Bagian 16 Menggapai impian
Pukul 04.30 pagi Aku dibangunkan Ibu
untuk sholat shubuh. Aku segera bangun dan mengambil air wudhu lalu segera
pergi ke masjid untuk sholat shubuh. Seperti biasa, Aku yang menjadi muadzin
untuk sholat shubuh. Maklum para jama’ah sholat shubuh kebanyakan orang tua.
Beda kalau sholat magrib da isya jama’ah yang datang banyak baik para orang tua
dan yang muda.
Namun kalau sholat shubuh yang dating hanya segellintir orang
dan orang tua. Tidak tahu kenapa, mungkin yang muda banyak yang begadang jadi
untuk sholat shubuh banyak yang males datang. Padahal pahalanya orang yang
sholat berjama’ah isya di masjid kemudian dismbung sholat shubuh berjama’ah di
masjid sangat mengagumkan yaitu dihitung oleh Alloh pahalanya sama dengan orang
yang beribadah semalam penuh mulai dari isya smpai shubuh.
Bahkan dalam hadis
juga di jelaskan bahwa seandainya pahala orang yang mau mendatangi sholat
shubuh berjamaah di masjid maka niscaya orang akan datang ke masjid walau
dengan ngesot. Memang keutamaan sholat
shubuh itu sungguh tinggi.
Sesudah
sholat shubuh, wajah dicky tampak cerah. Dalam doaku Aku meminta yang terbaik
dari Alloh terutama tentang jodohnya. Aku menyadari kalau jodoh sudah diatur
dan walau cintaku tidak diterima Nana namun aku akan selalu khusnudzon billah
bahwa semua ini sudah kehendak Alloh SWT. Kini Aku mengkonsentrasikan pikiranya
untuk menyelesaikan Novelnya. Karena Aku di kasih waktu saebulan oleh penebit
untuk segera merampungkan novelnya. Mulai hari ini aku melupakan sejenak urusanku
yang lain, aku ingin segera menyelesaikan novelku. Untuk merefresh pikirankku
aku memutuskan untuk lari pagi, mumpung hari minggu.
Pagi ini ku
mulai bersemangat lagi, kekecewaan cukup kemarin malam saja. Tidak perlu
berlama-lama memikirkan yang membuat pikiran down. Memang tidak bisa melupakan begitu saja namun dengan
konsentrasi dengan menulis novel bias membuat pikiran tidak terpaku pada
masalah Nana. Setelah lari pagi, ku pulang dan tubuh ini tersa segar kembali.
“dick, kok cepet sekali lari paginya??” Tanya ibu
“sudah cukup kok bu, keringatku sudah keluar banyak ndan
1 jam cukuplah bu “ tapi biasanya kan, jam 8 kamu baru pulang kalau lari pagi.?
“iya sih bu, biasanya kan aku sama Randy bu jadi ngobrl
dulu di jalan.”
“tadi lari pagi sendiri ya? Memangnya Randy kemana?”
“iya bu, Randy hari ini tidak bisa Randy mengantar
Ibunya ke pasar soalnya nanti malam Rumah Randy di pakai buat pertemuan
Bapak-bapak satu RT”.
“o..begitu.”
“Ya udah, sarapan dulu sana, ibu sudah selesai
menyiapkan sarapanya.!” Pinta Ibu kepadaku.
“Sebentar dulu bu, aku mau mandi dulu”
Ku ambil handuk lalu mandi. Aku merasa kurang nyaman
kalau belum bersih tapi harus makan. Mungkin karena sudah terbiasa dari kecil
kalau pagi mau sarapan aku mandi dulu.
Setelah selesai semuanya, segera ku
masuk kamar menyalakan computer. Kebetulan hari ini aku tidak ada acara jadi ku
bias memulai menulis secepatnya. Ku berjajnji pada diri sediri untuk bisa
menyelesaikan novel sesuai target bahkan kalau bias lebih cepat. Kebetulan aku
punya banyak ide-ide tentang sebuah novel. Aku sering menulis sebuah synopsis
sebuah novel dan membuat keranngkanya. Namun dari sekian banyak ide belum
satupun ku selesaikan menjadi sebuah novel yang jadi. Aku baru menulis jalan
cerita, nama tokoh dan konflik. Ada beberapa novel yang sudah ku tulis namun
baru 60%.
Memaang aku ingin sekali
menyelesaikan namun ketika pikiranku baru buntu ku menghentikan tulisanku.
Karna memang selama ini pikiranku masih fokus untuk mencari kerja dan menulis
adalah hobbyku dan sebelum ketemu Nana tak pernah terbersit untuk mencari uang
dari menullis. Karena aku ingin bekerja sesuai pendidikan yang sudah kutempuh.
Selain itu aku juga ingin membanggakan kedua oranng tuaku dengan bekerja
diperusahaan yang bonafit. Sebenarnaya dulu ku pernah bermimpi untuk menjadi
seorang penulis. Karena sangat ingin membawa kebaikan bagi oranng lain dengan
cara menulis. Dulu waktu kuliahpun ku sering menulis cerita lucu dan ku
kirimkan ke Koran local dan Alhamdulillah diterbitkan dan mendapat honor. Walau
kecil namun ku sangat senang dan bangga bila tulisanku di muat di Koran.
Aku mulai mencari file-file novelku
yang terdahulu. Ku menemukan file novel yang sudah kusimpan hamper 3th. Novel
tentang cerita cinta remaja dengan dibumbuhi permasalahan agama. Ku sudah membuat
kerangka dan sub judulnya. Aku ingat sekali, novel ini kutulis karna waktu itu
temanku mengalami percintaan yang rumit. Jadi terlintaas dalam benakku ide
untuk menjadikan cerita temanku menjadi sebuah novel. Namun tetap ku kasih
tambahan cerita dan nama-namanya pun ku pakai nama lain. Setelah aku yakin akan
melanjutkan menulis novel yang sudah ku buat kerangka maka segera ku
memulainya.
Bapak dan ibuku sengaja tidak aku
kasih tahu kalau aku dapat proyek dari penerbit untuk membuat novel. Aku ingin
sekali member surprise kepada bapak dan ibu nanti kalau novelku
sudahditerbitkan. Selain itu, aku juga khawatir kalau bapakku marah, karena
bapak sangat menginginkan aku bekerja di kantor.
Aku seharian di kamar di depan
komputer untuk menyelesaikan tulisan. Sesekali untuk merefresh otak dan mata
agar tidak capek. Dan kaalu ide baru mentok, ku pergi jalan-jalan sambil
menghirup udara segar. Ibu tidak heran melihat aku seharian di kamar di depan
computer. Karena memang dalam seharian sering kulakukan. Aku sering
menghabiskan waktu di depan computer untuk membuat surat lamaran kerja, membuat
cerpen, melihat film atau hanya sekedar mendengarkan musik. Ketika aku sedang
asyik-asyiknya mengetik, ibu dating
“ Dick, seharian di depan komputer ngerjain apa? Ini kan
hari minggu, nggak ada acara ya? Tanya ibu..
“nggak bu, kebetulan hari ini ada acara pengajian jadi
hari ini aku tidak kemana-mana”
“memangnya nggak bosen ya dick seharian di depan
computer?”
“ nggak kok bu, malahan aku senang”
“Bapak kemana bu, kok dari tadi Dicky tidak melihat
Bapak?”
“Bapak ikut bantu-bantu di rumah pak Lukman, kemaren pak
Lukman meminta Bapak untuk membantu dirumahnya.”
“itu, pak Lukman mengganti gentengnya, kata pak Lukman
mumpung sudah tidak hujan jadi menyempatkan untuk segera mengganti genteng.
Gentengnya sudah banyak yang bocor. Maklum sudah lebih dari 10 tahun belum
pernah diganti”
“ oww, begitu..”
Aku kembali
melanjutkan tulisanku. Sepanjang ku menulis, ku ditemanai lagu-lagu religi
milik hadad alwy. Aku mengidolakan hadad alwy. Selain karena suaranya
menentramkan, lirik lagunya sanngat menyentuh dan mengena. Semua album milik
hadad alwy aku mempunyainya.
Pukul 12
lewat, aku keluar ke masjid untuk menjalankan sholat Dhuhur. Selesai sholat
dhuzur ku mampir ke tempat pak tarno yang baru memperbaiki rumah. Sampai di
Rumah pak tarno ku bertemu Bapak-bapak yang ikut membantu pekerjaan pak tarno.kebetulan
mereka baru istirahat dan selesai makan siang dan sebagian mengerjakan sholat
dzuhur
“ dick, makan sekalian disini. Itu si Randy juga belum
selesai makan!” pinta pak Lukman kepadaku sambil menunjukkan kea rah samping
rumah. Kulihat Randy sedang makan sendiri.
“terima kasih pak, tapi saya sudah makan dirumah”
“baru sibuk ya dick, kok dari tadi tidak kelihatan”
Tanya pak Lukman
“iya pak, ada hal yang saya kerjakan. Maaf pak, saya
juga tidak tau kalau pak Lukman baru punya kerjaaan ganti genting.
“ah, nggak apa-apa dick. Bapak kamu kan sudah disini”
“bagaimana dick, sudah ada panggilan kerja belum?
“belum pak, ini masaih menunggu hasil tes wawancara
kemarin.”
“ow begitu, ya semoga kamu dapat kerjaan yang baik jadi
bisa bantu-bantu orang tua”
“amin”
“oh iya dick, kata Randy kamu kemarin habis menang lomba
menulis ya? Ternyata kamu bisa nulis juga ya?
“iya pak, alhamdulillah. Mungkin saya baru beruntung kok
pak.”
“jangan gitu Dick, saya rasa kamu memang punya bakat
menulis. Kata Randy kamu dapat juara 1. Itu kan hebat. Kata Randy juga lombanya
diikuti oleh banyak peserta.
“memang yang ikut banyak pak, tapi saya masih belajar
kok pak”
“kalau begitu, selagi kamu menunggu panggilan kerja kamu
bisa menambah ilmu tentang menulis.siapa tahu kalau rejeki kamu dari menulis”
“Iya pak, terima kasih sarannya”
“maaf Dick, saya mau melanjutkan kerjaan dulu. Bentar
lagi juga sudah selesai.”
“ iya pak, maaf saya malah mengganggu”
“ah, tidaklah dick” kata pak Lukman sambil tersenyum
seraya mengambil tangga yang mau dipakai naik ke atap rumah.
Ku melihat Randy selesai makan. Randy melihatku sambil
melambaikan tangannya. Tanpa menunggu lama aku menghampiri Randy.
“wah, kamu makanya mesti paling banyak ya. Yang lain
sudah selesai tapi kamu masih asyik makan sendiri.? Sapaku sambil meledek
Randy.
“ya enggak lah Dick” timpal Randy kemudian melanjutkan
ucapanya.
“aku tadi kan membantu menyajikan makanan ke
Bapak-bapak. Maklum kan aku sendiri yang paling muda.hehehehe”
“iya iya fren, ku tahu kok. Nggak usah serius begitu
lah. Oh iya Rand, kenapa kamu cerita tentang aku menang lomba nulis cerpen ke
pak Lukman? Padahal Bapak dan Ibuku saja
tidak aku kasih tahu.”
“ hemz, terpaksa kok Dick. Heheehe”
“ lhah..kok bisa terpaksa ? “ jawabku heran.
“ begini Dick, sebenarnya tadi aku nggak punya niat
mengasih tahu ke Pak Lukman dan Bapak-bapak yang lain.”
“lhaiya kenapa kok kamu kasih pengumuman?”
“yaah, sabar dulu Dick, tenang. Wah, kok malah jadi
pengumuman?” ucap Randy protes,
“Tadi kan Bapak-bapak kerja sambil cerita-cerita. Banyak
yang menceritakan anak-anaknya.
Mereka membanggakan anak-anak mereka. Aku
melihat Bapakmu sedikit menghindar dan hanya jadi pendengar saja. Kemudian
salah satu Bapak, aku lupa tadi siapa yang Tanya. Bapak itu Tanya ke Bapak kamu
tentang kamu, pekerjaaan kamu. Bapak kamu terdiam sejenak terus menjawab dengan
sagat berat kalau kamu masih menunggu panggilan.
Kulihat Bapakmu berusaha tegar
menjawab pertanyaan itu. Mendengar jawaban itu, pak Lukman ikut bertanya.
Kenapa kok kamu tidak diajak buat bantu-bantu kerja Bapakmu jadi tukang Las.
Terus Bapakmu member alasan kalau Bapakmu mengatakan nanti takut kamu tidak
konsentrasi. Jadi membiarkan kamu fokus untuk mencari pekerjaan saja. Terus ada
Bapak yang nyeletuk. sayang, kuliah mahal tapi nyari kerja juga susah. Pas
kesempatan itu aku member tahu ke Bapak-bapak yang ada disitu kalau kamu
kemarin ikut lomba menulis cerpen dan menang jadi juara satu.
Terus aku bilang
kalau tulisan kamu dimuat di Koran yang ada di kota. Ku bilang juga kalau
sebulan kedepan tulisan kamu akan muncul di Koran itu dan artinya kamu juga
mendapat uang dari honor menullis kamu. Mendengar kabar itu, Bapak-bapak yang
tadinya meremehkan sebuah pendidikan akhirnya tidak lagi berkomentar negatif.
Aku juga melihat Bapakmu kaget dengan kabar itu, tapi ku melihat rasa bangga
keluar dari wajah Bapakmu. Bukannya aku bermaksud untuk melebih-lebihkan kamu.
Tapi aku kan bicara kenyataan yang ada. Selain itu, aku tidak tega melihat Bapakmu
ketika dicerca dengan pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkanmu. Jujur saja Dick
aku sebagai temanmu dari kecil aku ikut bangga ketika aku tahu kamu menjadi
pemenang dalam lomba kemarin.”
Aku hanya terdiam mendengar penjelasan dari Randy, jujur
aku tidak marah dengan Randy. Bahkan aku harus berteima kasih padanya. Karena
sudah menyelamatkan Bapakku dari pertanyaan-pertanyaan yang aku yakin Bapakku
sangat sakit bila ada yang meremehkanku. Aku tahu Bapakku dalam hati marah bila
ada yang meremehkan pendidikanku. Aku juga tahu Bapakku orang yang sabar, dan
tidak suka marah. Namun dalam hati sebenarnya sedih dan sakit bila ada yang
meremehkan aku.
“ya sudah kalau begitu” ucapku pada Randy.
“jadi nggak apa-apa kan? Tanya Randy ingin dapat
kepastian dariku
“iya-iya” kuanggukan kepalaku sambil kulempar senyum.
“terus gimana nih hungan kamu sama Nana? Kulihat kalian
sangat cocok dank u merasa juga kalian sama-sama mengagumi satu sama lain.”
Tanya Randy sambil meledekku.
“wah, ku tidak bisa menjawabnya disini. Lain kali ku
jelaskan, yang jelas ku sama Nana hanya teman saja”
“lhok kok teman biasa sih????” Tanya Randy penasaran
“yah, pokoknya tidak bias kujelaskan sekarang dan
disini. Kalau mau minggu depan saja kujelaskan. Minggu depan tidak ada kegiatan
kan??? Bias temenin aku nyari DVD sekalian aku ceritakan semuanya. Oke??
Kulihat Randy sangat penasaran dengan jaawabanku.
“ya, insyAlloh kalau begitu”
“yaudah Rand, ayo kita bantu pak Lukman menaikkan
genteng. Itu Bapak-bapak sudah mulai menaikkan genteng.
Kami berdua segera membantu menaikkan genteng beersama
Bapak-bapak. Kami kerja sambil ngobrol santai. Kali ini topic pembicaraan khas
Bapak-Bapak. Tentang hoby mendengarkan lagu-lagu campur dan liat wayang. Aku
dan Randy hanya menjadi pendengar saja.
Kira-kira 1
jam setengah, genteng sudah dinaikkan semua dan sebagian sudah terpasang.
Karena sudah tidak ada lagi yang bisa
dibantu, aku ijin pulang kepada Pak Tarno. Kulihat Bapak masih diatas
memasang genteng. Randy masih membantu bersih-bersih sampai sore, karena Randy
masih family dengan Pak Lukman. Aku tidak pulang ke rumah, tapi langsung menuju
masjid. Kebetulan pakainaku tidak kotor, hanya tanganku yang sedikit kotor jadi
bisa dibersihin di masjid. Kulihat di masjid sudah ada muadzin yang siap-siap
mengumandangkan adzan.
Setelah
selesai sholat ashar, ku pulang. Membersihkan halaman rumah lalu mandi. Habis
mandi aku bergegas ke rumahnya Pak pos. selain ingin memberi kabar tentang
kemenanganku atas lomba, aku juga ingin bersilahturahiam kepada Pak Pos. hampi
sebulan aku tidak ke kantor pos.
Kulihat Pak
pos sedang duduk santai rumah. Dirumah, Pak pos hanya sendiri. Aku merasa iba
kepada Pak pos. Beliau hidup seorang diri tanpa keluarga. Anak dan istrinya
sudah meninggal. Sebenarnya Pak pos bisa menikah lagi, tapi beliau tidak ingin
melakukanya. Rasa cintanya kepada sang istri tidak bisa dibagi walau istrinya
sudah meninggal. Kalau siang bekerja dan kalau malam sering dihabiskan di
masjid, kalau kegiatan di masjid sudah selesai beliau pulang istirahat. Tiap
malam selalu sholat malam. Beliau juga menyarankan sholat tahajud tiap malam
kepadaku. Sudah bertahun-tahun melakukan puasa Nabi Dawud dan tidak terputus.
Dalam
membelanjakan hartanyapun tidak berlebihan. Beliau menjedi donator tetap
disebuah panti asuhan. Banyak hal yang bisa kuambil dari seorang Pak pos.
setiap aku ketemu Pak pos aura kedamainya selalu menyertai jiwanya.
Pak pos menyambut kedatanganku dengan
hangat. Beliau menyuruhku masuk. Kami ngobrol basa basi sebentar, kemudian Pak
pos masuk untuk mengambil minuman dan makanan kecil untuk disuguhkan kepadaku.
Aku meminta beliau untuk tidak usah repot, tapi beliau tidak menghiraukan
permintaanlku. Beliau mengatakan. Menghormati tamu itu disunahkan Nabi
Muhammad, jadi aku ingin menjalankan sunah Nabi. Begitu jawabnya kepadaku.
Seperti
tujuan awal aku datang menemui Pak pos. aku memberi kabar ke Pak pos kalau aku
berhasil memenagkan perlonbaan yang aku ikuti tentang penulisan cerpen. Seperti
dugaanku, Pak pos sangat senang dengan kabar kemenaganku. Senyum dan
kebhagiaanya datang dari dalam hatinya. Aku saangat senag melihat kegembiraan
yang dikelurkan dari wajahnya.
Tak lupa aku
meminta do kepada Pak pos untuk novelku yang akan aku tulis. Pak pos bilang
kepadaku kalau beliau akan selalu mendoakanku dan beliau yakin kalau aku akn
berhasil dan menjadi penulis hebat. Pak pos meyakini hal itu. Seperti biasa, Pak pos selalu mengingatkan
kepadaku agar selalu beribadah kepada Alloh dan jangan sampai melnggar
larangan-larangan Alloh dan agar aku selalu menjalankan semua perintah Alloh.
Tanpa
tersa hampir satu jam aku bertamu di rumah Pak pos. hari sudah menjelang
magrib, aku minta pamit ke Pak pos. karena tadi lupa tidak pamit sama Ibu. Aku
khawatir kalau aku sebelum magrib belum pulang. Ibu mencariku.
0 Response to "Bagian 16 Menggapai impian "
Post a Comment