Bagian 13-- Tanda Cinta
Perjalanan
menuju danau menjadi perjalanan yang indah dan penuh kenangan. Kami
menikmatinya sambil berbicara banyak hal. Walau kami sangat akrab tapi kami
tetap menjaga jarak secara fisik. Namun aku berharap hati kami sudah menyatu.
Mungkin aku terlalu banyak berharap.
Tiba-tiba bus berhenti ditempat yang
tidak semestinya. Di depan kulihat banyak orang sedang berkerumun. Kebetulan
aku duduk disamping sebelah belakang dari sopir jadi aku bisa melihat dengan
jelas yang terjadi di depan. Kata Pak sopir pasti ada kecelakaan. Kemudian Pak
sopir bercerita kalau memang sudah sering sekali terjadi kecelakaan dijalan
depan, soalnya ada pasar tepat di seberang jalan. Banyak orang yang menyeberang
tanpa memperhatikan kanan-kirinya. Sebenarnya pemerintah sudah membangun
jembatann penyeberangan. Namun para pengunjung pasar jarang yang memanfaatkannya.
Mereka beralasan terlalu lama dan capek harus melewati banyak tangga.”Beginilah
masyarakat kita, mereka susah diatur dan semaunya sendiri” ucap pak sopir yang
sedikit kesal dengan perilaku masyarakat yang belum mempunyai kesadaran yang
tinggi dalam memanfaatkan fasilitas umum. Aku hanya bisa mendengarkan keluhan
pak sopir. Aku memahami sekali karena memang perilaku mayarakat yang suka
menyeberang tidak pada tempatnya bisa mengganggu dan membikin kemacetan apalagi
kalau sampai terjadi kecelakaan seperti ini.
Kami
sudah sampai di tempat tujuan kami. Kami turun bersama penumpang yang lain.
Banyak penumpang yang turun bersama kami. Maklum, hari sabtu banyak yang
meluangkan waktunya untuk refreshing. Terutama bagi karyawan perusahaan, karena
sebagian hari ini masuk setengah hari. Jadi ketika pulang, meluangkan waktu
sebentar untuk menyegarkan pikiran mereka.
Tiba-tiba
telponku berbunyi. Aku buka HP ku, ada nomer yang belum dikenal menghubungiku.
Lalu mnjaab telepon yang masuk.
“assalamualaikum”
“wa’alaikumusallam” balasku
“ini dengan mas Dicky ya”
“betuk pak”
“begini mas, kami dari penerbit yang
berencana akan menerbitkan kumpulan cerpen dari finalis lomba yag di umumkan
tadi siang.
“iya”
“Begini mas, kebetulan kami sedang
mencari bakat baru yang kreatif yang mampu menulis novel. Kami mendapat
rekomendasi dari panitia, katanya cerpen mas Dicky sangat bagus. Temanya juga
inovatif. Oleh karena itu, kami dari penerbit meminta Mas dicky untuk menulis
Novel.”
“hemz, begitu”
“mas Dicky bersedia atau tidak?”
“wah, sangat bersedia pak. Kebetulan
saya juga ingin sekali menulis novel pak”
“oke, kalau mas Dicky bersedia saya
berharap maas Dicky secepatnya membuat Novel dan dikirim ke kami”
“iya, InsyaAlloh saya segera menulis
pak”
“oke, saya tunggu mas”
“terima kasih pak”
“ya, sama-sama. Wasslamualaikum”
“waalaikumusalam”
Nana
yang melihatku serius menerima telepon, penasaran ingin tahu. Sebelum Nana
mengutarakan keingintahuanya. Aku sudah terlebih dulu mengatakannya.
“Alhamdulillah Na, aku diminta penerbit
untuk membuat sebuah novel”
“oh ya”
“iyalah.heheeh”
“wah hebat kamu Dick, aku beri kamu 2
jempol” puji Nana
“mana 2 jempol kamu. Mau aku ambil,
katanya kau berikan kepadaku” jawabku bercanda.
“yah, kalau kamu tega ya potong saja “
jawab Nana
“mana akan aku potong” balasku sambil
tersenyum
Mendengar
ucapanku. Nana berlari ke arah danau. Aku mengejarnya. Nana berhenti di
pinggiir danau sambil terengah-engah nafasnya. Akupun berhenti, tapi ku sudah
terbiasa lari pagi jadi tidak ada masalah dengan pernafasanaku.
“aduh, capek banget Dick”
“ah, payah. Cuma segitu aja sudah
capek. Lagian siapa yang suruh lari-lari”
“yah, kamu sih”
“kok aku?”
“lha kamu mau memotong jempolku”
“hehehe. Lha kamu yang menawariku juga”
.
Kami langsung berjalan-jalan disepanjang danau. Mesti matahari masih tinggi
namun udara sangat sejuk ketika angin berhembus sepoi-sepoi menerpa tubuh kami.
Banyak orang yang menjernihkan pikirannya di pinggir danau sambil menikmati
pemandangan alam yang masih asri. Apalagi hari sabtu seperti ini. Kulihat
banyak keluraga yang mengunjungi danau ini. Mereka bercengkeraman sambil
bermain air. Banyak anak kecil yang berkejar-kejaran untuk berebut sebuah bola.
Kalau sedang enggan bermain air mereka bisa naik perahu yang sudah disediakan.
Melihat kebahagiaan keluarga mereka membuatku berhasrat untuk memiliki sebuah
keluarga yang sebahagia mereka.
Aku dan Nana
hanya berjalan menyusuri pantai sambil mengobrol hal-hal yang sedang kita lihat
di depan mata. Banyak hal kami bicarakan. Dengan udara yang segar terasa
semuanya menyenangkan dan ingin sekali aku mandi di danau itu. Setelah hampir
satu jam kami ngobrol sambil berjalan. Kami berteduh dibawah pohon dan Nana mengambil
makanan dan minuman ringan yang dibawanya dari Rumah. Kamai makan dan minum
sambil menikmati indahnya danau.
Dengan
suasana yang sejuk dan tenang seperti ini memberiku kesempatan untuk berbicara
dari hati ke hati dengan Nana. Aku merasa momen seperti ini adalah saat yang
aku tunggu. Aku meminta Nana untuk memejamkan matanya sebentar saja. Kemudian
aku mengeluarkan bingkisan yang sudah aku siapkan sebelumnya untuk kuberikan
kepada Nana sebagai hadiah ulang tahun sekaligus sebagai tanda cinta dariku. Ketika
matanya dibuka kuucapkan selamat ulang tahun. Kumelihat Nana sedikit kaget
namun sangat bahagia sekali dan air matanyapun menetes. Nana sangat terharu
karena Dia tidak menyangka kalau aku akan memberikan kejutan yang seindah ini
ditepi danau. Ketika Nana masih mengusap air matanya aku bertanya kepadanya
dengan segenap perasaanku.
“ Nana, bolehkah aku mengatakan sesuatu kepadamu” aku
mengucapkan itu dengan sangat lirih.
“ Tentu boleh sekali” Nana menatap tajam ke arah mataku.
Hatiku semakin tergetar.
“ Na, ketika aku melihatmu pertama kali waktu saat
wawancara kerja. Aku merasakan ada sesuatu yang berbeda di dirimu yang jarang
dimiliki gadis lainnya. Dan ketika aku mulai mengenalmu, dawai-dawai cinta
dihatiku bergetar dan mengalunkan nada-nada cinta yang indah. Semakin aku
mengenalmu, perasaan itu semakin nyata terasa. Ruang rindu ini sudah lama
kosong, namun ketika aku mengenalmu ruangan itu kini terisi dan membuatku
selalu merindukanmu.”
“Na, hari ini aku ingin mengatakan kalau aku mencintaimu
dan ingin terus mencintaimu. Sungguh aku tak kuasa untuk menolaknya ketika
cinta itu datang, bahkan aku selalu berharap rasa itu tidak akan pernah pergi
dan menghilang. Aku sangat bersyukur panah cinta menusuk jantungku. Sejak saat
itu, separuh jiwaku menjadi milikmu dan kini aku meminta separuh jiwaku itu
lagi. Karena engkaulah separuh jiwaku itu. Namun Aku tidak memaksamu untuk memberinya
kepadaku. Yang aku mau, kamu memberikanya setulus hatimu yang paling dalam.”
Nana hanya terpaku ketika aku mengucapkan kata cinta
untuknya. Aku masih melnjutkan perkataanku. Memang seribi katapun masih belum
cukup untuk menggambarkan semua yang aku rasakan.
“Na, tujuanku mengungkapkan perasaanku ini sbenarnya
hanya ingin kamu tahu, aku tidak meminta kamu untuk menjadi pacarku. Aku ingin
tahu juga perasaanmu, sehingga kita bisa menentukan langkah selanjutnya. Jika
memang kamu jodohku, aku ingin kamu menjadi istriku. Jikalau kita sudah siap
semuanya.”
“ Dic, jujur aku bahagia sekali saat ini. kado ini akan
menjadi barang yang sangat berharga dalam hidupku. Apalagi mendengar kata-kata
Indahmu, jujur baru kali ini aku mendengar kata-kata seindah itu. Aku sangat
tersanjung sekali mendengar kata-katamu itu. Namun seribu maaf harus kuucapkan,
sungguh aku belum siap mendengar kata cinta ini. bolehkan aku untuk
memikirkanya dan akan aku beri jawaban nanti malam lewat telepon. Tapi
yakinilah Dic, hari ini adalah menjadi hari paling bahagia dalam hidupku”
“ Terima kasih juga kamu sudah bersedia menemaniku
disini, aku akan selalu sabar menunggu jawabanmu. Aku paham sekali kalau
perasaan ini tidak bisa untuk main-main.”
Tiba-tiba Nana mengangkat kado pemberianku dan berkata.
“ Dic, boleh kan
aku membuka kado ini.” kulihat Nana ingin
sekali membuka kado yang telah aku berikan.
“ Ya boleh dong, kan
aku berikan khusus buat kamu” Suasana hening sudah mulai cair, kami meredakan
dulu untuk masalah cinta. Sekarang yang ingin kami lakukan adalah merayakan
ulang tahun Nana sekaligus merayakan kemenaganku. Aku mengajak Nana untuk lebih
mendekat kepinggir pantai.
Kulihat
senyum bahagia Nana ketika melihat isi kado yang kuberikan. Aku suka
melihatnya, berarti pilihanku tidak salah. Sesaat kemudian Nana mengatakan.
“ kado ini sangat berarti buatku, smoga kedepan aku akan
mengenakan jilbab setiap hari” ucap Nana kepadaku.
“Amin, aku yakin kamu akan semakin cantik bila kamu
memakai jilbab. aku akan senang sekali bila melihat jilbab itu menutupi rambut
indahmu itu.”
Senyum manis merekah dari mulut Nana.
Nana melihat ada secarik kertas ada di dalam bungkusan kado dariku, memang
sengaja aku menyertakan ucapan selamat ulang tahun. Namun di balik tulisan itu,
aku juga menyertakan sebuah dalil tentang pakaian wanita dan batas-batas aurat
wanita. Aku ingin Nana selalu teringat dengan tulisanku itu. Aku berharap Nana
segera mengenakan jilbab.
“oiya Na, kertas itu tolong disimpan ya’ semoga
bermanfaat buatmu” pintaku kepada Nana
Nana mengangguk sambil membuka sebentar, skemudian
melipatnya kembali dan memasukannya kedalam kotak seperti sebelumnya..
“insyaAlloh aku akan menjaga dan semoga aku bisa segera
mempraktekan dalam kehidupan sehari-hari.” Jawaban Nana terdengar yakin dan
tegas, seakan menegaskan kalau dia ingin segera memakai jilbab.
“Dick, bolehkah aku bertanya?”
“kenapa pertanyaanya begitu Na, ya tentu saja boleh
dong”
“kenapa kamu memberi kado sebuah jilbab?”
“apa salah Na kalau aku memberkan hadiah kepadmu sebuah
jilbab?”
“oh, bukan begitu Dick, aku hanya ingin tahu alasanmu
saja”
“oke kalau begitu, dari awal aku bertmu denagn kamu. Aku
sudah membayangkan seandainya kamu memakai jilbab, pasti akan lebih sempurna.
Karena sejauh aku melihatmu, mengenal pribadimu. Aku sangat salut kepadamu.
Kamu itu, orangnya baik, tulus, tidak pernah berkata tidak baik, sopan kepada
orang dan pakaianmu juga sangat sopan. Kamu tidak pernah memakai pakaian ketat,
semua pakaian yang kamu pakai hampir berlengan panjang semua. Dan sering sekali
kamu memakai rock panjang. Jadi akan lebih sempurna jika kamu menutupi auratmu
yang masih terlihat dengan jilbab. karena menurut aku hatimu sudah kamu
jilbabi. Kamu juga rajin beribadah. Bahkan tidak pernah meninggalkan sholat
wajibmu, kecuali kamu memang berhalangan. Itu alasanku Na. aku yakin kamu sudah
tahu mengenai syariat pakaian wanita dan batasan aurat wanita. Aku bukan
menyindirmu Na. jujur, aku berharap kamu menjadi lebih baik. Aku tidak
bermaksud apa-apa selain hanya ingin kamu lebih baik. Paling tidak hanya itu
yang bisa aku lakukan untukmu. Hanya bisa mengingatkanmu saja. Selebihnya, kamu
saendiri yang memutuskan. Karena ini hidupmu”
Nana
mendengar ucapanku dengan menatapku. Kumelihat ada setetes air mata perlahan
membasahi pipinya. Aku tak kuasa melihatnya menangis. Kulihat Nana secapat
kilat mengusap air matanya yang mengalir. Sambil mengusap Nana berkata
“terima kasih Dick” ucapnya llrih.kemudian melanjutkan
perkataanya
“kamu telah menyadarkanku kembali, jujur aku sudah
berniat untuk memakai jilbab. tapi rencana itu selalu tidak ku laksanakan.
Masih saja ada ganjalan dalam hatiku. insyaAlloh aku akn segera memantapkan
hatiku. Sekali lagi terima kasih telah mengingatkanku.”
Aku melihat
terdiam dan berfikir. Suasana masih hening. Aku merasa sudah cukup
keheningannya. Aku ingin merubah suasana. Karena tujuan ke pantai selain untuk
mentraktir makan Nana sebagai rasa syukur atas kemenanganku, kami juga mau
menyegarkan pikiran dan sejenak melepaskan penat yang ada. Aku menggoda Nana
dan mengejek Dia kalau dia tampak jelek dan sepeti anak kecil waktu menagis.
Nana tidak
terpancing dengan godaanku itu, dia malah mendekatiku sambil mengambil pasir pura-pura
mau mengatakan sesuatu tapi tiba-tiba melemparnya ke arahku. Aku langsung
berlari menghindar. Aku balik mengambil pasir untuk kulemparkan ke baju Nana.
Nanapun juga berlari. Karena lariku lebih kencang maka tak sulit untukku untuk
mengejar Nana. Kami saling mengotori baju lalu membersihkanya dengan air danau.
Kami tertawa lepas hingga tak menghiraukan kalau baju kami itu sudah basah
semua. Kami terhanyut dalam suasana bahagia.
Karena sudah
lelah, kami sepakat untutk mengakhiri kejar-kejaran seperti anak kecil. Kami
sadar tidak membawa pakaian ganti jadi kami membiarkanya begitu saja sampai
pakaian kami kering sendiri. Matahari yang cukup terik cukup bisa membantu
untuk mempercepat mengeringkan pakaian kami. Meski tidak terlalu nyaman namun
kami terus melanjutkan aktivitas. Kami sepakat untuk makan di sekitar danau.
Hari ini
memberi kesan yang indah dalam hidupku. Selain aku bisa merayakan atas
kemenaganku namun juga bisa sekalian merayakan ulang tahun Nana di Danau
berdua. Karena menjadi juara juara satu menulis cerpen merupakan langkah awalku
untuk meraih impian dalam hidupku sedangkan merayakannya bersama Nana adalah
langkah awalku untuk memiliki gadis impianku. Apalagi bersamaan dengan hari
ulang tahun Nana. Hari ini benar-benar momen yang sangat special.
Setelah
menemukan tempat makan yang pas dan sesuai dengan menu yang diinginkan kami
berhenti. Entah kenapa rasa lapar yang biasa muncul kini perutku tidak
mengeluarkan tanda-tanda itu. Namun ini adalah hari indah dan kesempatan yang jarang
terjadi maka tak kubiarkan kesempatan ini terbuang. Nana memesan nasi goreng
dan es kelapa muda. Entah kebetulan atau tidak pesanan Nana sesuai dengan
favorit makananku. Maka akupu memesan makanan yang sama dengan yang dipesan
Nana. Nana hanya bisa tersenyum ketika aku memesan makanan yang sama dengan
pesanannya. Entah apa yang dipikirkan Nana, biarkan saja Nana mengira kalau aku
hanya ngikutin Nana aja.
Jam sudah
menunjukkan pukul 15.10 WIB. Kami sudah selesai makan dan segera untuk ke halte
untuk pulang. Kami merasa lelah setelah hampir seharian melakukan aktivitas.
Segera kami menuju halte dan membeli tiket untuk ketempat dimana kami berangkat
tadi karena motor kami diparkir disana. Tanpa harus menunggu lama bus yang kami
tunggu akhirnya datang juga.

0 Response to "Bagian 13-- Tanda Cinta"
Post a Comment