Bagian 14 Galau
Pukul
lima sore aku tiba di rumah. Badanku terasa lelah sekali. Setelah mandi,
badanku terasa segar sekali. Seakan kelelahan menghilang dari tubuhku. Aku
sangat resah menunggu jawaban dari Nana. Sebenarnya Dicky tidak ingin pacaran,
bisa dibilang ta’arufan. Rencananya setelah 2 bulan ta’aruf mereka akan
menikah, karena usia mereka juga sudah tepat untuk menikah. Nikah yang penting
niatnya buat ibadah dan menjauhi segala larangan agama dan dosa.
Pikiranku
sudah menerawang jauh, bila Nana menerimaku dan nantinya menikah, aku pengen
sekali punya 3 anak. Tidak tahu kenapa, aku ingin sekali punya 3 anak. 2
laki-lakidan 1 perempuan. Itu hanya keinginanku. Adapun yang menentukan tetap
Alloh SWT. Jika nana menjadi istriku nanti aku tidak akan pernah untuk
enyakitinya. Ku ingin menjaganya sehingga nanti bias masauk surge bersama-sama.
Aku yakin Nana adalah sosok wanita sholehah yang patuh dan taat pada suami.
Entah kenapa pikiranku tak mau beralih ke hal lain. Selalu memikirkan Nana,
tentang masa depan kelak bersama Nana.
Kemudian
kuberjalan menuju teras depan. Entah kenapa, aku meraassa hari ini berjalan
sangat lambat. Untuk mengisi waktu akhirnya ku menyalakan tivi. Pas nyala udah
di saluran yang menyiarkan infotaiment. Diberikan tentang artis artis muda yang
sedang berpacaran. Dalam hati ku berkata “anak muda sekarang masih kecil pada
pacaran” pas diwawancara dan ditanya tentang hubungan mereka.
Mereka mengumbar kemesraan di depan kamera. Bahkan ada artis yang dengan bangganya menceritakan kalau dia sudah gonta ganti pacar berkali kali. Bahkan waktu pacarannya sangat singkat. Memang hak mereka melakukanya, tapi bukankah itu berarti memberitahukan ke banyak orang tentang kejelekannya sendiri. Ku hanya bias menghela nafas dan mengelus dada. Pikiranku kembali ke Nana. Nana yang secantik itu belum pernah pacaran, bahkan kecantikanya alami tanpa make up, anggun melebihi kecantikan dan keanggunan para artis atau sama cantiknya. Namun Nana tetap memeganh teguh prinsip agamanya.
Dia mau pacaran tapi setelah menikah. Kalaupun ingin mengenal lebih dekat sebelum menikah dia menginginkan ta’aruf. Memang, Nana gadis yang cantik, baik dan sholehah. Ya Alloh semoga dia kelak menjadi istriku.
Mereka mengumbar kemesraan di depan kamera. Bahkan ada artis yang dengan bangganya menceritakan kalau dia sudah gonta ganti pacar berkali kali. Bahkan waktu pacarannya sangat singkat. Memang hak mereka melakukanya, tapi bukankah itu berarti memberitahukan ke banyak orang tentang kejelekannya sendiri. Ku hanya bias menghela nafas dan mengelus dada. Pikiranku kembali ke Nana. Nana yang secantik itu belum pernah pacaran, bahkan kecantikanya alami tanpa make up, anggun melebihi kecantikan dan keanggunan para artis atau sama cantiknya. Namun Nana tetap memeganh teguh prinsip agamanya.
Dia mau pacaran tapi setelah menikah. Kalaupun ingin mengenal lebih dekat sebelum menikah dia menginginkan ta’aruf. Memang, Nana gadis yang cantik, baik dan sholehah. Ya Alloh semoga dia kelak menjadi istriku.
Suara adzan magrib sudah
berkumandang, aku matikan tivi dan bergegas ke masjid yang tak jauh dari
rumahku. Seperti biasa habis magrib sampai isya’ ada pengajian di masjid. Kalo
di rumah aku tak pernah ketinggalan untuk mengikutinya. Bahasan dalam pengajian
kali ni tentang menikah, entah kenapa seolah-olah kejadian hari ini diperuntukan
buat aku. Aku mengikuti pengajian dengan serius. Pak ustad bilang
“dalam ajaran agama islam tidak
mengenal istilah pacaran karena pacaran akan member mudharat yang banyak. Kalau
memang serius dalam mencintai lawan jeis maka lebih baik segealah menikah.
Untuk melamarpun tidak harus laki-laki yang mengutarakan duluan, wanita juga
boleh. Karena pada jaman Nabi dulu juga terjadi, Nabi Muhammad SAW juga pernah
dilamar oleh wanita. Pahalanya orang sholat bagi yaang sudah nikah jauh lebih
banayak daripada yang belum menikah. Jadi adalah ibadah yang sangat member
manfaat maka segeralah menikah, dan menikah akan mendatangkan rejeki”
Setelah
mendengarkan ceramah dari pak ustadz, keinginanku untuk segera menikah semakin
kuat. Meski dalam hati aku masih kawatir, karena aku masih belum mapan. Nanti
bagaimana aku bias menghidupi eluargaku kalau aku masih seperti ini. Dalam
sholat isya’ ku berdoa memohon kepada Alloh. Smoga aku diberi rejki yang halal
dan barokah dengan cara apapun. Dan sedikit meminta agar Nana menerimaku dan
mau menikah denganku.
Setelah
selesai kupulang. Sesampainya di rumah aku langsung makan bersama bapak dan
ibuku. Tak lupa kubawa haekuku, kali saja Nana menghubungiku. Soalnya tadi Nana
menjanjikan untuk memberikan jawaban sehabis sholat isya’. Aku makan sambil
mengaahkan pandanganku ke hape. Bapak dan ibuku keheranan melihatku
“dick,kenapa sih kamu.? Makan kok sambil liat hape kayak
gitu. Tidak bakalan hapemu menghilang..
“ya nggak
begitulah pak, aku baru nunggu sms dari teman”
“memangnya peting banget
ya?? tanya bapak penasaran..
“ya penting lah pak” jawabku
cepat
“kalo penting, kenapak nggak kamu saja yang sms?
Daripada kamu nunggu begitu, sampe makan aja smbil liatin hape begitu..
“ya, tidak bias begitu dong pak. Ini kan sms-nya beda.
Tapi nanti kalau gak sms-sms ya terpaksa aku yang sms atau bahkan aku telepon.
Begitu pak…
“ya sudahlah Dick kalau begitu, tapi sekarang makannya
diselesaikan dulu. Kalaupun nanti ada sms pasti kedengaran.
“iya sih pak..” jawabksmabil menganggu tanda setuju
dengan apa yang dikatakan bapak
Aku pun melanjutkan makan malamku.
Setelah setelah makan ku masuk kamar, namun masih sja sms dari Nana tak kunjung
datang. Ku kulai merasa tak sabar, namun ku masih tetap menunggu. Sampai jam 9
tepat.pikiranku mulai melayang dan pikiran-pikiran buruk muncul.
“mungkin memang Nana tidak menrima cintaku, tadi dia
bilang habis isya ini sudah jam 9. Harusnya kan dia sudah kasih kabar. Kalaupun
dia meolak cintaku, dia juga harus kasih
kabar. Tapi kok malah belum ada kabar.”
Akhirnya ku memutuskan untuk menelpon
nana. Ku telpon Nana sampai 5x tapi tidak ada jawaban sama sekali.
“kenapa Nana tega sekali kepadaku, dia membuat hatiku
resah seperti ini. Bahkan mengangkat telponkunpun dia tidak mau. Ku coba
tenang, dan jam 10.30 ku menelpon Nana. Mungkin Nana tadi lupa bawa hape.
Setelah ku telpon 5x juga tidak ada jawaban. Seharusnya jam segini Nana ada di
rumah ddan hape Nana juga ada. Padahal hape juga aktif tapi kenapa dari tadi
Nana tidak menjawab telepon dariku.
Mungkin ini jawaban yang dimaksud Nana. Dia tidak tega menolak cintaku dengan kata-kata. Tapi ustru ini lebih menyakitkan buatku.hatiku hacur. Harapan-harapanku mulai punah. Nana nana kenapa kau tega sekali padaku. Karena kecewa akhirnya ku matikan hape. Sementara waktu aku mengistirahatkan hapeku. Aku ingin menangkan hatiku lebih dulu. Kalau Nana perlu denganku biarkan dia datang langsung kepadaku. Sebenarnya sakit hatisekali atas cara Nana menolakku, kenapa selama ini dia baik kepadaku. Bersikap manis padaku, member motivasi kepada lalu begitu mudah dia menghancurkan aku
Mungkin ini jawaban yang dimaksud Nana. Dia tidak tega menolak cintaku dengan kata-kata. Tapi ustru ini lebih menyakitkan buatku.hatiku hacur. Harapan-harapanku mulai punah. Nana nana kenapa kau tega sekali padaku. Karena kecewa akhirnya ku matikan hape. Sementara waktu aku mengistirahatkan hapeku. Aku ingin menangkan hatiku lebih dulu. Kalau Nana perlu denganku biarkan dia datang langsung kepadaku. Sebenarnya sakit hatisekali atas cara Nana menolakku, kenapa selama ini dia baik kepadaku. Bersikap manis padaku, member motivasi kepada lalu begitu mudah dia menghancurkan aku
Ku merbahkan tubuhku, hatiku
benar-benar hancur dengan cara Nana menolakku. Namun aku bukanlah orang lemah
yang mudah haancur hanya karena cinta. Kalau memang Nana bukan jodohku pasti
ini kehendak Alloh yang terbaik buatku. Aku punya masa depan sendiri, begitu
juga dengan Nana.
Walau aku harus merasakan sakit hati
tapi biarlah. Semua sudah tearjadi kan kuambil hikmahnya. Mesti aku tidak bisa
begitu saja melupakan Nana. Namun ada yang lebih penting lagi. Aku sudah
berjanji kepada penebit untuk segera menyelesaikan Novelku. Aku tidak ingin
hanya karena masalah ini, novelku tidak selesai. Aku ingin menyelsaaikan
mimpiku ini. Tidak mudah aku mencapai titik ini. Kesempatan yang sudah di depan
mata tidak boleh aku sia-siakan begitu saja.
Aku tidak mau mengecewakan
orang-orang yang telah memberi motivasi kepadaku. Orang tuaku sudah berharap
banyak kepadaku. Hanya dengan ini aku bisa membuat bangga kepada kedua orang
tuaku. Tiba-tiba ku ingat sosok yang sudah lama tak kujumpai yaitu Pak Pos.
hampi sebulan aku tidak bertemu Pak Pos.
Ketika itu aku minta doa kepada pak Pos agar aku bisa menang lomba. Tapi kenapa saat aku menang, aku malah melupakanya begitu saja. Sungguh terlalu aku ini. Pasti pak Pos sangat senang bila mtahu aku menang. “Besuk aku akan menemui Pak Pos di rumahnya.” Janjiku dalam hati.
Ketika itu aku minta doa kepada pak Pos agar aku bisa menang lomba. Tapi kenapa saat aku menang, aku malah melupakanya begitu saja. Sungguh terlalu aku ini. Pasti pak Pos sangat senang bila mtahu aku menang. “Besuk aku akan menemui Pak Pos di rumahnya.” Janjiku dalam hati.

0 Response to "Bagian 14 Galau"
Post a Comment