Bagian 9 Berita dari Nana



       Dua minggu berlalu. Hubunganku sama Nana sudah semakin dekat. Kami sudah merasakan kecocokan. Nana sangat terbuka sekali denganku begitu juga sebaliknya. Kami tak ragu lagi untuk berbagi cerita. Aku kagum sekali dengan prinsip hidup yang dipegang teguh Nana. Aku jarang sekali bertemu dengan seorang wanita seperti Dia. Nana orangnya sangat mandiri sekali. Dia tidak mau bergantung kepada seseorang, selama dia mampu mengerjakan sendiri maka akan dia lakukan. 

Dia akan minta bantuan kepada orang lain jika memang dia sendiri tidak bisa mengerjakan. Sudah beberapa kali aku janjian untuk bertemu dengan Nana. Kami sering melakukan pertemuan ditempat seperti di bioskop, toko buku atau di perpustakaan kota. Nana tidak mau aku menghampirinya ditempat kerja atau dirumah. Bukan karena takut diketahui orang, namun Nana tidak mau merepotkanku katanya. Selain itu, karena memang Nana tidak ingin terlalu dekat dengan seorang laki-laki secara fisik. Nana tidak mau aku bonceng,.

 Aku sangat memahami dan menghargai sekali prinsipnya itu, walau aku sendiri juga tidak mengkin membocengkan Nana karena kita bukan makrom. Justru  itu malah membuatku semakin kagum dengannya. Kami biasanya menghabiskan waktu bersama untuk nonton film atau sekedar jalan-jalan di toko buku. Kami mempunyai minat dan kegemaran yang sama dalam hal seni. Dan kami sama sama berusahasa memperbaiki dalam urusan agama.
       Aku dan Nana mempunyai pemikiran yang hampir sama. Namun ada beberapa hal yang tidak sama dan kadang bertentanngan. Ketika kami berbeda pandangan, kami berusaha untuk menjelaskan menurut pandanngan kami masing-masing. Kami tidak saling memaksakan pandanngan satu sama lain. Kami saling menghargai perbedaan itu. Terkadang perbedaan antara kami bisa kami selesaikan ketika sudah melihat banyak fakta yang dijelaskan. Kami saling membuka diri satu sama lain.
       Kami sering bertukar fikiran dalam masalah agama. Nana sering menanyakan urusan agama kepadaku. Selama ini banyak pertanyaan dibenak Nana tentang masalah agama, namun Nana hanya mencari jawaban di buku-buku. Nana merasa belum menemukan seseorang yang bisa diajak bertukar pikiran dan menyampaikan semua unek-uneknya selama ini.

  Ketika Nana kenal aku, dan tahu aku lulusan dari kampus islam kemudian Nana sering bertanya kepadaku mengenai hokum agama seperti mengenai pakaian yang benar untuk seorang wanita dan batasan aurat seperti apa beserta dalil-dalil yang termuat di dalam Al-Quran dan Al-hadist. Aku berusaha menjawab pertanyaan Nana semampuku, ketika aku merasa belum yakin dengan jawabanku, ku bertanya kepada temanku yang dulu sempat belajar di Pondok.
       Hari ini aku mempunyai janji dengan Nana. Katanya Nana mempunyai berita bagus untukku. Aku sangat penasaran sekali dengan berita yang akan disampaikan Nana kepadaku. Karena Nana tidak mau menyampaikanya melalui telepon atau sms. Nana ingin menyampaikanya secara langsung kepadaku. Rencananya aku akan bertemu Nana jam empat sore di Mall, karena Nana ingin membeli buku dan mengajak nonton film yang sedang diputar di bioskop      

Seperti biasa aku selalu bersemangat ketika akan bertemu Nana. Kurapikan lagi penampilanku biar lebih percaya diri. Setelah jam menunjukan pukul tiga lebih dua puluh menit segera keberangkat dengan mengendarai motor. Udara hari ini sangat sejuk sekali, sesejuk hatiku. Dalam perjalanan yang menghabiskan waktu sekitar duapuluh menit tak terasa olehku. Aku sampai di Mall pukul empat kurang sedikit. Suasana mall sangat ramai sekali. Pandanganku menyisir ke arah orang-orang yang kulihat di sepanjang perjalan menuju gedung bioskop yang berada dilantai paling atas. Dengan pakaian yang beraneka macam tapi keren seolah mereka sedang mengikuti kontes mode busana. Tidak hanya bagi mereka yang masih muda tapi juga bagi orang tua yang berjiwa muda.
Aku mencoba untuk terlihat percaya diri. Aku ingat dengan kata-kata seorang yang menggeluti dunia busana yang pernah kudengar. Katanya modal utama kita adalah tampil percaya diri dengan apa yang kita pakai. Kalau sudah percaya diri dan nyaman maka pakaian yang kita pakai juga akan terlihat bagus. Prinsip itu yang selalu aku pegang jadi aku nyaman-nyaman saja dengan pakain yang aku pakai. Memang kuakui kalau pakainku tidak mengikuti mode yang baru tren. Bagi orang yang tinggal dikampung untuk selalu mengikuti tren agak susah. Biasanya tren kami ketinggalan satu langkah. Karena biasanya pakain yang baru tren dijual lebih mahal. Bahkan banyak juga yang tidak tertarik sama sekali dengan tren mode pakaian. Yang penting enak dipakai dan enak dilihat.
       Setelah sampai di depan pintu masuk bioskop aku langsung menhampiri Nana yang sudah menunggu. Rupanya Nana sampai lebiih dulu. Kulihat Nana tersenyum kearahku dan kulihat aura bahagia di wajahnya. Senyumnya membuat hatiku berdesir.
“Nggak biasanya kamu sampai duluan?”tanyaku menyindir. Memang biasanya selalu aku yang menunggu. Aku menunggu juga bukan karena Nana datang terlambat tapi memang aku yang selalu datang lebih awal jam yang sudah dijanjikan.
“Pingin aja aku mengalahkanmu untuk datang terlebih dulu. Masak kamu yang selalu datang lebih dulu.Pingin dong sekali-kali aku yang datang terlebih dulu” Jawabnya bangga karena sudah bisa mengalahkanku.
“Oh..ya kita mau nonton film apa?”
“film indonesia. Ini aku sudah beli tiketnya” jawabnya sambil menunjukkan dua tiket yang sudah di beli. “Sekarang kan giliranku yang beli tiket.”tambah Nana. Memang selama ini kami membeli tiket bioskop secara bergantian. Bukan sudah diadakan persetujan khusus terlebih dulu. Namun hal ini mengalir begitu saja. Atas pengertian kita masing-masing.

“Film Indonesia? Alhamdulillah kalau ada film Indonesia yang baru lagi, asal jangan film horror terus yang keluar.” Komentarku sedikit sinis. Bukannya tidak suka film horror. Hanya saja selama ini film horror yang dibuat banyak yang dibumbui dengan aksi cewek berbusana minim. Bahkan lebih banyak adegan cewek seksinya daripada horror itu sendiri.
|”Iya iya Dicky, makanya aku pengin nonton film ini. Soalanya film ini ceritanya bagus dan member inpirasi untuk meraih mimpi-mimpi kita. Lagian pemainnya favorit aku.” Jelas Nana sangat bangga saat menyebut bintang film pujaanya.
“Jadi sekarang kita mau apa? kan masih satu jam lagi filmnya diputar.” tanyaku
“kita jalan-jalan saja sambil ngobrol sekalian lihat-lihat barang siapa tahu kita menemukan suatu yang menarik untuk dibuat topik pembicaraan.”
Kami segera meninggalkan tempat itu dan menuju kebawah sambil jalan-jalan. Ku ingat dengan janji Nana yang akan memberikan kabar baik untukku.
“Na, katanya kemarin akan menyampaikan berita untukku. Kabar apa sih. Trus tentang apa?”
Kulihat Nana senang sekali melihatku penasaran. Kemudian dia menjawab.
“O…itu ya” Namun Nana sengaja tidak segera memberi tahuku.
“Berita apaan sih?” tanyaku semakin penasaran.
“Penasaran ya. Aduh kasihan?” jawabnya menggoda. Kemudian Nana mengeluarkan sesuatu dari dalam tas kecil yang Nana bawa. Kemudian menunjukkanya kepadaku.
“Ini lho Dick. Kemarin aku baca iklan Koran yang ada di kantorku. Kebetulan iklannya keluar hari minggu dan senin. Jadi aku tahu kamu pasti tidak memmbacanya. Kamu kan beli Koran cuman hari sabtu saja. Karena iklan ini menurutku sangat bagus untuk kamu. Jadi kemarin aku memfoto kopinya.” Kemudian Nana memmberikanya kepadaku sambil menjelaskan.

“Koran ini mengadakan lomba menulis cerpen dengan tema apa saja dalam rangka menyambut hari ulang tahun Koran ini. Karena kamu suka menulis dan sudah punya banyak sekali cerpen, nggak ada salahnya kalau kamu mengikutinya. Lagian kesempatan ini bisa menjadi langkah awalmu untuk menjadi seorang penulis.” Aku terus mendengarkan apa yang diucapkan Nana sambil membaca pengumuman yang sudah dibawa Nana.

“Di situ kan juga diumumkan kalau pemenang akan mendapat uang. Namun yang lebih penting lagi cerpen pemenangnya akan dimuat dikoran pada hari minggu. Kalau kamu menang berarti tulisanmu akan dibaca banyak orang. Dari situ peluang kamu akan terbuka.” Aku mengangguk-anggukan kepalaku tanda setuju dengan apa yang telah diungkapkan Nana.
“tapi Na, aku belum yakin dengan cerpen buatanku. Soalnya aku buat cerpen kan cuma iseng untuk menghabiskan waktuku”
Mendengar komentarku yang terdengar pesimis, Nana heran.
“masak kamu tidak percaya diri begitu Dick. Aku kan pernah baca sebuah cerpen buatanmu” jawab Nana.
“kamu pernah baca cerpen tulisanku, kapan?? Tanya Dicky kaget
“maaf ya Dick kalau dulu aku tidak minta ijin kepadamu. Dulu waktu aku pinjam flashdiskmu untuk mengcopy film yang kamu download. Pas buka flashdismu, kulihat ada nama folder bertuliskan judul cerpenmu yang unik maka aku penasaran untuk buka folder itu. Dan akupun membaca cerpenmu. Tapi tenang Dick, aku tidak mengcopynya. Aku tidak berani jika tidak ijin kamu dulu. Tapi bagus kok. Swer….” Jelas Nana sambil merayuku agar aku memaafkannya.
“ah, dasar kamu na.”
“sory banget ya Dick?” tidak apa-apa kan. Jangan marah dong.
“yah, kalau sudah kejadian bagaimana lagi, terpaksa ku maafkan”jawabku menggodanya
“masak terpaksa begitu, ah nggak iklash banget, yag iklah dong Dick”
“iklash..iklash, apa sih yang nggak buat kamu Na”
Mendengar ucapaanku Nana terseyum lebar.

       Kami berdua asyik sekali berjalan-jalan untuk menhabiskan waktu sambil bertukar pikiran. Daripada hanya duduk sambil menunggu film akan diputar. Dengan semakin banyak aku ngobrol dengannya semakin aku tahu tentangnya dan semakin mengenal pribadinya. Kulihat Nana tampak gembira dan tentu sangat cantik sekali. Sesekali kuarahkan pandanganku ke wajah Nana.Aku merasa bangga bisa berjalan-jalan dan menghabiskan waktu bersama Nana.
Disepanjang perjalanan aku merasa orang-orang melihat Nana. Banyak laki-laki yang terpana bila melihat Nana. Aku yakin orang-orang mengira kami sudah berpacaran dan para laki-laki pasti iri kepadaku. Tanpa terasa waktu berlalu begitu cepat. Kurang tigapuluh menit lagi film akan diputar. Kami segera menuju gedung bioskop. Kulihat hari ini banyak sekali yang menonton film. Sejak tahun kemarin memang film Indonesia sudah mempunyai banyak sekali penggemarnya. Bahkan ada film yang memecahkan rekor jumlah penonton sampai empat ribu penonton. Aku turut bangga dengan kemajuan film Indonesia. Apalagi sekarang sudah banyak tema yang disuguhkan sehingga para penonton pun mempunyai banyak pilihan.

       Kami segera masuk ke gedung dan duduk dikursi sesuai yang tertera di tiket sambil menunggu waktu film diputar kami saling bercerita mengenai diri kami masing-masing dan keluarga kami. Nana bercerita kalau Dia tinggal bersama kedua orang tuanya. Nana anak tunggal,tapi bukan berarti selalu dimanja. Ayah Nana berasal dari kampung yang untuk menempuhnya memerlukan waktu setengah hari kalu melalui jalan darat. Nana punya kakek yang sangat menyaynginya. Dulu waktu masih kecil Naana diasuh kakek dan Neneknya dikampung. Karena Bapak dan Ibunya waktu itu baru merantau ke kota dan belum punya tempat tinggal jadi harus ngontrak rumah yang kecil. Setelah Bapak Nana mampu meenyewa rumah yang lebih besar Nana dibaawa ke kota. Nana tinggal di kampung bersama Kakek dan neneknya selama 3th. Nana juga bercerita kalau Dia sangat menyukai musik baik musik Indonesia maupun dari luar negeri. Nana menyukai semua jenis musik, hanya saja yang menjadi favoritnya musik pop.

Obrolan kami berhenti dengan sendirinya ketika film sudah mulai diputar. Kami berdua serius menikmati film itu. Kami sesekali mengomentari mengenai akting para pemainnya yang kurang pas. Tak kusangka ternyata Nana menikmati sebuah film benar-benar detail/ulai dari segi cerita, actor, kuailtas suara dan sinematografinya.  Menurutku jarang sekali aku mengenal seorang wanita yang bisa menikmati sebuah film secara menyeluruh. Aku semakin kagum dengan dirinya.Aku benar-benar sangat nyaman sekali nonton bersama Nana. Kami bisa saling bertukar pikiran mengenai sebuah karya seni khususnya film. Nana bisa diajak ngobrol mengenai hal yang berhubungan dengan seni, bukan itu saja beita berita tetang ekonomi dan politikpun bisa nyambung. Tak jarang juga membahas masalah agama.
Aku keluar dari gedung film dengan wajah optimis. Filmnya sangat mengispirasi dan memotivasi untuk meraih mimpi. Kita harus meraih mimpi kita, karena setiap manusia mempunya mimpi. Berawal dari mimpi dan kita harus berusaha mewujudkan mimpi-mimpi itu. Walau tidak mudah namun harus yakin dan optimis kalau kita bisa. Yang penting kita mempunyai tekad yang kuat.
Aku kembali teringat mimpiku yang selama ini hanya kusimpan dalam benakku saja. Aku ingin meraih mimpiku. Aku ingin menjadi penulis. Aku ingin bermanfaat kepada orang lain melalui tulisan. Pemikiranku akn kutuangkan dalam sebuah tulisan. Walau ku tidak mampu mengubah dunia, paling tidak aku memberi konstribusi walau hanya kecil.

0 Response to "Bagian 9 Berita dari Nana"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel