Bagian 12 Pengumuman
Dua minggu sudah berlalu begitu cepat
tanpa meninggalkan jejak yang jelas dalam hidupku. Semua berlalu seperti air
yang mengalir. Hubunganku sama Nana sudah semakin dekat. Keyakinanku semakin
mantap untuk menyatakan cinta ke Nana. Hanya tinggal mencari moment yang tepat.
Rencananya aku ingin mengungkapkan perasaanku ke Nana dihari ulang tahunnya
yaitu hari ini. kebetulan hari ini bertepatan hari pengumuman lomba menulis
cerpen. Hari ini merupakan hari yang kutunggu-tunggu selama beberapa hari
terakhir. Dua hari yang lalu aku ditemani Randy untuk mencari kado yang tepat
untuk Nana. Akhirnya aku memilih sebuah jilbab untuk kujadikan kado.
Sebelum
akhirnya aku memilih jilbab untuk dijadikan kado. Banyak toko pernak-pernik
yang aku masuki dan tak satupun yang sreg untuk dijadikan toko. Bahkan
keputusanku membeli jilbab itu adalah suatu hal yang tidak sengaja. Ketika aku
lelah dan menyerah kemudian aku berhenti dan duduk sebentar ternyata aku
berhenti di depan toko pakian muslimah beserta aksesorisnya. Aku tak habis pikir
sebelumnys, kenapa tidak kepikiran untuk membeli jilbab dari awal. Padahal
selama ini aku sangat ingin sekali Nana memakai jilbab. paling tidak jika aku
memberinya jilbab, aku sudah berusaha mengingatkan Nana untuk memakai jilbab
dan Nana tahu kalau aku suka kalau Nana memakai jilbab. Akhirnya aku masuk ke
toko pakaian muslimah bersama Randy.
Ku
buang rasa malu, aku mencoba memilih milih jilbab yang bagus. Namun tak juga
aku menemukannya, karena memang aku juga tidak tahu jilbab yang bagus itu
seprti apa, karena menurutku semuanya bagus dan bila dipakai Nanapun tetap akan
tampak bagus. Akhirnya aku meminta bantuan kepada penjualnya. Kemudian mbaknya
memilihkan jilbab yang bagus dan baru ngetrend. Aku hanya memilih warna. Aku
tahu Nana tidak terlalu condong pada satu warna jadi ku memilih yang menurutku
bagus. Akhirnya aku memilih jilbab yang berwarna merah jambu.
Pada
saat menemani aku mencari kado untuk Nana ternyata Randy juga punya janji
dengan vanny untuk nonton film. Karena tidak enak dengan aku akhirnya Randy
mengajak aku untuk ikut nonton bersamanya. Setelah mengajakku untuk ketemuan
sama vanny dua minggu yang lalu dan aku mendukungnya Randy semakin mantap untuk
menjalin hubungan dengan vanny. Mereka jadian satu minggu yang lalu. Aku
melihat mereka tampak serasi sekali. Saat diajak ketemu vanny untuk yang
pertama kali aku sudah bisa merasakan ada sesuatu diantara mereka. Aku merasa
vanny memang tipe gadis yang dicari dan dibutuhkan Randy. Mereka tampak serasi
dan saling melengkapi. Pribadi vanny juga sangat baik terlihat dari tingkah
laku dan cara bicaranya. Waktu itu aku langsung mendukung hubungan mereka. Ternyata
dugaanku benar, hubungan mereka berjalan lancar.
Dengan
hiasan bunga dan pita, kado siap kuberikan kepada Nana. Tadi malem aku sibuk
membungkus kado untuk Nana. bukan hanya itu, aku menulis sebuah dalil mengenai
pakaian wanita sebagi pelenggakap kado jilbab yang aku berikan. Memang, aku
sangat ingin sekali setelah membaca dalil yang aku sertakan. Hati Nana tergerak
untuk terus memakai jilbab.
Hari ini aku tidak ada janji dengan Nana. Aku
memang sengaja membuat kejutan untuk Nana. Rencanaku hari ini adalah melihat
pengumuman di toko buku yang mengadakan lomba menulis cerpen. Aku sedikit
deg-degan untuk melihat pengumuman. Kado sudah kumasukan kedalam tas yang
kubawa. Kukendarai motorku menyusuri jalan mulai jalan desa hingga masuk ke
jalan kota .
Disepanjang perjalanan yang aku pikir hanya pengumuman itu dan bagaimana cara
aku memberikan kado untuk Nana. Aku ingin memberi kesan yang mendalam di hati
Nana saat memberikan kado dan mengucapkan kata cinta.
Aku
sudah sampai dihalaman toko buku. Banyak sekali orang yang sudah ada disana.
Entah apa tujuan mereka. Mungkin untuk membeli buku atau melihat hasil pengumuman
saja. Baru aku selesai memarkirkan sepeda motorku. Tiba-tiba seseorang
mengejutkanku dan memberiku ucapan selamat. Tak kusangka Nana sudah berada
ditoko buku. Karena hari kerja Nana hanya 5 hari dan hari sabtu sudah libur
maka hari ini Nana meluangkan waktu untuk melihat pengumuman pemenang lomba
menulis cerpen. Dari awal Nana memang sangat antusisas sekali dengan lomba ini.
Nana langsung menarik tanganku untuk segera melihat pengumuman sambil berucap.
” Hebat kamu Dick, kamu jadi juara
satu. Benar kan
apa yang sudah kubilang. Pasti kamu menang. Terbukti kan ?” tampak antusias sekali Nana memberi
tahuku. Mungkin Nana lebih antusias daripada aku sendiri.
” Lihat Dick, namamu tertulis disini
sebagai juara satu. Hari ini sampai besuk pemenang disuruh menemui panitia
untuk mengambil hadiah. Berarti besuk cerpenmu akan dimuat dikoran terbitan
nasional. Wah keren dong.” Nana terus saja memujiku.
Tanpa
membuang waktu aku langsung menemui panitia yang berada dikantor toko buku itu.
Nana menemaiku sampai didalam kantor. Aku langsung disuruh masuk dan menemui
ketua panitia yang sekaligus manager di toko buku itu.
“ Selamat siang pak”
“ Selamat siang, ada yang bisa
dibantu?”
“ Begini pak, saya yang mnejadi juara
satu lomba menulis cerpen. Disitu dikatakan pemenag diharap menemui ketua
panitia untuk mengambil hadiah.”
“ O ya, selamat ya mas sudah menjadi
juara satu. Betul mas pemenang memang mengambil hadiahnya dengan saya. Sekalian
saya ingin memberi tahu mas, kalau pemenang diminta untuk mengirimkan naskah
cerpen 5 buah untuk diterbitkan di Koran selama satu bulan. Apabila nanti
mendapat repon yang bagus dari pembaca maka kami akan menghubungi mas Dicky
lagi untuk mengirimkan cerpen berikutnya.”
“ Untuk cerpen saya yang menang apakah
jadi dibukukan bersama sepuluh pemenang yang lain?”
“ Kalau itu pasti mas, jadi selain mas
mendapat uang hadiah juara satu, mas juga mendapat uang honor untuk penerbitan
dikoran. Dan untuk bukunya nanti mas akan mendapat royalty sesuai hasil
penjualanya.”
“ Begitu ya pak”
“ Ini mas amplop yang berisi uang
hadiah dan honor dari Koran yang akan diterbitkan besuk beserta piagam pemenang
menulis cerpen.”
“ Terima kasih pak, permisi”
“ sama-sama “
Aku
keluar dengan hati yang sangat senag sekali. Aku tak bisa menutupi kebahagiaan
itu. Aku keluar dari kantor dengan senyum gembira. Di luar Nana sedang
menungguku. Nana sudah bisa menangkap kegembiraanku.
“ Bagaimana Dick, ada informasi apalagi
selain menjadi juara?” Kami berbicara sambil melangkahkan kaki meninggallkan
kantor itu.
“ Akhirnya cerpenku akan dibukukan dan
aku disuruh mengirim cerpenku lagi untuk diterbitkan di Koran selama sebulan” Aku
berbicara dengan raut bahagia.
“ Oh…ya Na punya ide nggak dimana kita
merayakan kebahagiaan ini?” Nana diam tak menjawab. Di wajah Nana tampak sedang
memikirkan sesuatu. Mungkin Dia mengira kalau Aku tidak tahu Dia ulang tahun
hari.
“ Bagaiamana Na, ada ide nggak? Kok
malah diam saja.” Aku senang melihat Nana mengira aku tidak tahu kalau Dia
ulang tahun hari ini. ini berarti kejutanku nanti akan sangat sukses.
“ Aku sih ngikut saja kemana kita kan merayakan
keberhasilan ini.”
“ Ya udah deh kita jalan-jalan
dipinggir danau dekat kota .
Disana kan
ada tempat makan yang enak.”
Kami
memutuskan untuk pergi ke Danau pinggir kota. Karena ingin praktis, kami pergi
kesana naik bus kota .
Karena kebetulan bus kota
sekarang sudah nyaman dan sangat bersih dan tertib. Beda dengan 2 tahun kemarin
dimana bus kota
tidak nyaman karena para awaknya yang tidak tertib dan suka menurunkan
penumpang disembarang tempat sehingga bisa mengganggu pengguna jalan yang lain.
Kami segera bergegas menuju ke halte untuk pergi ke danau pinggir kota .
Disepanjang
perjalanan aku ngobrol dengan Nana mengenai rencana-rencanaku ke depan. Tak
kusinggung sama sekali mengenai hari ulang tahunnya. Aku melihat banyak sekali
orang yang ingin pergi ke danau pinggir kota .
Maklum hari ini adalah akhir minggu jadi banyak orang yang ingin meredakan
pikirannya sejenak untuk menikmati indahnya pemandangan danau yang asri. Aku
merasa banyak orang yang melihat ke arah kami berdua. Entah apa alasanya aku
kurang paham. Mungkin mereka kagum dengan kecantikan Nana. Memang wajah cantik
Nana begitu menonjol dan lain dengan wajah rata-rata orang disini. Selain
cantik, kulit Nana sangat putih bersih.
Ketika
bus berhenti banyak sekali penumpang yang masuk kedalam bus itu. Aku sangat
terkejut sekali ketika ada seseorang yang kukenal masuk kedalam bus. Orang itu
adalah Usy. Usy tak kalah kagetnya ketika melihatku bersama dengan gadis yang
cantik. Ketika lewat disampingku dia menyapaku. Tapi aku merasa ada raut
kekecewaan diwajahnya. Karena biasanaya dia sangat ramah sekali ketika
menyapaku, tapi kali ini dia hanya mengucapakan hai saja. Aku tidak terlalu
memikirkan kenapa Usy sedikit dingin ketika menyapaku. Aku kan tidak melakukan kesalahan apa-apa.
Mungkin dia kecewa karena aku bersama gadis lain. Tapi kan aku tidak memberi harapan padanya.
Justru dengan begini memudahkan jalanku untuk menjauh darinya. Sebenarnya aku
masih berharap bisa berteman baik dengannya. Namun bila dia yang menjauhiku aku
tidak bisa berbuat apa-apa.
Rupanya
Nana cukup cerdas menilai situasi yang aku alami. Nana menyadari benar ada
sesuatu yang tidak beres denganku ketika bertemu dengan Usy.lantas Dia
bertanya.
” Ada
apa sih Dic, kok kayaknya gadis itu tidak iklas saat menyapamu? Dia temanmu kan ?” tanya Nana
penasaran.
“ Iya dia temanku. Sebenarnya aku juga
bingung kenapa Dia begitu padaku.” Aku seolah-olah tidak tahu kenapa Usy
bersikap seperti itu kepadaku.
“ Kayaknya dia cemburu ketika melihatmu
bersamaku, jangan-jangan dia mantan kamu ya?” Nana mencoba menyimpulkan
keadaan.
“ Ah, bisa aja kamu Na. Aku kan tidak pernah
pacaran, jadi nggak mungkin dong aku punya mantan pacar.” Jawabku sedikit reseh.
“ Mungkin dia memang naksir kamu tapi
kamunya tidak perduli?”
Aku
mulai gerah mendengar pertanyaan Nana. Aku langsung mengalihkan pembicaraan.
“Ah..sudah lah, nggak perlu dibahas
lagi” melihat aku salah tingkah, Nana justru senyum dan menggodaku.”
“ O..jadi begitu, Dia penggemarmu ya?”
Memang Nana gadis yang cerdas. Jadi
nggak mungkin aku bisa menutupinya lagi. Namun aku tidak lagi menaggapinya. Aku
mencoba untuk membahas hal lain. Namun seringkali Nana justru meledekku.
Aku
menjadi tidak nyaman diadalam bus. Gerakku diperhatikan Ussy yang duduk di
belakang. Aku ingin cepat sampai tujuan. Aku berharap Ussy tidak ke Danau. Tak
berapa lama, bus berhenti di sebuah Maal. Kulihat Ussy turun disitu. Kali ini
Ussy keluar lewat pintu belakang. Dia keluar juga tidak pamit kepadaku. Aku
merasa bersalah karena aku tidak mau menyakiti perasaan Ussy. Aku sadar dia
memang suka kepadaku, namun apa yang harus aku lakukan. Karena memang aku
menganggap dia sebagai teman saja. Tidak lebih dari itu.
Sebenarnya
aku sendiri juga tidak memberi harapan apa-apa pada Ussy. Harusnya Ussy sudah
merasa ketika aku menolak beberapa kali ajakanya. Aku sendiri tidak berusaha
untuk tidak memberi harapan apa-apa kepada Ussy. Aku membiarkanya mengalir apa
adanya. Kalau memang ini, cara tebaik untuk membuat Ussy melupakan perasaanya
kepadaku. Maka aku sangat bersyukur dan tidak perlu merasa bersalah lagi. Itu
tekadku dalam hati.
Nana
sibuk memperhatikan pemandangan di luar bus. Setelah Ussy turun dari bus, aku
sudah kembali nyaman dan bia menikmati suasana di dalam bus. Sesekali kami ngobrol.
Di dalam bus penuh sesak jadi ngobrolpun tidak nyaman, karena terlalu bising
dengan keramaian orang dan bising suara-suara kendaraan lain.

0 Response to "Bagian 12 Pengumuman"
Post a Comment