Bagian 4 Kisah Cintaku



          Ketika malam sudah beranjak, aku menonton televisi bersama keluargaku. Biasanya setelah acara makan malam keluargaku selalu berkumpul untuk nonton TV bersama. Meskipun kami mempunyai selera yang berbeda-beda dalam menonton TV tapi kami berusaha untuk menonton TV bersama walau hanya sebentar saja setelah acara makan malam. Misalkan saja Bapakku yang sukanya menonton acara berita, seringkali menonton isi berita yang sama dari stasiun TV yang berbeda.

          Ibuku lain lagi yang sukanya nonton sinetron yang sering tidak masuk akal. Namun Ibuku terlalu terbawa arus oleh cerita sinetron sampai kebawa emosi. Kadang Ibuku sebel sekali dengan tokoh yang ada di sinetron sampai-sampai sudah ganti sinetron dan berganti peran yang baik tapi Ibuku tetap saja membencinya. Kalau kak Handy sukanya nonton film yang actionnya dasyat atau kungfu. Dia nggak peduli ceritanya bagaimana yang penting ada adegan berkelahi. Beda lagi sama kak Rheina yang sukanya film India yang sealu diikuti tari-tarian dan cerita yang sangat romantis. Tapi sekarang kak Rheina sudah tidak tinggal bersama kami lagi. Lima tahun yang lalu kak Rheina menikah jadi sekarang dia tinggal dengan suaminya.
           Kalau aku sendiri sukanya acara music seperti konser live apalagi kalau acara realilty show musik dalam pencarian bakat-bakat baru dalam dunia musik. Selain acara musik adalagi acara yang sangat aku sayngkan untuk kutinggalkan yaitu film dari holywood baik bertema cinta, tragedy pembunuhan atau kepahlawanan seorang superhero. Tapi aku juga akan antusias sekali untuk nonton film Indonesia dibioskop bila ada film baru Indonesia yang kualitas ceritanya bagus dan didukung dengan acting dari para pemeran yang maksimal dan terlihat natural. Pasti aku tidak akan melewatkannya.
          Tapi kini dirumah hanya ada aku, Bapak dan Ibu jadi tidak seheboh seperti dulu lagi. Kak Handy juga sudah menikah dan tinggal di Jakarta. Setelah nonton TV sebentar bersama Bapak dan Ibu, aku minta ijin untuk masuk kamar karena aku sudah sangat capai sekali dengan kegiatanku tadi siang. Kurebahkan badanku ke kasur sambil melihat fotoku bersama teman-temanku yang menggantung di dinding kamarku. Baik bersama teman kampusku ataupun teman kampungku yang juga teman sewaktu aku masih duduk dibangku sekolah. Pikiranku terus menerawang ke masa-masa bahagia bersama teman-temanku.
          “Tak terasa waktu bergulir begitu cepat, serasa baru kemarin aku bermain bersama teman-teman kecilku. Tetapi sekarang mereka ada yang sudah berkeluarga, ada yang merantau ke Ibukota dan ada juga yang masih tinggal dikampung bersamaku”. Kemudian bayangan gadis yang kulihat siang tadi muncul di benakku. “Gadis itu namanya siapa ya? Dia berasal dari daerah mana?” anganku terus melambung. “ kenapa juga aku tidak langsung berkenalan dengan dia saat istirahat.” Nada penyesalan muncul dihatiku. “ ah kalau aku berjodoh dengan dia pasti suatu saat akan bertemu kembali” kucoba untuk menghibur hatiku.
          Gadis itu mengingatkanku pada seseorang yang pernah singgah lama dihatiku. Namun kini dia tiada kabar beritantanya lagi. Meski kata cinta tak sempat terucap saat itu namun cinta itu cukup menggelora di hatiku. Dan aku juga mampu mersakan hal yang sama terjadi padanya. Seseoarng itu adalah Ita, temen dekatku saat SMA. Bahkan karena terlalu dekat dan akrab sampai-sampai semua orang mengira kalau aku sama Ita sudah pacaran. Kami memang sangat dekat sekali dan sudah saling mengerti. Sayangnya aku terlambat untuk mengerti kalau sebenarnya yang aku rasakan kepadanya itu adalah sebuah cinta yang sebenarnya dan cinta itu sudah bersamayam dalam hatiku hingga memnyatu dalam hidupku.
          Sebenarnya waktu itu Ita juga mencintaiku hanya saja dia sudah lelah menunggu kata cinta dariku yang tak pernah terucap dari bibirku dan akhirnya dia menyimpulkan kalau aku tidak mencintainya. Dan menerima cinta orang lain yang sebenarnya Ita tidak mencintainya. Memang aku yang kurang sensitive terhadap tanda-tanda cinta yang diberikan Ita kepadaku. Ita selalu memberiku hadiah ketika berulang tahun. Sedangkan aku tak pernah sekalipun memberi hadiah saat Ita ulang tahun. Sebenarnya aku sudah mulai menyadari akan cinta itu tapi aku masih ragu dan enggan mengakuinya. Dia hanya ingin punya pacar yang sesungguhnya dan mennjukkan pada orang kalau dia juga bisa mendapatkan pacar. Setelah Ita mulai pacaran, hubungan kamipun jadi semakin jauh.
          Tidak banyak orang yang tahu tentang kisah cintaku karena aku sangat pandai menyimpan rahasia hatiku rapat-rapat. Aku jarang membagi rahasia hatiku pada orang lain. Hanya ada satu orang yang tahu betul bagaimana kisah cintaku dimulai karena kepandanyalah seringkali kucurahkan isi hatiku. Dan orang itu adalah Noordin, Noordin adalah sahabtku dari kecil, dia tumbuh bersamaku hingga kini kami sama-sama dewasa. Mulai dari sekolah TK sampai SMP kami selalu satu sekolahan. Bahkan dari TK sampai kelas 5 SD kami selalu duduk bersebelahan. Hanya waktu kelas 6 saja kami tidak duduk besebelahan, itupun dikarenakan dipisahkan oleh Ibu guru. Waktu itu, Ibu guru menginginkan kami dan temen kami yang lain untuk bersebelahan dengan lawan jenis kami. Entah apa tujuan Ibu guru saat itu. Yang aku tahu hanyalah patuh kepadanya.
          Noordin yang bisa dibilang seumuran denganku, walaupun sebenarnya aku lahir lebih dulu namun karena masih ditahun yang sama jadi perbedaaan itu tidak tampak. Kami sering melakukan kegiatan bersama-sama mulai dari mengeerjakan PR sampai bemain. Tak jarang pula kami beselisih paham dan berkelahi hanya untuk memperebutkan hal-hal kecil. Namun sekarang Noordin bekerja di Ibukota dan sudah berkeluarga. Dia menikah muda, karena dia lulus SMA langsung bekerja jadi dia sudah cukup mapan.
          Selain pernah merasakan cinta yang tak kesampaian waktu SMA. Dulu aku pernah jatuh cinta kepada Ina sewaktu SMP. Mungkin orang bilang itu hanya cinta monyet tapi waktu itu aku merasa seperti jatuh cinta yang sebenarnya. Meski merasakan cinta tapi aku malah malu sekali bila bertemu dengannya. Cinta itupun berawal dari teman-teman sekelasku yang menjodoh-jodohkan aku dengannya. Sebenarnya olok-olok temanku dengann menjodohkan aku dengan ina sangat merugikan aku. Karena sebelumnya aku sangat akrab sekali dengan Ina namun setelah kejadian temen-temen menjodoh-jodohkakn kakmi berdua kami malah jadi malu sekali dan hubungan kamipun semakin menjauh. “Betapa menggelikan sekali kejadian waktu itu” pikirku.
          Aku jadi teringat saat pertama kali mendapat kiriman surat cinta dari pengangumku. Saat itu aku masih duduk dibangku SD kelas enam. Entah perasaan apa yang ada dibenak teman kecillku itu sehingga dia berani mengirimiku surat cinta. Aku masih ingat sekali kejadian itu. Saat itu aku baru bermain dengan Noordin. Tiba-tiba Titin menghampiriku dan menyampaikan surat dari Usy. Titin berpesan kalau besok ditunggu surat balasanya. Aku yang baru pertama menerima surat cinta merasa deg-degan dan takut. Apalagi Noordin tahu persis kalau aku dapat surat cinta. Takutnya kalau Noordin memberi tahu orang tuaku atau teman-teman sekelas. Bisa sangat malu sekali aku.
          Sepulang sekolah aku mulai membuka surat cinta di kamar mandi. Dengan perasaan takut kubaca surat itu. Usy mengatakan kalau dia naksir aku dan yang bikin aku deg-degan Usy menulis kata I Love You. Bagiku kata I Love You tidak pernah terlintas di otaku sama sekali. Setelah selesai kubaca surat itu kubasahi dengan air lalu kumasukkan ke WC. Aku sangat takut kalau ada orang lain yang membacanya. Tapi keputusan itu kusesali sekarang. Kalau surat itu masih kusimpan sampai sekarng kan bisa menjadi bukti dari perjalan cintaku. Hari itu semalaman aku tidak bisa memejamkan mataku. Aku bingung sekali bagaimana membalasnya. Sedangkan aku sendiri belum tahu yang namanya cinta. Terlebih lagi aku takut kalau ketahuan semua teman-teman disekolah. Akhirnya waktu itu kuputuskan untuk tidak membalasanya dan melupakanya. Tapi Titin dan Usy menagih aku untuk segera memberinya surat balasan. Karena aku memang belum tahu tentang cinta dan belum bisa merasakanya, tak kupedulikan permintaan Titin dan Usy. Yang membuatku menjadi lega Noordin juga tidak pernah membocorkan rahasiaku itu sampai akhirnya masalah pun menghilang bersama waktu yang terus berjalan.
          Kerika kini aku memikirkanya kejadian saat itu, aku bersyukur belum sempat terlibat pacaran. Walau waktu itu aku juga merasakan cinta, ternyata hanya cinta monyet dan sesaat saja. Alhamdulillah aku berada dilingkungan yang tidak mengijinkanku pacaran. Mungkin bagi remaja, tidak pacaran adalah hal yang bisa menjadi ejekan. Namun bagiku sebuah kebanggan karena tidak ikut terlibat yang bisa membuatku menerjang hokum agama. Aku masih bisa menjaga dirikku. Walau banyak teman-teman yang gaya bepacaranya sudah melewati batas, namun aku masih tetap berpeganng teguh pada ajaran agama islam yang tidak menganjurkan pacaran. Kalau memang sudah siap dan mampu serta salling mencintai lebih baik segera menikah saja. Itu pula yang menjadi prinsipku saat ini.

                                              


Bagian 5

Lari pagi

          Udara malam yang dingin menyelimuti seluruh kulitku. Lama kelamaan aku tak tahan dengan dinginnya udara yang menusuk kulitku. Kucoba untuk membuka mataku perlahan, kilauan lampu kamarku menyilaukan mataku. Kulihat jam weker yang berada di meja samping kananku, jam menunjukkan pukul 04.00. Rupanya semalam aku ketiduran sampai belum sempat mematikan lampu kamar. Segera kubasuh mukaku seraya kuambil air wudhu. Sebentar lagi waktunya subuh. Sembari aku menunggu saatnya sholat shubuh lebih baik kubaca kitab suci Al-quran.
          Seusai kujalankan kewajibanku. Seperti biasa kubersihkan halaman dan kusiram tanaman yang ada dipekarangan rumah. Kuliah ada beberapa orang sedang berolah raga melewati depan rumahku. Karena sudah lama tidak berlari pagi, Akupun ingin berlari pagi. Dengan penuh semangat aku ambil sepatu lalu kuayunkan langkah kakiku menuju taman dekat pasar. Karena ditempatku biasanya tujuan akhir dari lari pagi adalah di pasar pagi. Jam enam pagi biasanya orang-orang berlari pagi berbaur dengan ibu-ibu yang berbelanja. Sebagian ada yang cuman sekedar melihat-lihat, sementara sebagian yang lain ada yang sarapan di pasar.
          Tanpa sengaja aku melihat sosok yang kukenal sedang berjalan sendirian. Aku mencoba untuk mengingatnya karena dia kelihatan berbeda. Tak butuh waktu lama akupun ingat kalau wanita itu adalah Usy. Tapi sekarang Usy tampak lebih langsing dan kelihatan cantik. Tak seperti empat tahun yang lalu sebelum dia pergi keluar negeri untuk menjadi TKI selepas lulus SMA. Ku coba menghampiri dan menyapanya.
 “Hai Usy, sedang lari pagi ya? Kok sendirian?”
“Hai juga Dick Iya nich baru lari pagi. Kangen banget dengan suasana pagi di kampung.”
“ O..iya dengar-dengar katanya kamu ke Malasyia, wah sudah sukses dong?”
Usy mengajakku duduk ditempat yang lebih nyaman seraya menjawab pertanyaanku.
“Sukses apaan, kamu dong yang sukses. Seminggu yang lalu aku baru pulang dari Malaysia, biasa kontraknya sudah habis. makanya aku kangen banget dengan suasana sejuk dikampung. Kamu udah lulus belum dic?”
“Sudah sih, hampir tiga bulan yang lalu. Ada renncana balik lagi nggak ke Malaysia?
“Nggak ah, cukup empat tahun saja. Takut jadi perawan tua, teman- teman seumurku yang disini kan udah banyak yang nikah. Bahkan sudah ada yang punya anak” jawab Usy sambil mengambil permen dikantongnya. Taklupa dia membaginya denganku.
“Nggak juga, masih banyak kok yang masih memngejar karir. Tapi ya tergantung pribadi masing-masing. Memang banyak juga yang sudah menikah dan punya anak. Tapi bisa juga kok dijalanin dua-duanya. Justru itu pilihan yang sangat bagus. Jangan-jangan kamu pulang memang untuk nikah.”
“Gila apa, pulang aja baru seminggu. Mau nikah sama siapa. Pacar saja belum punya?”
“Kali saja dapat pacar di Malasyia atau sudah di jodohkan ortumu”
“Boro-boro mikirin pacar, di sana yang hanya kerja, kerja dan kerja. Memangnya di jaman apa, sitinurbaya? pakai acara dijodohkan segala.” Kilahnya serius.
“Jaman sekarang juga masih ada kok, nikah karena dijodohkan. Kalau memang cocok nggak ada salahnya juga”
“Dulu sih kamu tidak mau jadi pacarku” tanya Usy menggoda.
“Coba waktu itu kamu semenarik ini pasti aku mau jadi pacarmu” jawabku sambil balik menggodanya.
”Sudah ah mbahas pacarnya. Kamu sendiri sudah kerja dimana sekarang?”
.”Ya itulah yang membuatku pusing. Ini sih masih berusaha mencari kerja tapi belum dapat juga.”
“Sabar saja jangan sampai menyerah. Nanti nkalau wakttunya akan dapat juga. Kenapa nggak buka usaha saja?”
“Mau minjamin modal ya kayaknya. Dari malasyia kan biasanya bawa uang banyak?”
“Bawa uang banyak apaan. Hampir tiga bulan sekali aku kirim uang ke orang tuaku. Untuk bangun rumah sama bantu adik aku sekolah. Ngomong-ngomong kabar temen-temen kita dulu bagaimana?”
“Wah aku juga kurang tahu persisnya. Yang aku tahu hanya Noordin. Dia sudah menikah dan tinggal di Jakarta. Kalau Randy sekarang masih tinggal di rumah, dia buka bengkel dengan kakak iparnya. Kalau yang lain aku kurang tahu. Tapi kalau yang cewek kebanyakan sudah berkeluarga”. Kulihat Usy melihat jam yang ada di tangannya.
”Jam berapa sekarang Sy?” tanyaku
”Jam tujuh”
“Tak terasa ya hampir satu jam kita disini. Kalau begitu aku jalan dulu ya. Sory ya telah menyita waktumu”
“Justru aku senang sekali bisa bertemu kamu disini. Kalau boleh tahu No Hp kamu berapa? Mumpung ingat. ”Tanya Usy sambil mengeluarka Handphon yang ditaruh disakunya. Kulihat Handphon baru yang mempunyai banyak teknologi seperti untuk memutar musik, mengambil foto dan video. Tak lupa Usy juga meminta aku untuk difoto baik sendiri maupun berdua dengannya.
“Tapi aku nggak bawa Hp nih. Nanti aku di miscall ya! Lalu kusebutkan No Hpku sekaligus aku berpamitan sembari kuayunkan kaki.”
          Aku pulang melewati jalan yang tadi aku lewati juga. Kulihat jalan mulai rame dengan kendaraan yang dipenuhi para pekerja dan para siswa yang akan bersekolah. Udara pagi yang segar kini sudah bercampur dengan debu jalanan dan polusi yang ditimbulkan dari asap kendaraan yang berlalu lalang. Sementara orang yang lari pagi sudah tidak tampak lagi. Rupanya aku ngobrol terlalu lama sama Usy sehingga aku kesiangan pulang ke rumah. Tapi aku senang bisa bertemu dengan teman sekolahku yang sudah lama sekali tidak bertemu. Ya…Allah, batinku merintih. Kenapa waktu berjalan begitu cepatnya. Serasa baru kemarin aku masih duduk dibangku Sekolah Dasar tetapi kini aku sudah selesai kuliah. Teman-temanku waktu SD sudah banyak yang sudah menikah, apalagi yang perempuan. Kenapa aku masih disibukan dengan mencari pekerjaan. Ya…Allah semoga engkau memberikan petunjuk untukku.

0 Response to "Bagian 4 Kisah Cintaku"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel