Bagian 11 Kata Hati




    Di dalam keheningan malam aku melanjutkan dengan membuat sebuah rencana untuk jalan hidupku ke depan. Meski hanya dalam pikiranku dan baru dalam angan-angan, namun aku ingin menjadikan rencana itu akan terwujud dan menjadi kenyataan.
     Aku teringat dengan berita yang disampaikan Nana sore tadi. Tentang lomba membuat cerpen. Pikiranku terus melayang.” Mungkin dari sebuah lomba ini akan menunjukan jalan hidupku ke depan. Mungkin dari sebuah lomba menulis cerpen akan menjadi lompatan hidupku yang sangat besar. Menuju sebuah mimpi besarku sepanjang hidup.


    Aku ingin sekali menjadi seorang penulis besar yang mampu menghasilkan karya-karya besar yang mampu memberi inspirasi orang lain dan membantu orang untuk menjadi lebih baik. Selama ini jalanku untuk merintis karir yang sesuai bidangku sangat sulit. Mungkin Alloh mempunyai rencana lain dalam hidupku. “ Kata hatiku mengatakan kalau aku akan menjadi seorang penulis terkenal. Bukan terkenal yang menjadi tujuan utama tetapi hasil karyaku bisa dibaca orang dan mampu memberi inspirasi orang lain lah yang menjadi cita-cita.

    “Aku akan memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya. Aku akan mengirimkan tulisan terbaikku. Dari sekian banyak cepen yang telah aku buat pasti ada salah satu yang mampu menjadikanku juara. Bila aku mampu memenangkan lomba itu pasti kesempatanku untuk dikenal orang seperti kata Nana semakin terbuka lebar. Apalagi karya pemenang akan dimuat sebuah Koran yang pasarkan secara nasional. Kalau cerpenku memang bagus pasti banyak orang yang menyukainya dan membuka peluang untukku benar-benar menjadi penulis seperti impianku.”

    “Tuhan pasti juga mempunyai maksud kenapa informasi yang sepenting ini diperantarai oleh Nana. Nana…..gadis cantuk impianku. Kenapa aku sangat nyaman sekali bila berada disampingnya. Benarkah engkau dikirimkan Tuhan untukku. Semoga saja begitu. Aku berharap bisa menjadi pendamping hidupmu yang bisa membahagiakanmu.”
“Nana…engkau hadir dalam hiduku di waktu yang sangat tepat sekali. Disaat aku membutuhkan seseorang yang mampu memberi semangat untuk meraih kesuksesan, engkau datang. Aku yakin engkau adalah jodoh yang dikirimkan Alloh SWT  utuk aku.”
    “Aku akan menjadi seorang laki-laki yang paling berbahagia di dunia ini bila aku bisa menjadi pendamping hidupmu kelak”.

Tiba-tiba aku melihat bintang jatuh. Pandangan mataku tertuju ke arah bintang itu sampai bintang yang jatuh itu menghilang.  Aku teringat dengan adegan di film yang mengatakan kalau ada bintang jatuh kita disuruh mohon permintaan maka permintaan itu akan terkabul.
“Ah, mana mungkin?” tanyaku nggak percaya. Kalau caranya agar permintaan kita cepat terkabul semudah itu kenapa nggak tiap malam aja kita melihat langit untuk menantikan bintang yang jatuh.  
    Kudengar ada orang membuka pintu dari arah rumahku. Kulihat ibuku keluar rumah. Rupanya ibu terbangun dari tidurnya dan ketika mau ke kamar kecil Ibu melihat aku tidak berada di kamar karena kamarku masih terbuka dengan lampu yang masih menyala. Karena tadi sewaktu aku pergi aku sengaja tidak mematikan lampu kamar. Ibu memintaku untuk segera masuk ke rumah dan segera tidur.
    Aku segera bergegas untu masuk ke rumah dan menuju kamarku. Kulihat jam sudah menunjukkan pukul satu lebih. Rupanya memang sudah larut malam. Tapi mataku terlanjur tidak bisa dipejamkan. Rasa ngantukku sudah hilang. Aku kembali teringat dengan rencanaku. Yang pasti besuk aku segera mengirimkan cerpen terbaikku. Karena pengumumanya sudah dimuat seminggu yang lalu dan paling lambat tiga hari lagi. Sedangkan untuk mengungkapkan perasaanku pada Nana mungkin mencari waktu yang tepat dulu. Sementara menunggu waktu yang tepat aku akan terus berteman baik dengannya.

    Segera aku bergegas untuk menyalakan komputerku. Akan kubongkat file-file lamaku untuk mencari beberapa cerpen yang terbaik. Sudah beberapa tahun terkhir aku membuat cerpen dan hanya ku simpan saja di file komputerku. Aku sudah mengelompokkan cerpenku sesuai tema ceritanya. Kalau dihitung-hitung mungkin cerpenku sudah mendekati angka 50 buah. Kubaca-baca sekilas menurut tema cerita yang sudah aku pisahkan.  Aku berniat untu mengirimkan cerpen yang menceritakan tentang kehidupan percintaan seorang remaja. Karena memang tema percintaan yang menjadi tema sebagian besar cerpen yang aku buat.

    Konsentrasiku mengalir dalam cerpen-cerpen yang aku baca sepintas. Hingga waktu terus bergulir sangat cepat. Aku kadang terbawa emosi ketika membaca cerpen yang aku buat. Entah kenapa seolah aku memutar kembali kenanganku yang telah lalu. Memang sebagian besar cerpen yang kubuat berdasar pengalaman pribadi walau dibuat lebih dramatis. Hanya beberapa saja yang kubuat berdasar cerita teman atau hanya sebuah fiksi belaka.
    Aku tertarik dengan cerpenku yang berjudul “ Mengejar Cinta Sejati” cerpen itu kubuat saat awal memasuki bangku kuliah. Meski ceritanya aku buat berdasar cerita teman dimana aku turut memnyaksikannya sendiri betapa berat perjuangan yang harus dilalui temanku untuk mengejar kekasih pujaan hatinya hingga akhirnya mereka pacaran.

    Namun mereka kini sudah putus, bahkan mereka sudah tidak saling tegur sapa lagi ketika bertemu. Aku membacanya sampai aku ulang 3 kali hingga aku memutuskan untuk mengirimkanya besuk. Setelah mendapat cerpen yang sangat menarik dari segi cerita maupun bahasa yang aku buat waktu itu, aku mulai mengeprintnya. Kulanjutkan untuk memilih sebuah cerpen lagi. Akhirnya aku menemukan sebuah cerpen yang menceritakan tentang kembalinya motivasi belajarku setelah aku membaca buku pengembangan diri. Aku menyadari selama ini aku belum mengeluarkan potensi yang aku miliki dan terlalu pesimis sehingga berpengaruh pada nilai akademiku. Setelah motivasi belajarku meningkat sehingga aku bisa mengejar ketertinggalanku. Akhirnya aku menjadi mahasiswa yang berada di level diatas rata-rata.
    Akupun mencetak cerpenku yang telah kupilih. Aku memasukkannya kedalam amplop dan siap untuk aku kirim esok pagi. Tanpa terasa saatnya sholat shubuh sudah tiba. Kudengar adzan berkumandang saling bersahutan seakan sedang mengikuti lomba adzan, hanya saja kali ini tidak ada pemenangnya. Tak kubuang-buang waktu untuk segera memngerjakan sholat shubuh.
                                                       




0 Response to "Bagian 11 Kata Hati"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel