Bagian 22 Akhirnya…. Mimpi itu Jadi Nyata

 

       Setelah hubunganku dengan Nana menjadi baik dan saling percaya, aku semakin optimis menjalani hari-hariku. Semangatku kembali meningkat. Novelku sudah selesai. Berjalan sesuai rencanaku. Aku mengantarkan tulisanku ke penerbit. Ada beberapa yang diedit agar lebih tepat penggunaan katanya.

       Setiap minggu aku mengagendakan buat bertemu dengan Nana. entah hanya dirumah atau ke mall sambil membeli sesuatu atau melihat film kesukaan. Aku sudah berkenalan dengan kedua orang tua Nana. setelah Nana datang kerumahku, minggu berikutnya aku gentian yang bertamu ke rumah Nana. waktu pertama kali aku main kerumah Nana, aku mengajak sahabatku Randy.

Tak kusangka ternyata Bapak Nana orang sangat baik dan welcome banget denganku. Aku merasa nyaman ssekali saat dirumah Nana. pandangan orangn tua Nana juga sangat terbuka dan demokratis. Aku sering mendapat motivasi dari Bapak Nana. Bapak Nana juga mendorong aku agar aku bisa menjadi penulis yang professional. Sehingga bisa dikenal orang-orang dan melalui tulisan aku bisa mengubah pandanngan anak-anak muda Indonesia yang sudah mulai salah mengenai kebebasan.

       Saat dirumah Nana, aku sudah dianggap seperti anak sendiri. Mereka sudah mengetahui perasaan diantara antara aku dan Nana. mereka mendukung, asal tidak melakukan yang melanggar sebelum menikah. Aku juga menghormati sekali mereka. Aku tidak ingin mengecewakan mereka.

       Sementara orang tuaku belum aku kasih tahu tentang perasaanku terhadap Nana. Nana hanya sekali datang ke rumahku. Hanya waktu itu saja. Bapak dan Ibu melihat perubahanku. Mereka menilai aku lebih cerah dan nampak bahagia. Ibuku rupanya tahu kalau akku sudah dekat dengan seorang wanita. Ibu melihat asekarang aku berpenmppilan selalu rapi dan memakai minyak wangi kalau mau pergi. Ibu sempat bertanya kepadaku siapa wanita yang dekat denganku saat ini. Aku pun akhirnya bercerita kepada Ibu kalau aku dekat dengan Nana. ku pun menyampaikan kepada Ibu kalau aku mencintai Nana.

       Kulihat ibu sangat mendukungku. Awalnya ibu tidak percaya karena setau ibu pacar Nana aadalah Ardy yang waktu itu juga datang ke rumah berssama Nana. setelah aku jelaskan tentang kejadian waktu itu, ibu merasa lega. Kabar ini pun denagan cepat sampai ke telinga Bapak. Bapak tak kalah senengnya dengan Ibu saat tahu kalau aku dekat dengan Nana.

       Cerpenku yang muncul di Koran nasional setiap minggu menjadi perhatian tetangga dan orang-orang yang mengenalku. Mereka banyak yang memuji cerpenku. Aku mendapat banyak ucapan selamat dari mereka. Teman-teman kuliahku pun banyak yang menghubungiku dan memberi ucapan selamat kepadaku.

       Buku kumpulan cerpen dari finalis lomba sudah diterbitkan. Dan mendapat tanggapan yang positif dari masyarakat sastra khususnya. Aku yang tidak mempunyai ilmu mengenai satra mendapat banyak pujian, dan sedikit kritikan dan beberapa masukan.

Aku belajar tentang satra sewaktu sms itu saja hanya seppintar, karena waktu SMA aku sangat suka pelajaran Bahasa Indonesia terlebih kalau disuruh mengarang. Hanya sebatas itu saja aku belajar tentang sastra. Namun ku juga suka membaca novel dan kimpulan cerpen waktu masih kuliah.

       Dari buku kumpulancerpen aku juga mendapat royalty dari hasil penjualan buku itu. Memang sambutan dikeluarkanya buku kumpulan cerpen kurang seantusias kalau ada novel yang diluncurkan. Apalagi kalau penulis novelnya terkenal. Pasti masyarakat akan menantikan peluncuranya. Bahkan diluar negeri, pengarang novel bisa jadi orang yang terkenal dan penghasilannya melebihi para pengusaha dan berhasil duduk dijajaran orang terkaya di dunia. Memang benar-benar hebat. Apalagi sekarang banyak novel yang kemudian di filmkan. Jadi peenghasilan penulis bisa semakin meningkat lagi.

       Setelah sebulan berlalu terhitung saat aku memberikan novelku kepada penerbit. Novelku sudah dicetak dan besuk minggu akan dilaunching di toko buku. Aku senang sekali, aku diminta melakukan bedah buku sekaligus launching perdana novelku. Berita tentang akan diluncurkanya novelku sudah terdengar di kampungku. berita tentang diluncurkanya novelku juga di muat di Koran. Jadi bayak yang tahu. Aku bersyukur dan berharap novelku bisa diterima oleh masyarakat dan banyak yang suka dengan novelku.

       Minggu pagi aku bersiap-siap untuk menghadri peluncuran Novelku di toko buku di kota. Aku juga meminta Nana juga hadir dalam peluncuran novelku. Nana menerimanya dengan senang hati.

       Aku sampai di took buku tmpat peluncuran novelku. Sudah ada beberapa orang yang hadir. Mereka rata-rata para pecinta novel. Mereka antusias menunggu peluncuran novelku. Memang bagi oranng awam masih tidak begitu tertarik dengan acara-acara seperti ini. Karena aku sendiri juga belum begitu dikenal, paling baru di kampungku saja aku terkenal. Namun aku tetap semangat untuk menjalaninya. Aku berharap novelku mendapat samburtan positif dari pecinta novel di seluruh Indonesia. Dan tentunya diawali di kota ini. Alhamdulillah penerbit yang mencetak novelku mempunyai jaringan diseluruh Indonesia jadi novelku akan diedarkan diseluruh Indonesia melalui jaringan took buku yang sudah ada.

       Peluncuran buku sudah dibuka. Peserta yang ikkut bedah buku sekitar 50 orang. Ya lumayan untuk seorang penuliss pemula, jumlah itu sudah cukup baik. Apalagi di kotaku yang tidak terlalu besar seperti Jakarta.pertanyaan dmi pertanyaan bisa ku jawab dengan lancer. Kulihat Nana juga menyaksikan beda buku di tempat duduk peserta. Nana juga antusias mengkuti acara ini.

       Satu jam sudah acara berlangsung. Di akhir acara ada pertanyaan terakhir yang disampaikan peserta yaitu mengenai siapa orang-orang yang menjadi inspirasi dalam tokoh yang di tulis. Dan siapa orang yang memberi dorongan sehingga aku mampu menyeesaikan novel ini sesuai target. Ku menyebutkan Nana sebagai seoranng telah mendorongku untuk serius dalam menulis sehingga mampu selesai lebih cepat. Tak lupa ku juga menyebutkan kedua orang tuakau dan Pak pos yang telah memberi dorongan dan menjadi sumber inspirasi untuk tetap semangat.

       Tak kusangka, setelah kuperhatikan, Pak pos juga mengingkuti peluncuran bukuku. Beliau duduk di deretan kursi yang paling akhir. Rupanya Pak pos mengetahui acara ini dari informasi yang ada di Koran. Tentunya aku sangat senang sekali melihat kedatangan Pak pos.

       Setelah acara selesai, Pak pos menghampiriku untuk memberi selamat. Pak pos mengatakan kalau beliau bangga kepadaku. aku ajak Pak pos untyuk menemui Nana yang masih duduk di kursi peserta. Aku mempenalkan Nana kepadanya.

“wah, Bapak ketinggalan informasi untuk yang satu ini.heheheeh” canda Pak pos

Aku dan Nana hanya tersenyum mendengar ucapan Pak pos. kemudian Pak pos berbisik kepadaku  “ cantik, pas buat kamu” kemudian Pak pos melnjutkan berkata kepada kami berdua.

“jadi kapan akan diresmikan? Menunggu apa lagi?”

“minta doanya pak, insyaAlloh tidak lama lagi” jawabku kepada beliau

Kemudia Paak pos menepuk pundakku sambil berkata “ tentu saja, Bapak akan mendoakan kalian, semoga semuanya lancer dan kalian cepat menikah”

       Park pos pamit mau pulang terlebih dahulu. Masih ada pekerjaan yang menunggu. Ta lupa kubersalaman denagnnya. Melihat Pak pos pulang dan yang lain juga sudah pulang, aku minta ijin kepada panitia untuk pulang. Sebelum pulang, aku dan Nana makan terlebih dahulu sambil bercerta banyak dan sedikit mengevaluasi acara bedah buku tadi. Kami makan di warung makan di pinggir jalan sebelah toko buku.

“menurut kamu bagaimana Na acara tadi?”

“bagus sih, cumin ada beberapa yang kurang”

“apa yang kurang?”

“tadi kamu kurang senyum, dalam menjawab kadang kurang konsentrasi”

“iya sih Na, aku tadi masih grogi sekali. Apalagi waktu diawal-awal. Tapi insyaAlloh kedepan akan jauh lebih baik”

Tapi bagusnya tadi peserta banyak yang antusias ingin tahu tentang novel kamu. Aku rasa itu sangat positif sekali.

“iya juga, tapi aku sampai kualahan menjawab pertanyaan dari peserta yang mintanya detail. Namun aku cukup senang dan masih bisa teratasi.

       Kami berdua menghentikan sebentar obrolan kami, karena makanan yang kami pesan sudah di depan mata. Kami tidak ingin ngobrol sabil berbicara. Setelah selesai makan, kami melanjutkan obrolan kami.

“oh iya Na, tadi itu Pas pos yang pernah aku ceritakan. Aku tidak nyangka, beliau meluangkan waktunya untuk datang.”

“aku baru tadi melihat Pak pos yang sering kamu ceritakan itu Dick, walau hanya sekilas aku mampu melihat ketulusan yang terpancar dari diri Bapak itu. Aku pun suka dengan belliau”

       Setelah selesai makan, kami pulang masing-masing. Tadi Nana naik bus. Aku mengantar dan mununggu Nana sampai ada bus yang datang. Tak berapa lama, bus yang ditunggu Nana sudah datnag. Nana pun naik dan pamitan kepadaku.dengan mengucapkan salam. Lalu aku bergegas mengambil motor dan segera pulang.

       Sesampapinya di rumah Ibu dan Bapak sudah menantiku. Mereka ingin tahu bagaimana acaranya tadi. Mereka antusias mendengar kabar dariku.

“Alhamdulillah Pak, tadi berjalan lancer. Walau ada sedikit kekurangan tapi semunya berjalan sukses. Peserta yang hadir cukup puas dengan jawaban Dicky. Hampir saemua menyukai novel Dicky pak. Ini pak Dicky membawa novel karya Dicky buat Bapak dan Ibu.”

Bapak mengambil buku yang aku kasih sambil membuka-bukanya. Ibu mendekat bapak dan ikut melihat bukuku.

“terus untuk penjualanya bagaimana Dick, katanya buku ini di jual di seluruh Indonesia?”

“iya pak, Alhamdulillah buku Dicky mulai hari ini sudah bisa di beli di took buku di seluruh Indonesia. Untuk penjualanya akan di update setiap minggunya. Karena Dicky penulis baru jadi belum banyak orang yang tahu, jadi harus di promosikan terlebih dahulu. Pihak penerbit sudah melakukan promosi juga jadi Dicky hanya menunggu dan mulai minggu depan Dicky banyak mendapat undangan bedah buku. Jadi kemungkinan Dicky juga akn sering keluar kota pak.”

“yah, tidak apa-apa Dick. Lakukanlah dengan senang hati. Bapak dan Ibu di rumah selalu mendoakanmu.

“oh iya Dick, tadi Ibu sudah menelpon kakamu yang dijakarta dan memberi tahu kalau bukumu sudah di terbitkan. Tadi kakakmu juga akan membeli buku.” Tambah Bapak

“iya Pak, tadi kakak juga sudah menelpon Dicky. Katannya tadi di Jakarta juga sudah ada buku Dicky. Biasanya peluncuran buku diadakan di Jakarta pak, tapi karena Dicky orang daerah jadi peluncuran dilakukan di daerah. Tapi insyaAlloh bulan depan Dicky juga ke Jakarta. Akan diadakan bedah buku di jakata.”

Bapak dan ibu sangat senang mendengarnya. Baru kali ini aku melihat Bapak dan Ibu sebahagia seperti ini. Mereka terlihat bangga kepadaku

“Bapak, Ibu aku minta doanya ya, mudah-mudahn buku Dicky bisa jadi bestseller.”

 

       Sebulan sudah berlalu. Aku sibuk menghadiri undangan bedah buku baik di dalam kota maupun luar kota. Seminggu ini aku keluar kota terus, jadi tidak sempat pulang ke rumah. Kabar dari penerbit kalau bukuku masuk cetak ke 2. Dan sudah menjadi bestseller. Novelku menjadi topic pembicaraan di masyarakat. Kegiatan bedah buku mulai di liput oleh media baik media cetak maupun elektronik.

       Waktu aku pulang ke rumah aku menyempatkan diri untuk menemui Nana I rumahnya.  Hubunganku dengan Nana juga semakin serius. Kedua orang tua sudah menyetuji hubungan kita. Kita sudah membicarakan masalah pernikahan, tapi semntara di tunda dulu. Karena aku masih disibukkan menghadiri undanngan keluar kota. Jadi aku harus focus dulu.aku dan Nana merencanakan pernikahan 3 bulan lagi.

       Sepulang dari rumah Nana aku mampir kerumahnya Pak pos. seperti biasanya aku disambut dengan gembira oleh beliau. Ku melihat bukuku di pajang di rak buku paling depan. Beliau sangat bangga sudah memajang buku hasil karyaku. Aku membawa sedikkit oleh-oleh kepada Pak pos. beliau menerima dengan senang hati, tak lupa aku minta doa restu kepannya agar selalu diberi kelancaran dan kemudahan.

Minggu depan aku diundang ke Jakarta. Akan ada bedah buku bersama penulis Indonesia yang sudah terkenal. Aku harus menyiapkan semunya. Walau masih pendatang baru, namun aku tak mau mengecewakan orang yang telah mnegundangku. Dan aku harus memanfaatkan kesempatan dengan sebaik-baiknya.

Waktu berjalan dengan cepat. Aku sudah menyelesaikan bedah buku di jakarta. Diluar perkiraanku. Peserta yang hadir membludak. Maklum ada artis yang di undang dan dibarengkan dengan bedah buku karya penulis yang sudah terkenal. Bukuku di bedah di urutan pertama sebagia pembuka. Tapi justru menguntungkan akau, karena peserta masih fresh. Awalnya aku merasa grogi, namun aku bisa mengatasinya. Peserta menngikuti acara penuh antusias, dan banyak sekali petanyaan ditujukan padaku. Aku berusaha memuaskan mereka dengan menjawab semaksimal mungkin. Setelah selesai aku mengikuti acara bedah buku berikutnya di belakang.beberapa peserta menghampiriku dan menyampaiakan kalau mereka penasaran dengan buku dan ingin membelinya. Dan sebagian yang memang sudah punya novelku, mereka minta aku menandatanginya. Aku juga sempat diwawancarai pencari berita dari tabloid dan beberapa Koran nasional dan local. Setelai selesai semuanya, aku kembali pulang ke kota kecilku.

Seminggu kemudian aku mendapat kabar dari penerbit kalau penjualan novelku di Jakarta meningkat tajam. Rupanya berita tentang novelku menyebar di dunia maya melalui facbook dan twitter. Aku bersyukur banyak orang memberi sambutan yang positif terhadp karyaku. Dari penerbit memintaku untuk membuat karya yang baru lagi. Mereka bilang ini momen yang tepat, karena sudah banyak yang menanti karyaku berikutnya. Dan sudah banyak yang menjadi penggemarku.

Kini pendapatanku dari hasil royalty penjual buku sudah melebihi dari yang ak harapkan. Tak lupa dari penghasilanku untuk di infakan da sebagian lagi aku menabungnya. Aku ingin membahagiakan kedua orang tuaku dengan memberi mereka sesuatu. Karena selama ini aku belum pernah memberi sesutu kepada mereka.

 Setelah bertanya kepada Nana tentang apa yang tepat untuk diberikan kepada kedua orang tuaku. Nana menyarankan agar aku memberikan mereka pakaian muslim dan alat-alat sholat. Jujur, aku bingung untuk memberika sesuatu kepada mereka. Kata Nana sebenarnya apapun yang aku berikan pastinya mereka akan senang namun kata Nana lebih baik yang bermanfaat. Ku sepakat dengan pemikiran Nana, kemudian aku meminta tolong kepada Nana untuk membelikanya, karena aku kurang bisa dalam memilih yang bagus.

Nana datang kerumahku dengan membawa hadiah yang akan aku berikan kepada Bapak dan Ibu. Kemudian aku memmberikan kepada mereka berdua. Bapak dan Ibu sangat senang dan terharu atas pemberiankku. Walau harganya tidak seberapa, namun mereka menilai sebagai pemberian yang sangat special. Apalagi di dapat dari hasil pekerjaanku. Bapak berkali-kali megatakan kepadaku kalau beliau sangat bangga kepadaku. apalagi setelah novelku diterbitkan dan sukses. Banyaak tetangga dan teman-teman Bapak yang memuji Bapak karena mempunyai anak seperti saya.

Jujur pengakuan Bapak atas rasa banngganya terhadapku adalah sesuatu yang sangat membahagiakanku dan menjadikanku lebih bersemangat untuk terus memberikan yang terbaik buat Bapak. Selama ini Bapak bekerja membanting tulang untuk menghidupi keluarganya. Membiayai sekolah dan membiayai kuliaahku. Kakak laki-lakiku hanya sekolah sampai bangku SMA sedangkan aku sampai kuliah. Kakaku setelah lulus SMA langsung ke Jakarta untuk mencari kerjaan. Hanya sebagai buruh di Jakarta. Dan akhirnya menikah dan tinggal di Jakarta. Bisa dibilang belum membantu kedua orangntua dan membanggakan mereka. Untuk membiayai aku kuliah, Bapak rela menjual tanah dari warisan kakek. Beberapa kali harus hutang kepada tetangga dan itu tidak mudah, karena sering mendapat celaan dari tetangga. mereka bilang kalau memang tidak mampu membiayai kuliah tidak perlu dilnjutkan dan menyuruh aku untuk bekerja saja.

Setelah aku luluspun tidak serta-merta semua masalah selesai. Karena aku harus menganggur hampir satu tahun. Dan itu sangat membebani Bapakku. Aku tahu Bapak sayang sekali kepadaku namun tak pernah Bapak menunjukkannya kepadaku. Dan ketika Bapak mengatakan bangga kepadaku, hatiku luar biasa bangga dan sangat terharu dengan ungkapan Bapak itu.

Saat aku masih berkumpul dengan Bapak dan Ibu. Tiba-tiba HP ku berdering. Ada panggilan dari nomer yang tidak aku kenal.

“assalmualaikum”

“waalaikumussalam” jawabnya

“maaf ini siapa ya?” tanyaku

“saya choirul maz. Sebelumnya saya minta maaf mas sudah mengganggu. Saya mendapat nomer mas Dicky dari penerbit. Begini mas, saya mewakili dari tim kalifah yang membuat film-film religi. Kami dari khallifah mau minta ijin kepada mas Dicky, kami ingin memfilmkan Novel mas Dicky. Kami berharap dengan dijadikan Film lebih banyak lagi masyarakat yang akan mendapat manfaatnya. Bagaimana mas?”

“wah, aku sangat senang sekali mas kalau kalifah berencana memfilmkan novelku mas. Justru ini sebuah penghormatan buat saya mas” jawabku senang

“oke kalau memang begitu. Oh iya, kami dari Tim meminta bantuan Mas Dicky untuk sekalian membuat skenarionya. Agar filmnya bisa sebagus novelnya. Dan nanti kami juga meminta mas Dicky untuk ikut dalam mengcasting pemainya. Kami ingin filmnya benar-benar sesuai dengan Novelnya”

“wah, saya bersedia mas. Saya akan segera membuat skenarionya”

“besuk tim kami akan menyiapkan kontrak kerja samanya, saya dengar mas Dicky lusa mas Dicky ada acara di Jakarta. Jadi nanti kami akan menghubungi mas Dicky lagi kalau suddah di Jakarta”

“iya mas, terima kasih”

“sama-sama, wassalamualaiku”

“waalaikumussalam”

       Ku letakkan telepon, lalu menuju ke teras bersama Bapak, Ibu dan Nana. aku menceritakan kepada mereka tentang apa yang baru saja terjadi. Mereka tersenyum bahagia. kami melanjutkan kembali pembicaraan kami. Ibu terlihat sangat dekat sekali dengan Nana. kemudian Nana dan Ibu masuk ke dapur untuk menyiapkan makanan untuk makan siang. Aku dan Bapak ngobrol berdua diteras.

       Bapak menanyakan hubunganku dengan Nana. Bapak mengatakan kalau Nana beberapa kali datang ke rumah sewaktu aku di Jakarta. Nana sering membawakan makanan kesukaan Bapak dan Ibu. Bapak mengatakan kalau beliau ingin punya cucu dariku. Aku sendiri juga sudah berfikir untuk melamar dan menikahi Nana tahun depan. kemudian Bapak memberi banyak masukan dan menceritakan pengalamanya waktu memasuki  pernikahan 35 tahun yang lalu. Aku hanya mendengar dan memperhatikan nasehat dari Bapak sampai akhirnya Ibu datang untuk meminta kami untuk makan bersama di dalam.

 

 


0 Response to "Bagian 22 Akhirnya…. Mimpi itu Jadi Nyata "

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel