Bagian 5 Goresan Hati



          Di sepanjang perjalanan menuju ke ruumah aku selalu memperhatikan orang-orang yang sibuk dengan kegiatanya masing-masing. Terlebih saat kulihat orang-orang yang baru berangkat kerja. Dengan pakaian yang rapi dan tas di tanganya mereka tampak bersemangat dalam menjalani hari-harinya. Kadang sifat iri muncul dalam diriku. Kenapa aku belum mendapatkan pekerjaan seperti mereka. Padahal aku sudah berusaha dengan keras untuk mencari pekerjaan. Tak lupa juga aku selalu berdoa kepada sang peenguasa alam.

          Saat seperti ini aku selalu teringat kedua orang tuaku yang semakin tua. Mereka sudah mengorbankan  tenaganya untuk membiayai aku kuliah sampai selesai. Tapi hasilnya, setelah lulus aku tak jua segera mendapatkan pekerjaan. Aku tahu sekali kalau orang tuaku punya harapan yang tinggi terhadapku. Seperti teririrs sembilu hatiku. Apalagi sampai saat ini aku belum mampu memmbahagiakan mereka. Meskipun mereka tidak mengatakan kepadaku namun aku tahu mereka terbebani dengan statusku saat ini yaitu seorang pengangguran. Banyak orang yang membicarakan dan menanyakan tentang aku kepada mereka. Dan pasti mereka berat dalam menjawab keadaanku yang masih menganggur. Apalagi dulu saat aku lulus orang tuaku mengundang kerabat dan tetaangga untuk merayakan keberhasilanku menyelesaikan kuliah.
          Sesampainya dipertigaan jalan menuju kampung Aku bertemu dengan Randy. Randy adalah teman kampungku. Dia sedang berangkat menuju bengkel tempat dia bekerja di pinggir jalan raya tidak jauh dari kampung. Dia berjalan bersama kakak iparnya yang juga sebagai pemilik bengkel tempat ia bekerja. Dia berhenti dan menyapaku. Akupun berhenti mengucapa salam kepada mereka berdua.
”Habis lari pagi ya Dick? Nggak biasanya kamu lari pagi?”
“Iya nich. Tiba-tiba saja hari ini aku kepengin lari pagi. Baru berangkat kerja ya?”
“Bagaimana hasilnya. Sudah dapat panggilan belum?”
“Ya….baru ikut tes-tes. Tapi masih masukin lamaran terus kok.”
“Memangnya susah ya cari kerja?. Padahalkan kamu seorang sarjana.” Tanya kakak iparnya Randy.”
“Ya belum waktunya saja mas.” Jawabku tenang.
“Untung dulu kamu nggak kuliah Ran, buktinya sarjana cari kerja juga susah” sela kakak ipar Randy.
”Nggak begitu juga sih Bang. Dicky kan masih mencari. Besuk kalau sudah dapat kerja pasti dia akan jauh lebih sukses dari aku”. Jawab Randy membelaku.
“Sudah dulu ya Dic, aku mau kerja dulu. Lain kali saja kita bertemu lagi” Pinta Randy kepadaku.
“Baiklah, aku juga ingin segera pulang. Sudah panas nich.”
          Aku lanjutkan perjalananku menuju ke rumah. Aku berjalan dengan santai karena memang sudah dekat dengan rumah. Kata-kata kakak iparnya randy masih terngiang-ngiang ditelingaku. Meski terdengar biasa dan wajar tapi kalimat itu cukup menusuk perasaanku. Aku mencoba menghibur hatiku. Tapi nggak sepenuhnya menyalahkan kakak iparnya randy yang berkata seperti itu. Memang pandangan orang umum pastilah seperti itu. Kakak iparnya Randy itu kan mewakili pandangan orang umum mengenai diriku. Aku teringat dengan kedua oranng tuaku. Aku saja yang mendengar kata-kata seperti itu dari satu orang saja sudah sangat mersa sakit. Apalagi dengan kedua orang tuaku yang selalu berhubungan dengan banyak orang di kampung. Terutama Ibuku, pasti Ibuku sudah sangat sering mendengar kata-kata yang kurang enak didengar tentang aku. Pantas saja sekarang Ibu jarang menghadiri acara arisan. Dia selalu menitipkan kepada tetangga dekat rumahku. Bapakku juga jadi jarang mengikuti acara pertemuan yang rutin diadakan di kampung.
          Saat mengingat itu semua, badanku menjadi lemah dan kurang bergairah. Sepertinya aku tak sanggup menjalani hari-hari depanku lagi kalau masih seperti ini. Aku harus segera mendapatkan pekerjaan sekaligus menunjukkan kepada orang-orang kalau aku juga mampu dan bisa sukses. Terlebiih lagi aku sangat ingin membagakan kedua orangtuaku yang semakin tua.
          Sesampainya dirumah aku langsung begegas untuk mandi dan dilanjutkan dengan sarapan. Kulihat Ibu sudah menyiapkan sarapan di meja makan. Kulihat di rumah sepi. Bapakku dan kak Handy sudah berangkat kerja. Sementara Ibu pasti baru berbelanja. Seusai sarapan, aku masuk kamar dan menyalakan komputer untuk sekedar membuat lamaran pekerjaan, membaca artikel-artikel yang sempat aku download di warnet beberapa waktu lalu. Disaat tidak ada kerjaan biasanya aku meluangkan waktuku untuk membuat cerpen. Bisa dikatakan hari-hariku banyak kuhabiskan didepan komputer. Tentunnya sammbil mendengarkan lagu-lagu favorit yang tersimpan di folder musikku. Aku termasuk orang yang menyimpan banyak sekali lagu di komputer. Aku mendapatkan lagu-lagu itu bisanya dari wanet. Kebanyakan aku minta sama penjaga warnet. Karena penjaga warnet selalu mendownload lagu-lagu baru dari penyanyi atau band di Indonesia.
          Semua lamaran sudah selesai aku ketik. Tidak memerlukan waktu yang lama karena hanya mengganti posisi yang dilamar dan nama perusahaan yang membuka lowongan dari surat lamaran yang kuketik saebelumnya. Pikirankupun sudah buntu untuk membuat Cerpen, karena untuk membuat certa membutuhkan konsentrasi dan ketenangan hati. Sementara pikiranku sedang bercabang keberbagai arah sehingga inspirasi tidak mengalir ke otakku. Daripada membuang waktu maka kulanjutkan dengan menuliskan semua yang berkecamuk dihatiku. Kucurahkan semua yang sedang aku rasakan kedalam sebuah tulisan. Setidaknya mampu melepaskan kepenatan yang sedang kurasa. Aku terhanyut dalam tulisanku.

Kegelisahanku,

Hari ini jiwaku sepi, sepi karena kegundahan hati.
Kuragu dengan hidupku ini. Hanya karena kegagalan yang selalu menemaniku
Kapan kepedihan hati ini segera berakhir. Ingin rasanya segera melepaskan beban ini.
Kenapa orang dengan mudah mendapatka sesuatu. Sementara orang lain begitu susah untuk mendapatkan sesuatu. ”apakah dibalik semuanya ini?”
Ini adalah rahasia Illahi tentang hidup ini

Memang benar bila hidup ini mudah tapi juga kalau hidup ini susah.
Tergantung bagaimana cara pandang kita terhadap kehidupan.
Kadang-kadang hidup itu sangat mudah sekali dan sesaat juga hidup itu dirasa sangat susah sekali. “Kenapa bisa begini?”

Mungkin ini dikarenakan oleh manusia sendiri yang tak tahu bagaimana harus menjalani hidup dengan memnghadapi masalah-masalah yang ada. Seperti aku saat ini. Mungkin bagi seseorang yang sudah tahu bagaimana harus menjalani hidup pasti dia mengatakan kalau hidup itu sangatlah mudah.Tapi yang jelas hidup ini memang harus diperjuangkan.

Walau saat ini aku belum menjadi seseorang yang berguna terutama berguna bagi kedua orang tuaku dan hidupku. Dan baru kepedihan dan kegagalan yang terus menerpaku. Namun aku yakin badai ini pasti akan segera berakhir dalam hidupku. Langit cerahpun akan segera menauangi hidupku. Dengan seberkas cahaya yang mampu memberikan kehidupan bagi seluruh alam raya. Selama matahari tetap memancarkan sinar pertanda kehidupan masih berlangsung. Berarti aku masih punya kesempatan untuk meraih kebahagiaan hidupku. Meraiih semua mimpi-mimpiku.

Mimpi-mimpi yang bukan sekedar menjadi impian semata. Namun mimpi yang menjadi kenyataan. Membahagiakan dan membaggakan kedua orang tuaku adalah mimpi terbesarku. Menjadi orang sukses dan populer adalah mimpiku berikutnya.
Entah bagaimana caranya yang jelas jalan pertama yang harus kutempuh adalah menghadapi hidup ini dengan semangat dan keoptimisisan. Aku yakin pasti bisa. Tentu seijin dari Tuhanku yang berkuasa atas hidupku.

                                  ****************************

Puisi pun ikut mengalir dalam benakku.
Aku bersama waktu
Ketika waktu terus berlalu
Akupun terus melanju
Dengan kesedehanaan hidupku
Yang sangat memmbanggakanku
Karena aku bahagia dengan apa adanya diriku
Ketika orang-orang mencoba menilaiku

Biarlah orang salah menilaiku
Karena yang dilihat dari luar belum tentu
Namun janganlah sok tahu tentang siapa aku
Karena akan membuatmu malu kepadaku 

Orang boleh tidak suka padaku
Orang boleh membenciku
Orang pun boleh menertawaiku
Aku tidak lantas marah, apalagi mendendam

Orang boleh memujiku
Orang boleh mengagumiku
Orang pun boleh mencintaiku
Aku tidak lantas bangga, apalagi jumawa

Mungkin orang salah menilaiku
Namun aku tidak lantas menyalahkannya
Tentang siapakah sebenarny aku
Biarkan waktu yang akan menjawabnya

       Tak terasa hari berlalu begitu cepat. Aku menghabiskan hariku di kamar. Kumatikan komputer dan segera mengirimkan surat lamaran yang telah kubuat. Mumpung hari belum sore dan kantor pos masih buka sekalian aku ingin bersilahturahim dengan pak pos. Sudah dua minggu aku tidak mengirimkan surat lamaran melaui pos. Karena dua miinggu terakhir ini lowongan yang ada menyantumkan alamat email selain alamat posny jadi aku mengirimkanya melalui email karena aku lebih suka mengirimkan surat lamaran melalui e-mail. Selain karena lebih cepat dan praktis, aku bisa sekalian cari informasi lowongan kerja atau informasi yang kubutuhkan melalui internet.
  
       Setiap akan bertemu dengan Pak pos hatiku terasa bahagia. Aku betah sekali bila di kantor pos. Selain bisa membantu Pak pos memilah-milah surat agar lebih mudah saat dikirim. Pak Pos selalu memberiku saran dan masukan yang menyejukan hati dan menentramkan jiwa. Pak Pos sangat memahami keadaanku psikologiku yang sangat membutuhkan dorongan. Pak pos mampu menempatkan dirinya kedalam posisiku. Berdasarkan pengalaman hidupnya yang berliku, beliau mampu menumbuhkan semangat hidupku dengan kata-katanya yang pas tanpa terlihat menggurui.
       Setiap kata yang diucapakan mampu memberikan inspirasi yang luar biasa untukku. Seringkali beliau memasukan unsur agama dalam nasehatnya. Beliau selalu mengingatkan untuk tidak meninggalkan ibadah dan agar berdoa kepada Alloh. Walau bukan seorang ustadz yang benar-benar mendalami ilmu agama namun Pak Pos cukup fasih bila berbicara mengenai ilmu agama. Beliau juga sering mengambil cerita dari para Nabi untuk dijadikan contoh. Pak pos juga berusaha untuk mencerminkan tingkah laku Nabi kedalam kehidupanya sehari-hari. Dalam suatu kesempatan pak pos pernah berpesan kepadaku. Dan pesan itu akan selalu kuingat.
“Dic, dalam menjalani hidup ini kamu harus bisa bersabar. Jangan sampai kamu putus asa. Kamu harus berusaha dan tak lupa juga berdoa. Jalanilah hidup ini dengan keoptimisan. Yakinilah bahwa setiap hal yang menimpamu itu sudah direncanakan Allah. Dan yakinilah bahwa Allah selalu memberikan yang terbaik. Adapun saat ini kamu masih belum mendapat pekerjaan. Selalu berkeyakinanlah kalau Allah sedang merencanakan yang terbaik kepadamu. Khusnudhon billah akan mampu mengurangi segala beban yang ada di pundakkmu. Dan ingatlah hidup ini bukanlah suatu kebetulan melainkan sudah direncana oleh Allah.”  
       Aku pulang dari kantor pos dengan muka tegak. Kata-kata yang keluar dari mulut Pak Pos seakan keluar dari malaikat. Pencerahan-pencerahan yang aku terima mampu membuatku bangkit dari kehidupanku. Biarpun goresan luka yang terlanjur melukai hatiku aku tetap berjuang untuk meraih mimpi dan niat suciku. Orang boleh berkata apapun tentang aku dan hidupku namun satu yang pasti dan aku yakini. Allah pasti selalu melindungi dan menjagaku. Tak kubiarkan kata-kata orang yang menggores hatiku akan menghancurkan hidupku. Akan ku tunjukkan pada semua kalau aku bisa, pasti bisa. Mesti bukan hari ini, namun itu pasti akan kuraih semua mimpiku.
       Disepanjang perjalanan menuju rumah aku berpikir langkah-langkah apa yang harus aku lakukan untuk menggapai impianku. Setidaknya saat ini aku mempunyai semangat hidup lagi. Aku harus mengawali mimpiku dengan melakukan yang terkecil dan harus aku mulai saat ini. Aku tak memungkiri kondisi jiwaku masih labil, mudah sekali emosi jiwaku berubah. Di saat seperti ini aku bisa sangat bersemangat lagi namun ketika masalah menghampiriku maka jiwaku mulai goyah. Suatu saat semangatku bisa berkobar akan tetapi suatu ketika semangatku hilang hingga jiwaku lemah tak berdaya.

0 Response to "Bagian 5 Goresan Hati"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel