Bagian 6 Kegagalan.



       Hari ini tepat satu minggu setelah aku mengikuti tes dan wawancara kerja. Berarti hari ini adalah hari penentuan dimana aku diterima di perusahaan telekomunikasi itu atau tidak. Waktu itu mbak Rina menginformasikan kalau hasil akhir siapa yang akan diterima menjadi karyawan akan diumumkan satu minggu lagi melalui telepon. Sudah tiga hari ini aku susah sekali untuk tidur. Benakku selalu memikirkan hasil tes itu. Apakah aku diterima atau tidak. 

Namun harapanku terlalu besar. Sehingga anganku sudah menerawang kalau aku diterima di perusaahaan yang sangat bonafit itu. Sudah kurencana nanti saat menerima gaji pertama akan aku berikan separuh gaji pertamaku untuk Ibuku. Pasti Ibuku senang sekali menerima uang pemberianku. Meski aku tahu Ibuku tidak pernah mengharapkan balasan dariku. Namun aku yakin akan menjadi sesuatu yang membaggakan bila aku mampu mencari uang sendiri dan bisa memberikan sebagian kepadanya.

       Aku sangat resah menunggu teleponku berbunyi yang akan memberikan kabar bahagia untukku. Pukul sepuluh lebih sepuluh menit Hanphonku berbunyi pertanda ada panggilan masuk. Segera aku meraih Hpku. Kulihat ada nomor baru menghubungiku. Dengan seger kuangkat telepon itu.
”Assalamu’alaikum”
“Waalaikumsalam”
“Hallo dic. Ini nomor Hpku.”
“Ini siapa ya?” tanyaku penasaran
”Aku, Usy”
“O..Usy” jawabku pelan
“Kok nggak semangat gitu dic. Belum makan ya? Sorry, kemarin aku belum sempat miscall atau sms kamu tuk kasih tahu Nomer HPku. Jadi aku putuskan telpon kamu, sekalian minta maaf sama kamu”.
“Enggak. Nggak apa-apa. Begitu aja minta maaf”
”Ya sudah kalau begitu. Wassalamu’alakium”
“Waalaikumsalam”.
       Kuletakkan kembali handponku ke tempat semula. Aku benar-benar resah. Aku selalu memandangkan mataku ke arah jarum jam. Kucoba menetralisir keresahankku dengan menyetel music kesukaanku sambil membaca buku motivasi yang menjadi kegemaranku. Kebetulan aku mengoleksi buku-buku motivasi baik dari motivator dalam negeri maupun luar negeri. Yang menjadi buku motivasi favoritku adalah buku “I Can Do It” karya paul hana dari Australia. Biasanya setelah membaca buku motivasi semangatku kembali membara. Gairahku untuk menjalani hari-hari tetap terjaga.
       Sambil menjalankan kegiatanku seperti biasa aku terus menunggu telepon genggamku berbunyi. Namun panggilan itu tak kunjung datang. Tak terasa jam sudah menunjukkan empat lebih tigapuluh menit. Harapanku untuk diterima kerja pupus sudah. Kata kegagalan menghantui pikiranku. Sudah berkali-kali aku mengikuti tes untuk mencari kerja. Namun selalu saja kegagalan menghancurkan impianku. Pikiranku kalut dan kecewa. Kenapa selalu berakhir dengan kegagalan.
       Didalam kekecewaanku aku selalu teringat dengan nasehat pak pos yang sering terdengar ditelingaku. Hingga merasuk ke aliran darahku. Bahwa akan ada sesuatu dibalik semua kegagalanku ini. Aku tidak boleh berprasangka buruk terhadapa apa yang telah menimpaku. Kuingat nasehat Pak pos yang melarangku menggunakan istilah kegagalan namun belum berhasil. Meski mengandung makna yang sama tetapi dapat berdampak berbeda pada diriku. Begitu kata Pak pos.
       Aku tak tahu darimana Pak pos mendapatkan pemikiran seperti itu. Namum pemikiran pak pos sama dengan pemikiran para motivator pada kekbanyakan. Karena otak kita akan menyimpan kata yang sering kita dengar dan semakin sering kita dengar suatu kata maka akan lekat dengan diri kita. Sehingga lebih baik kata negative seperti kegagalan itu diganti dengan kata yang lebih mengandung ungkapan positif yaitu belum berhasil.
       Aku sedikit terhibur bila teringat dengan nasehat itu.”Aku tidak mau kehilangan kesempatan yang lain hanya karena menyesali satu kesempatan yang hilang. Aku yakin kesempatan lain akan menghampiriku. Aku harus lebih menyiapkan diri lagi lebih matang sehingga bila kesempatan datang aku benar-benar siap untuk meraihnya. Karena bila kesempatan datang lagi tetapi aku belum siap maka kesempatan itu akan menjadi sia-sia.” Semangatku kembali menggelora dan membara dalam aliran darahku. Namun sebagai manusia biasa tetap saja ada secuil kekecewaan yang hinggap dibenakku. Aku malas sekali keluar rumah hari ini. aku ingin menghabiskan hari ini dirumah sambil membuat rencana-rencana untuk esok hari. Sayup-sayup kudengar suara radio yang dari tadi kunyalakan mengiklankan tentang pemutaran film baru dibioskop. Kupasang telingaku dan kukeraskan volume radio. 
Terdengar penyiar menginformasikan kalau besuk akan ada pemutaran film baru Indonesia yang bertema cinta namun dengan sentuhan religi. Besuk adalah pemutaran film perdana yang serentak diputar diseluruh bioskop yang ada di Indonesia. Kebetulan film itu diangkat dari sebuah novel yang sukses memikat hati pembacanya. Termasuk aku. Aku sudah pernah membaca novelnya satu tahun yang lalu. Novel yang mampu memberi inspirasi bagi pembacanya.
       Segera kuagendakan kegiatanku besuk untuk menonton film di bioskop. Aku ingin segera menghilangkan kepenatanku yang teerus bergejolak dijiwaku. Siapa tahu diawali dari menonton film mampu memberikan inspirasi yang bisa mengubah hidupku. Rencananya besuk aku akan mengajak Randy. Yang aku tahu Randy juga suka dengan novelnya, pasti dia juga penasaran pengin nonton filmnya. Aku sudah biasa nonton film bersama Randy karena kebetulan Randy juga belum punya pacar seperti aku. Mungkin orang lain yang melihat kami bisa salah sangka kepada kami. Namun kami nggak peduli dengan apa kata orang. Karena nonton film itu yang penting kita menikmati ceritanya dan bisa menikmati seninya. Entah itu dari gambar yang bagus atau dari hal-hal yang menjadi bagian dalam pembuatan film itu sendiri. Aku dan Randy adalah pecinta dan penikmat film sehingga menjadikan kami cukup kritis dalam sebuah film. Tak jarang kami kecewa dengan film yang dibuat kurang detil baik dari segi certa maupun dari segi seninya.
        Segera aku ambil HPku untuk mengirim sms ke Randy untuk mengajaknya nonton film. Akupun mengetik SMS untuk Randy.
”Ran, besuk kita nonton film ya di bioskop?. Besuk akan diputar film baru yang diangkat dari novel yang aku hadiahin buat kamu saat kamu ulang tahun.”
Kemudian aku mengirimkannya ke nomor HPnya Randy. Beberapa saat kemudian Randy membalasnya.
”Wah pasti bagus filmnya. Oke, tapi kita nonton yang jam lima saja ya?.” Seperti yang aku duga. Randy pasti akan sangat tertarik dengan ajakanku.
Ku ketik lagi sms buat Randy
“Nggak masalah. Nanti aku jemput kamu di bengkel. Jadi kamu nggak usah pulang dulu. Biar nggak buang-buang waktu”
Setelah ku kirim, beberapa saat kemudaian Randy membalasnya.
”Oke. Besuk aku tunggu.”
       Setelah selesai mengirim SMS. Kuletakan HPku lagi. Kemudian aku lanjutkan membaca buku. Dari jendela kamarku kulihat sepasang burung merpati hinggap di pohon jambu samping rumahku. Kulihat burung itu bercumbu di dahan yang dipenuhi buah jambu. Ketika pasangannya terbang sang jantanpun terus mengikutinya. Betapa setianya merpati jantan itu terhadap pasanganya. Serasa merpati itu memamerkan kemesraanya kepadaku. Betapa bahagianya sepasang merpati itu. Andaikan aku bisa seperti mereka. Aku berangan mempunyai pasangan yang setia hingga bisa hidup bahagia. Aku jadi teringat gadis cantik yang kulihat saat tes dan wawancara kerja satu minggu yang lalu.
“Dia diterima menjadi karyawan nggak ya diperusahaan itu. Andai saja aku bisa bekerja bersama dia. Pasti hari-hariku akan terasa Indah dan menjadi kisah yang tak kan terlupakan. Bisa kujalin kisah cinta yang abadi. Kenapa waktu itu aku tidak nekat untuk mengajaknya berkenalan”.
       Kudengar suara Ibu memanggilku. Sontak lamunanku buyar. Segera aku keluar kamar. Kulihat Ibu sedang memasak di dapur dan Ibu memintaku untuk memasukan jemuran pakaian yang masih diluar. Karena diluar langit begitu gelap. Sebentar lagi pasti hujan. Ibu juga memintaku untuk segera memasukan sepeda motor Bapak yang berada di halaman. Aku mengambil semua pakaian dan memasukan sepeda motor ke teras. Aku sedikit heran. Kenapa bapak sudah pulang. Biasanya Bapak pulang kerja agak sore. Karena tadi aku baca buku sambil mendengarkan musik di kamar jadi suara Motor Bapak tidak terdengar olehku.
       Aku mencoba mencari jawabanya. Kuhampiri Ibu yang sedang masak. Kutangkap gurat kecemasan di wajah ibu. Dengan pelan kucoba menanyakan tentang apa yang terjadi sehingga bapak pulang lebih cepat.
“Ibu, kok masih siang Bapak sudah pulang. Bapak sakit ya? Bapak sekarang dimana?
Ibu tidak segera menjawab. Sepertinya Ibu berat sekali untuk menjawab pertanyaanku.
“Tempat kerja Bapakmu baru sepi, jadi jam segini Bapakmu sudah pulang” Ibu menjawab sambil menggoreng tempe yang menjadi kesukaanku. Aku terdiam, aku tak berani melanjutkan pertanyaanku. Kudengar suara air hujan menyirami bumi. Rupanya hujan cukup deras. Untungnya tidak diserrtai angin dan petir “Andai saja aku sudah diterima kerja. Pasti aku bisa mengurangi kesedihan Ibu.” Anganku terhanyut bersama suara derasnya hujan. Sejenak Ibu berkata. “Tapi mudah-mudahan besuk rame lagi. Biasakan, namanya usaha kadang rame kadang sepi.” Ibu mencoba menghilangkan gurat kesedihan diwajahnya. Ibu tidak mau menambah bebanku. Memang benar kata Ibu. Yang namanya usaha kadang lancar kadang juga seret tapi itu sudah wajar. Kembali aku menanyakan keberadaan Bapak yang tidak kelihatan. Ibu mengatakan kalau Bapak sedang pergi melihat sawah. Sebentar lagi pasti pulang. Tidak mungkin Bapak bertahan disawah dengan kondisi hujan yang deras begini. Untuk mengisi waktu luang biasanya Bapak pergi ke sawah untuk melihat tanaman padi yang ditanamnya.
       Aku merasa lega karena tidak terjadi apa-apa sama Bapak. Aku yakin kecemasan Ibu karena usaha Bapak sepi itu akan segera hilang. “Mudah-mudahan aku segera mendapatkan pekerjaan dan tempat kerja Bapak kembali ramai.“ pintaku kepada Alloh SWT. Aku segera pergi menuju teras. Tampak Bapak baru pulang dari sawah berjalan kaki. Dengan tubuh yang basah kuyup bapak segera menuju kamar mandi untuk membilas tubuhnya setelah diguyur air hujan.
       Jujur, kesedihanku bertambah bila melihat tubuh tua Bapakku masih sibuk mencari uang untuk menyambung hidup seluruh keluargaku. Seharusnya Bapakku sudah pensiun  dan menikmati hari tuanya. Aku sebagai anak bertanggung jawab untuk membahagiakan mereka. Beban hidupku semakin bertambah ketika aku tahu sedang ada permasalahan dalam keluargaku. Namun kegelisahanku kembali sirna ketika aku teringat ucapan Pak Pos mengenai hidup. Bahwa hidup ini sudah ada yang mengatur jadi tidak sepantasnya aku terlalu menghawatirkan mengenai hidupku. Yang harus aku lakukan adalah berusaha semaksimal mungkin. Pasti suatu saat kesuksesan akan menghampiriku jika aku selalu berusaha dan berdoa.

0 Response to "Bagian 6 Kegagalan."

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel