Bagian 15 Nana pergi



Sementara di rumah Nana dibangunkan ayahnya, Nana disuruh pindah ke kamar karena sejak pulang ngantar ibunya belanja Nana ketiduran di sofa. Nana juga di ingatkan ayahnya kalu tadi Nana belum sholat Isya. Begitu melihat jam, Nana kaget bukan kepalang ternyata sudah jam 11. Padahal dia punya janji sama dicky untuk member jawaban tentang perasaanya kepada dicky. Nana segera ke kamar mandi ambil air wudhu dan sholat isya. Namun dalam sholatnya Nana tidak bisa khusyu dia ingat janjinya padaku. Setelah selesai sholat, Nana mengambil handphonnya yang ada di meja kamarnya. Betapa kagetnya Nana melihat panggailan tak terjawab sampai 10x dari aku.


Kemudian Nana segera menghubungiku namun nomerku sudah tidak aktif. Akhirnya semalam Nana malah tidak bisa tidur dan menyalahkan diri sendiri, kenapa tadi bias ketiduran. Memang Nana ketiduran karena dia sangat kecapekan. Karena sehabis seharian pergi denganku, setelah itu di ajak ibu berbelanja di supermarket untuk keperluan seihari-hari. Kebetulan yang belanja juga banyak dan antri. Seperti biasanya kalau hari sabtu sore banyak yang berbelanja di supermarket.
Nana memutuskan besuk pagi sebelum ke kantor mampir ke tempat dicky terlebih dahulu. Hati Nana tetap saja gundah,  Nana takut kalau aku salah paham denagan apa yang sudah terjadi. Tak bisa di pungkiri, Nana juga sudah jatuh hati padaku. Nana merasa nyaman bila bersamaku. Nana mengagumiku bukan semata karna wajahku namun disisi lain Nana menilaiku seorang yang tangguh, tidak mudah menyerah, optimis dan berpikiran positif. 
Nana mampu melihat kepribadianku walau belum terlalu lama mengenalnya. Selama bergaul denganku Nana juga terinspirasi dalam sisi religi. Nana lebih termotivasi untuk selalu meningkatkan ibadahnya. Nana merasa ada seseorang yang mau mengingatkan ketika adalah tingkah laku Nana yang kurang baik dalam agama. Seperti kalau sholat, Nana sering menundanya. Kalau sholat shubuh kadang tidak tepat waktunya. Namun semenjak kenal aku kebiasaan kurang baik itu kini sudah tidak ada. Aku sering mengingatkan Nana akan hal itu.

 Nana bersyukur mempunyai teman yang selalu mengingatkan dalam hal ibadah. Dalam berpakaianpun aku selalu memperhatikan, bahkan sering sekali aku mengatakan jikalau Nana pakai jilbab pasti akan sangat cantik. Memang, dalam hati Nana sangat ingin berjilbab namun Nana berdalih belum siap dan ingin menjilbabi hatinya dulu. Sebenarnya itu hanya sebatas alas an Nana, Nana masih belum percaya diri kalau harus memakai jilbab seterusnya. karena dulu

Nana pernah diejek tetangganya waktu memakai jilbab. Katanya kalau memakai jilbab bisa-bisa nanti tidak ada laki-laki yang mendekatinya karena kecantiknya akan tertutupi dengan adanya jilbab. selain itu juga pernah dikatain kalau memakai jilbab itu sok paham agama lah, sok alim lah. Jadi sampai sekarang Nana belum memakai jilbab untuk keseharian. Sekarang setelah mengenal Dicky dan dapat dorongan dariku dan pemahaman dariku niat Nana untuk memakai jlbab sangat kuat. Namun masih menuggu waktu yang tepat, entah seperti apa waktu yang tepat buat Nana
Bukan hanya masalah ibadah saja. Aku menjadi teman curhat yang baik untuk segala masalah. Aku bisa memberi saran yang tepat untuk setiap masalah. Untuk masalah kerjapun aku juga selalu member saran dan motivasi. Setelah memikirkanku, tanpa terasa Nana tertidur pulas.
Pukul empat tepat Nana dibangunkan oleh ibunya…
“bangun Na!”
“jam berapa sih bu??”Tanya Nana penasaran.
“jam 4.00”                                                             
“kan sholat shubuhnya jam 04.30..bu” ucap Nana sambil mengangkat selimut ketubuhnya lagi
“bukan begitu, tapi kamu harus segera bangun, kamu harus menyiapkan pakaianmu yang mau dibawa ke kampung. Nanti kita berangkat habis sholat shubuh.” Jawab ibu sambil menarik selimut Nana.
“ke kampung bu?, memang ada acara apa????”
“tadi pakdhemu telepon, memberi kabari kalau kakekmu meninggal, semalem kakek kena stroke lagi. Kakekmu meninggal dalam perjalanan menuju ke rumah sakit.
“innalillahi wainna ilaihi rojiun…
Nana segera bergegas untum menyiapkan pakaian yang akan dibawa ke kampung. Pikiran Nana kalut. Karena kabarnya mendadak dan harus segera beranngkat. Karena rumah neneknya juga jauh, sedang Nana juga harus ijin ke kantor kalau dia mau ambil cuti sekalian. 
Sebenarnya Nana belum boleh ijin cuti karena masih karena belum setahun bekerja diperusahaan. Namun perusahaan punya kebijakan boleh ijin cuti bila ada keperluan penting seperti anggota keluarga yang meninggal. Nana segera menulis surat ke atasanya untuk minta cuti dan akan dititipkan temanya satu kantor yang juga tinggal masih satu komplek dengan Nana.
       Setelah shubuh, Nana berangkat bersama Bapak dan Ibunya ke kampung Neneknya naik pesawat penerbangan pagi. Nana masih mencoba mengubungi nomer Dicky namun masih tidak aktif.
       Jam 11.00 siang Nana sampai di kediaman Neneknya. Seluruh keluarga besar Nana berkumpul. Selama ini, keluarga besar Nana berkumpul di Rumah Neneknya pada saat lebaran saja. Dan keluarga yang paling jauh rumahnya adalah keluarga Nana. Jadi keluarga Nana diminta tidak pulang selama seminggu, itu permintaan Neneknya.karena selama ini Nana beserta Bapak ibunya jarang bisa kumpul dengan keluarga besarnya.
       Di kampung ada saudara Nana yang sudah lulus D3 teknik mesin 3 bulan lalu ingin ikut keluarga Nana ke kota. Karena sudah 3 bulan nyari kerja di tempatnya belum dapat juga.
Namanya Ardy, anaknya tinggi besar. Jadi walau umurnya dibawah Nana namun kelihatanya seumuran sama Nana. Anknya sedikit seikit nakal dan, nilai kuliahnya juga standar. Ardy juga anak manja, karena Ardy anak pakdenya yang paling bungsu dan laki-laki sendiri dari 4 bersaudara. Orang tua Ardy sebenarnya berat melepas anaknya untuk pergi bersaa keluarga Nana namun Karena Ardy sendiri yang punya keinginan. 
Akhirnya mereka menyetujuinya. Dan berpesan kepada Bapak Nana untuk selalu menjaga dan memperhatikan Ardy. Tak lupa Nana juga diberi amanat untuk menjaga Ardy.

0 Response to "Bagian 15 Nana pergi"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel