahal aku bellum punya
rumah sendiri dan pekerjaanku belum maksimal. Saat ini hasil dari menulisku
Alhamdulillah bisa berlebih, tapi apa akan seterusnya seperti ini. Padahal
setelah menikah nanti aku harus menfkahi keluarga dan pasti akan banyak biaya,
apalgi kalau nanti sudah punya anak. Banyak kebutuhan ang harus aku penuhi.
Semntara aku tidak punya penghasilan tetap.
Waktuku
di kampung hanya tinggal 2 hari lagi. Lusa aku akan ke Jakarta, karena ada
banyak pekerjaan yang menunggu d Jakarta. Suara adzan magrib sudah terdengar.
Aku menyempatkan diri untuk ke masjid, apalgi nanti juga ada pengajian.
Rasaanya sudah lama sekali aku tidak mengikuti pengajian. Pulang ke rumah satu
minggu, namun agak belum sempat mengikuti pengajian habis magrib yang dulu rutin
aku ikuti.
Aku
melihat bapak ustadz sudah ada di masjid. Banyak jama’ah sholat yang masih
berwudhu. Jumlah jama’ah sholat di masjid masih belum bertambah. Malah tmapak
berkurang. Ada yang dulunya rajin, karena sudah terpengaruh dengan kehidupan
dunia menjadi jarang ke masjid. Terutama yang muda – muda. Aku bersalaman
dengan jama’ah yang lain. Sudah menjadi kebiasaan kami saat bertemu untuk
bersalaman. Kata pak ustad bisa melebur dosa diantara orang yang bersalaman.
Setelah
selesai sholat kami duduk melingkar untuk mendengarkan nasehat dari Bapak
ustadz. Tidak semua yang mengerjakan sholat di masjid mengikuti pengajian, ada
beberpa yang pulang. Mungkin memang baru ada kepentingan lain. Seperti biasanya
pak ustadz menyampaiakn nasehatnya. Pak ustadz menyampaikan nasehat sambil
memmbuka Al-Quran dan beberapa hadist. Jadi yang disampaikan Bapak ustadz
memang yang ada di Al-Quran dan Al-hadist
Satu jam
berjalan sanagat cepat, sudah saatnya sholat isya maka pengajian pun
dihentikan. Kami melakukan sholat isya berjama’ah. Setelah selesai sholat isya,
aku menghampiri pak ustadz. Aku hendak menanyakan bab nikah kepada pak Ustadz.
Dulu pak ustadz pernah menyampaikan nasehat bab nikah anmun waktu itu masih
belum nyangkut di otakku karena aku merasa belum membutuhkanya jadi hanya
mendengar selintas saja. Aku melihat pak ustadz masih berdzikir, sedang yang
lain sudah banyak yang pulang. Saat kulihat pak ustadz menyelesaikan dzikir dan
doanya, aku mendekat kepadanya.
“assalamualaikum pak ustadz”
“walaikumussalam mas Dicky, wah mas Dicky sudah
jarang kelihatan”
“iya pak, maaf. Sebenarnya saya senang sekali
mengikuti pengajian seperti ini pak. Tapi karena saya harus keluar kota jadi
tidak bisa mengikutinya”
“wah, tidak apa-apa mas, yang penting mas Dicky
selalu mengamalkan ilmu agama yangn sudah pernah saya sampaikan dan jangan
sampai meninggallkan sholat wajb”
“ya pak, Alhamdulillah saya tidak pernah
meninggalkannya dan berusaha untuk menjalankan nasehat-nasehat yang pernah
bapak sampaikan.”
“oh iya, selamat ya Mas Dicky sudah sukses dengan
novelnya. Saemminggu yang lalu saya juga membeli novelnya Mas Dicky. Bagus mas
isinya. Di kampung mas Dicky sudah seperti artis, dimana-mana membicarakan mas
Dicky.”
“ya Alhamdulillah pak, tapi saya bukan artis kok
Pak.hehe” candaku kepada Pak Ustadz.
Pak ustadz terlihat tersenyum mendengar ucapanku
kemudian menepuk punadk kiriku.
“maaf pak, Bapak punya waktu tidak?, saya mau
menanyakan sesuatu”
“wah, mau
tanya apa mas?”
“begini pak, saya ingin tahu banyak tentang
pernikahan. Mungkin bapak bisa memberikan gambaran tenntang pernikahan yang
sesuai dengan Al-uran dan Al-hadist”
“wah, mas Dicky sudah mau menikah ya”
“insyaAlloh pak, tapi maslahnya saya masih belum
yakin kalau menikah saat ini. Saolnya saya masih belum punya rumah sendiri dan
pekerjaan saya pun masih mambangun karir saya. Ya saat ini memang Alhamdulillah
cukup, tapi saya belum tahu ke depanya pak. Saya takut bila berkeluarga nanti
saya tidak bisa mencukupi kebutuhan runah tangga saya pak.”
“wah, mas Dicky ini bagaimana tho? Dulu kan pernah
saya katakan kalau jalan pembuka pintu rejeki itu salahl sattunya dengan
menikah. Jadi insyaAlloh jika mas Dicky menikah, rejeki mas Dicky akan lebih
baik lagi. Saya rasa mas Dicky memang sudah saatnya untuk menikah. Aku juga
dengar mas Dicky sudah punya calon. Menunggu apalagi Mas. Mas Dicky jangantakut
dengan rejeki yang diberikan kepad mas Dicky. Seperti mas Dicky tahu kalau
rejeki, jodoh dan kematian sudah menjadi ketetapan Alloh. Jadi kalau mas Dicky
sebagai seorang muslim harus meyakini hal itu. Dan Alloh itu beserta dengan
persangkaan hambanya. Bila mas Dicky berprasangka yang kurang tepat maka bisa
saja itu yang justru akan terjadi pada Mas Dicky”
“sebenarnya saya juga ingat akan dalil itu pak
Ustadz, tapi masih ragu-ragu untuk melaksanakanya”
“memang biasanya orang yang akan menikah itu ada
banyak godaan, syetan mempengaruhi dengan keragu-raguan. Orang yang menikah
selain dibuka pintu rejekinya juga hatinya akan tentram seperti firman Alloh
dalam surat Ar-Ruum ayat 21
“Dan diantara tanda-tanda
kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri,
supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya
diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu
benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir”
Kemudian Pak Ustad membuka kumpulan hadist tentang menikah
dan membacanya
“Dua rakaat yang dilakukan orang
yang sudah berkeluarga lebih baik dari tujuh puluh rakaat shalat sunah yang
dilakukan orang yang belum berkeluarga.” (HR. Ibnu Adiy dari Abu Hurairah)
“Wahai para pemuda, siapa saja
diantara kalian yang telah mampu untuk kawin, maka hendaklah dia menikah.
Karena dengan menikah itu lebih dapat menundukkan pandangan dan lebih menjaga
kemaluan. Dan barang siapa yang belum mampu, maka hendaklah dia berpuasa,
karena sesungguhnya puasa itu bisa menjadi perisai baginya” (HR. Bukhori-Muslim)
Bapak
rasa dalil-dalil diatas mamoou membuat kamu lebih yakin lagi Mas. Bapak
berharap hati dan pikiranmu sudah lebih terbuka. Aku yakin kamu mampu mas. Dan
perlu dipahami dengan menikah maka separuh agamamu suka kamu pegang sesuai
dengan sabda Rosulullah SAW.
“Apabila seorang hamba telah berkeluarga, berarti dia
telah menyempurnakan setengah dari agamanya maka takutlah kepada Allah terhadap
setengahnya yang lainnya.” (HR At-Thabrani).
Pak
ustadz menambahkan nasehat yang banyak
kepadaku. beliau juga memberi gambaran-ganbaran yang dihadapi dalam kehidupan
rumah tangga. Dimana ada masalah-masalah yang mumngkin terjadi. Pak ustadz
meyakinkanku pada hal yang sangat mendasar yaitu prinsip dalam berumah tangga
dan terakhir sebelum Pak ustadz minta ijin mau pulang di rumah sudah ditunggu
anak dan istrinya beliau berpeasan yang terpenting dalam berumah tangga agar
selalu berpedoman Al-Quran dan Alhadist dan beliau juga mengingatkan kepadaku
bahwa jika sudah menikah aku akan menjadi imam dalam keluarga sehingga semua
tergantung aku sebagai pemimpin mau dibawa kemana rumah tanggaku nanti.
Setelah
Pak ustadz ulang, aku bergegas pulang. Hatiku sudah merasa mantap untuk segera
menikah. Dengan semua perkataan yang disampaikan pak ustadz mampu menenangkan
dan memantapkan hatiku untuk segera menikah. Aku berencana untuk menyampaikanya
kepada Bapak dan Ibu. Tentu ini akan menjadi kabar gembira buat mereka.
Sesampainya
dirumah, aku melihat Bapak dan Ibu menonton tivi. Aku bergabung dengan memreka.
Aku tak sabar untuk menyammpaikan keinginanku untuk segera menikah.
“Bapak, Ibu kemarin Ibunya Nana
meminta kepadaku agar segera menikahi Nana”
Mendengar ucapanku, mengecilkan
suara televisi kemudian sedikit mendekat kepadaku. aku melanjutkan perkataanku
“awalnya aku masih belum yakin untuk
segera menikahi Nana karena inginku tahun depan saja. Karena Dicky merasa kalau
Dicky belum siap. Karir Dicky masih membutuhkan konsentrasi. Tapi tadi Dicky
meminta nasehat dan masukan dari Pak ustadz. Dan sekarang Dicky sudah merasa
mantap untuk segera menikhi Nana. bagaimana menurut Bapak dan Ibu?”
“kalau Ibu setuju-setuju saja Dick,
Ibu senang kalau kamu ada yang lebih memperhatikan.” Kemudian Ibu melihat Bapak
“Pasti Bapak juga setuju kan?”
“ justru itu yang Bapak inginkan
Dick, aku melihat hubungan kamu dengan Nana juga serius jadi tidak ada gunanya
lagi kamu menundanya. Takutnya malah terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Apalagi Nana adalah wanita baik dan sangat tepat buat kamu. Bapak melihat kalau
kalian juga bisa saling mengerti da mampu bersikap dewasa dalam menghadapi
setiap masalah yang terjadi diantara kalian.
Seperti
yang aku duga sebelumnya. Mereka pasti menyetujuinya. Kemudian aku menjelaskan
kepada mereka kalau aku tidak mau ada perayaan yang berlebihan cukup mengundang
tetangga dan kerabat serta teman dekat. Mendengar ucapanku ibu menyela.
“tapi kalau dari pihak Nana
bagaimana Dick? Mereka kan dari pihak wanita. Biasanya akan ada perayaan yang
lebih besar daaripada dirumah pihak laki-laki.”
“kalau itu Dicky belum tahu Bu,
soalnya bellum ada pembicaraan masalah itu. Tapi besuk Dicky meminta kepada
mereka untuk tidak terlalu berlebihan dalam mengadakan pesta pernikahan.”
Setelah
menyampaikan rencanaku kepada kedua orang tuaku, kemudian aku menyampaikan kepada
Nana melalui telepon genggam. Aku memberi tau Nana tentang keinginanku tentang
pesta perkawinan. Nana sendiri sebenarnya juga menginginkan hal yang sama
tentang pesta pernikahanya. Namun Nana tidak yakin kalau ibunya menyetujui.
Nana bilang, kalau keluarganya belum pernah mengadakan pesta. Dan teman dan
kerabat Nana selalu berpesan kepada Ibunya kalau nanti Nana menikah supaya
mengundang mereka. Belum lagi dari keluarga besar Bapak. Mereka juga ingin
datang ke rumah orangtuaku disaat pernikahanku jadi kemungkinan akan diadakan pesta
yang lebih besar. Dan akhirnya semua kita serahkan pada orang tua kita.
Aku
melupakan sejenak rencana pernikahanku, karena lusa harus ke Jakarta. Aku mulai
membuat scenario untuk film yang akan dibuat. Kata Bapakku, nanti sepulang aku
dari Jakarta akan melamar ke rumah Nana sekaligus membahas rencana pernikahan
dan hal-hal apa saja yang harus disiapkan.
Selama
2 minggu aku di Jakarta terlibat dengan proyek pembuatan film. Setelah waktunya
sedikit longgar, aku minta ijin pulang selama 3 hari. Sesuai rencana
sebelumnya, aku beserta keluarga dan didampingi beberpa tetangga, kami datang
ke rumah Nana untuk melamarnya. Semua yang ada dalam acara itu sangat menikmati
dan terlihat bahagia. terlebih kedua orangtua kami. Dan tentunaya yang tak
ketinggalan. Kami berdua. Suasana berlabgsung seru dan santai. Dari pembicaraan
oaring tuaku dan orang tua Nana terputuskan kalau acara pernikahan akan
dilangsungkan satu bulan lagi.
Satu
bulan sudah cukup untuk menyiapkan semua kebutuhan yang diperlukan. Aku tidak
bisa ikut membantu dalam persiapan pernikahanku. Karena sebulan kedepan aku
masih terlibat dengan pembuatan film dari novelku. Nana meminta bantuan Ardy
untuk menyiapkan semuanya.
Aku
meminta tolong kepada Randy sahabatku untuk mengurus beberapa keperluanaku.
Terutama masalah undangan. Aku menulis teman-temanku yang akan aku undang.
Teman-teman kuliahkku rumahnya jauh-jauh, daripada aku merepotkan mereka lebih
baik aku hanya kasih kaba mereka tentang pernikahanku. Sedang teman-teman yang
sangat dekat denganku aku undang langsung melalui telepon.
Aku
kembali lagi ke Jakarta untuk menyelesaikan pekerjaanku. Kali ini aku selama 3
minggu dijakarta. Sebulan terasa lama sekali buatku. Untuk mengetahui persiapan
pernikahan, aku sering menelpon Nana. Nana kalau ada sesuatu yang perlu
dipertimbangkan juga menelpon aku. Dari pihak keluargaku persiapan tidak
sebanyak di keluarganya Nana. kak Rhena seminggu sebelum pernikahanku sudah
pulang untuk membantu Ibu, sedang kak Handy pulang kekampunya bersama aku. Walau
di jakrta aku ngekost namun aku juga sering main ke rumah kak Handy.
Pekerjaanku
di Jakarta juga sudah hampir selesai. Persiapan untuk shoting film juga sudah
matang. Pemain sudah terpilih dan lokasi shoting juga sudah ditentukan.
Kebetulan lokasinya di kotaku jadi aku bisa membantu di proses shoting sampai
selesai.
Wakttu
yang ditunggu sudah tiba. Aku pulang bersama kak Handy dan keluarganya.
Sesampainya di rumah, semua persiapan sudah dilakukan. 2 hari lagi acara di
langsungkan. Untuk sementara aku tidak boleh menemui Nana sampai hari
pernikahan kami. Jadi waktuku kuhabiskan berkumpul dengan keluarga besarku .
mereka sudah berkumpul dirumahku.
Hari
minggu jam 09.00 aku melakukan ijab qobul dihadapan penghulu dan para saksi.
Dengan suara sedikit bergetar aku lancer melafazkannya. Alhamdulillah, aku
sangat lega dan mulai detik ini, Nana sudah menjadi istriku. Seperti komitmen
kami sebelumnya. Kalau Nana sudah menjadi istriku maka aku akn memanggil Nana
dengan panggilan dik dan Nana memanggilku dengan panggilan Mas. Agar ada
perbedaan dari sebelum menikah. Dan panggilan itu juga wujud dari kasih saying
diantara kami.
Aku
melihat para sahabatkku sudah datang. Aku terharu ketika melihat teman yang
menyempatkan datang dan mendoakan kami. Ada teman yang di luar jawa pun turut
hadir dalam pesta pernikahan kami. Mereka tampak bahagia dan menikmati pesta
kami. Acaranya berlangsung sekitar 2 jam lebih.
Aku
melihat Pak pos hadir dan duduk dekat dengan pelaminan. Aku melihat kebahagian
beliau. 2 hari yang lalu aku hampir lupa untuk mengundang beliau. Waktu minta
tolong kepada Randy aku terburu-buru, sampai-sampai Pak pos terlupa. Namun akhirnya
aku ingat lalu ku temui belaiu di rumahnya.
Setelah
acaranya selesai, aku melihat teman-temanku waktu kuliah masih berkumpul. Aku
menghampiri mereka sekaligus memperkenalkan Nana kepada mereka. Tak lama
kemudian mereka pamit, mereka tidak mau mengganguku dulu. Sindir mereka. Keluargaku sudah pulang kerumah. Aku dan Nana
mersa capek karena harus berdiri lama saat menyalami tamu dan berfoto.
Hari
ini aku menjadi raja beberpa jam mesti tidak suka karena harus duduk diatas
pelaminan dan disaksikan banyak orang namun aku harus melakukanya. Aku berusaha
menikmati semuanya. Dan Alhamdulillah semua berjalan lanacar.
Menjelang
malam aku dan Nana menikmati malam pertama kami sebagai suami istri. Kami
bercerita dan saling bermanja. Kami bercanda sambil membuka kado dari
teman-teman. Aku merasa bahagia atas semua romat Alloh yang diberikan kepada
kami. Dan malam pertama kami kami akhiri seperti layaknya pengantin yang lain.
0 Response to "Bagian 23 Menikah "
Post a Comment